• Prahara PBNU Berakhir, Menang Tanpa Pemenang

    Tarik nafas dulu, lalu seruput Koptagul. Akhirnya, prahara yang mengguncang PBNU berbulan-bulan berakhir islah alias damai. Kedua belah pihak sepakat gelar MLB bersama. Ponpes Lirboyo berperan besar mendamaikan dua kubu tersebut. Simak narasinya, wak!

    Jika konflik PBNU kemarin adalah khilafiyah, maka Lirboyo Kamis itu adalah kitab ushul fikih yang dibuka tepat di halaman maqashid. Di sana, pada 25 Desember 2025, para nahdliyin seperti melihat langsung bagaimana “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih” turun dari kitab kuning dan menjelma kursi panjang, meja kayu, dan dua tokoh besar yang akhirnya duduk tanpa saling menyela. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bertemu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, diprakarsai para Masyayikh dan Mustasyar. Bukan adegan duel, tapi istishlah berjamaah. Para santri mungkin tak bersorak, tapi para nahdliyin di luar sana langsung sujud syukur, karena ini bukan sekadar damai, ini rujuknya nalar jam’iyah.

    Berbulan-bulan sebelumnya, PBNU terasa seperti perdebatan ushul fikih yang lupa kesimpulan. Pemberhentian Ketua Umum oleh Rais Aam melalui forum yang dinilai tidak sah dan tak sesuai AD/ART NU membuat istidlal berlarut-larut. Satu pihak merasa dalilnya qath’i, pihak lain bersumpah itu masih zhanni. Eskalasi konflik naik, silaturahim menipis, dan jam’iyah nyaris terjebak dalam qiyas yang terlalu jauh dari ‘illat maslahat. Maka para sesepuh turun tangan, seperti mujtahid senior yang mengetuk meja dan berkata: cukup, kita kembali ke kaidah.

    Musyawarah Kubro di Lirboyo adalah majelis tarjih versi NU. Di sana hadir para Masyayikh, para kiai sepuh, dan Mustasyar PBNU. KH Ma’ruf Amin, Mustasyar PBNU sekaligus Wakil Presiden RI 2019–2024, ikut menegaskan bobot moral pertemuan itu. Mereka tak membawa palu hakim, melainkan neraca istihsan. Dalam siaran pers-nya, tergambar jelas dua pucuk pimpinan PBNU bertemu dalam satu meja, sengketa berbulan-bulan diakhiri, dan satu kesepakatan besar disepakati, Muktamar ke-35 NU diselenggarakan bersama.
    Gus Yahya menyebut peristiwa itu menyejukkan. Kalimatnya sederhana, tapi bagi nahdliyin terdengar seperti kesimpulan bahtsul masail. Solusi terbaik bagi jam’iyah adalah Muktamar bersama. Ini bukan jalan pintas, ini jalan lurus. Negosiasi berjalan alot, perdebatan keras, tapi tetap dalam ukhuwah nahdliyah. Seperti khilaf fiqhiyah klasik, nada boleh tinggi, adab tak boleh jatuh.

    Kesepakatan itu menegaskan kepemimpinan PBNU tetap berjalan dengan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum hingga Muktamar. Panitia Bersama segera dibentuk untuk menyiapkan forum tertinggi jam’iyah itu. Gus Yahya menegaskan Muktamar akan disukseskan secara damai dan bermartabat, seolah menutup pembahasan dengan kaidah sadd dzari’ah, menutup pintu konflik, membuka pintu maslahat.

    Namun NU terlalu jujur untuk berdandan. Gus Ulil Abshar Abdalla mengingatkan konflik belum sepenuhnya berakhir. Islah ini lahir dari rapat konsultasi Syuriyah PBNU yang dihadiri Rais Aam beserta jajaran Syuriyah, Ketua Umum beserta Tanfidziyah, dan para Mustasyar. Inisiatif musyawarah telah digelar di Ploso, Tebuireng, hingga puncaknya Musyawarah Kubro di Lirboyo pada 1 Rajab 1447 H atau 21 Desember 2025, dihadiri PW dan PC NU se-Indonesia. Prosesnya panjang, karena luka organisasi tak bisa disembuhkan dengan fatwa kilat.

    Lalu beredarlah pesan berantai di grup WA nahdliyin, seperti ijma’ digital. Tabayun telah terjadi, Ketum dan Rais Aam sepakat Muktamar bersama yang legitimate, waktu dan teknis ditentukan bersama melalui kepanitiaan bersama. Di titik ini, para nahdliyin tahu, inilah fiqh islah. Bukan siapa menang siapa kalah, tapi bagaimana jam’iyah tetap hidup. Maka sujud syukur pun terasa sah, karena maslahat telah ditemukan, dan NU kembali pulang ke ushulnya sendiri.

    Foto Ai hanya ilustrasi

    Rosadi Jamani
    Ketua Satupena Kalbar
    #camanewak
    #jurnalismeyangmenyapa
    #JYM
    Prahara PBNU Berakhir, Menang Tanpa Pemenang Tarik nafas dulu, lalu seruput Koptagul. Akhirnya, prahara yang mengguncang PBNU berbulan-bulan berakhir islah alias damai. Kedua belah pihak sepakat gelar MLB bersama. Ponpes Lirboyo berperan besar mendamaikan dua kubu tersebut. Simak narasinya, wak! Jika konflik PBNU kemarin adalah khilafiyah, maka Lirboyo Kamis itu adalah kitab ushul fikih yang dibuka tepat di halaman maqashid. Di sana, pada 25 Desember 2025, para nahdliyin seperti melihat langsung bagaimana “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih” turun dari kitab kuning dan menjelma kursi panjang, meja kayu, dan dua tokoh besar yang akhirnya duduk tanpa saling menyela. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bertemu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, diprakarsai para Masyayikh dan Mustasyar. Bukan adegan duel, tapi istishlah berjamaah. Para santri mungkin tak bersorak, tapi para nahdliyin di luar sana langsung sujud syukur, karena ini bukan sekadar damai, ini rujuknya nalar jam’iyah. Berbulan-bulan sebelumnya, PBNU terasa seperti perdebatan ushul fikih yang lupa kesimpulan. Pemberhentian Ketua Umum oleh Rais Aam melalui forum yang dinilai tidak sah dan tak sesuai AD/ART NU membuat istidlal berlarut-larut. Satu pihak merasa dalilnya qath’i, pihak lain bersumpah itu masih zhanni. Eskalasi konflik naik, silaturahim menipis, dan jam’iyah nyaris terjebak dalam qiyas yang terlalu jauh dari ‘illat maslahat. Maka para sesepuh turun tangan, seperti mujtahid senior yang mengetuk meja dan berkata: cukup, kita kembali ke kaidah. Musyawarah Kubro di Lirboyo adalah majelis tarjih versi NU. Di sana hadir para Masyayikh, para kiai sepuh, dan Mustasyar PBNU. KH Ma’ruf Amin, Mustasyar PBNU sekaligus Wakil Presiden RI 2019–2024, ikut menegaskan bobot moral pertemuan itu. Mereka tak membawa palu hakim, melainkan neraca istihsan. Dalam siaran pers-nya, tergambar jelas dua pucuk pimpinan PBNU bertemu dalam satu meja, sengketa berbulan-bulan diakhiri, dan satu kesepakatan besar disepakati, Muktamar ke-35 NU diselenggarakan bersama. Gus Yahya menyebut peristiwa itu menyejukkan. Kalimatnya sederhana, tapi bagi nahdliyin terdengar seperti kesimpulan bahtsul masail. Solusi terbaik bagi jam’iyah adalah Muktamar bersama. Ini bukan jalan pintas, ini jalan lurus. Negosiasi berjalan alot, perdebatan keras, tapi tetap dalam ukhuwah nahdliyah. Seperti khilaf fiqhiyah klasik, nada boleh tinggi, adab tak boleh jatuh. Kesepakatan itu menegaskan kepemimpinan PBNU tetap berjalan dengan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum hingga Muktamar. Panitia Bersama segera dibentuk untuk menyiapkan forum tertinggi jam’iyah itu. Gus Yahya menegaskan Muktamar akan disukseskan secara damai dan bermartabat, seolah menutup pembahasan dengan kaidah sadd dzari’ah, menutup pintu konflik, membuka pintu maslahat. Namun NU terlalu jujur untuk berdandan. Gus Ulil Abshar Abdalla mengingatkan konflik belum sepenuhnya berakhir. Islah ini lahir dari rapat konsultasi Syuriyah PBNU yang dihadiri Rais Aam beserta jajaran Syuriyah, Ketua Umum beserta Tanfidziyah, dan para Mustasyar. Inisiatif musyawarah telah digelar di Ploso, Tebuireng, hingga puncaknya Musyawarah Kubro di Lirboyo pada 1 Rajab 1447 H atau 21 Desember 2025, dihadiri PW dan PC NU se-Indonesia. Prosesnya panjang, karena luka organisasi tak bisa disembuhkan dengan fatwa kilat. Lalu beredarlah pesan berantai di grup WA nahdliyin, seperti ijma’ digital. Tabayun telah terjadi, Ketum dan Rais Aam sepakat Muktamar bersama yang legitimate, waktu dan teknis ditentukan bersama melalui kepanitiaan bersama. Di titik ini, para nahdliyin tahu, inilah fiqh islah. Bukan siapa menang siapa kalah, tapi bagaimana jam’iyah tetap hidup. Maka sujud syukur pun terasa sah, karena maslahat telah ditemukan, dan NU kembali pulang ke ushulnya sendiri. Foto Ai hanya ilustrasi Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM
    0 Comments ·0 Shares ·3K Views ·0 Reviews
  • Upah Naik Tipis, Hidup Ditekan Habis

    Di penghujung 2025, tepat 26 Desember pemerintah sibuk menghitung nasib buruh pakai kalkulator yang baterainya kayak mau habis. Lahirlah UMP 2026. Katanya naik rata-rata nasional 6–7 persen. Kedengarannya manis.

    Tapi rasanya? Lebih mirip gulali tapi aura rasanya mirip nano-nano. Simak narasinya dengan aura Koptagul merasuk ke dada, wak!

    Kita mulai dari singgasana tertinggi. DKI Jakarta masih jadi bangsawan upah nasional: UMP Rp5.729.876, naik Rp333.116 dari tahun lalu. Kenaikan yang secara teori terlihat gagah, tapi secara praktik cuma cukup buat langganan kopi susu kekinian sebulan sambil tetap mikir, “besok makan apa?”.

    Di belakangnya, Papua Selatan Rp4.508.850, Papua Rp4.436.283, dan Papua Tengah yang naiknya paling absurd, Rp10.000 saja. Serius pace, itu bukan kenaikan, itu kembalian parkir.

    Deretan selanjutnya masih lumayan bikin kepala mengangguk pelan sambil senyum pahit. Bangka Belitung Rp4.035.000, Sulawesi Utara Rp4.002.630, Sumatera Selatan Rp3.942.963, Sulawesi Selatan Rp3.921.088, Kepulauan Riau Rp3.879.520, Papua Barat Rp3.840.947. Riau Rp3.780.495. Kalimantan Timur Rp3.759.313. Kalimantan Utara Rp3.770.000. Papua Barat Daya Rp3.766.000. Semua naik, iya. Tapi naiknya seperti tangga darurat, sempit, curam, dan bikin ngos-ngosan.

    Kalimantan Selatan paling dramatis. Naik Rp403.326 jadi Rp3.686.138. Mungkin malam itu yang ngitung lagi mellow, pian.

    Masuk zona “realistis tapi menyayat”. Kalimantan Tengah Rp3.686.138, Maluku Utara Rp3.552.840, Jambi Rp3.471.497, Gorontalo Rp3.405.144, Maluku Rp3.334.499, Sulawesi Barat Rp3.315.935, Sulawesi Tenggara Rp3.306.496. Bali? Cuma Rp3.207.459. Ironis. Pulau surga dunia, tapi buruhnya hidup pakai tiket kelas ekonomi super promo. Sulawesi Tengah jadi juara persentase, naik 9,08 persen ke Rp3.179.565 ini bukti kalau angka bisa tampak heroik walau dompet tetap kurus.
    Banten Rp3.100.881. Kalimantan Barat Rp3.054.552. Lampung Rp3.047.734. Bengkulu Rp2.827.250. NTB Rp2.673.861.

    Naiknya segitu-segitu saja, seperti dikasih kembalian belanja sambil dibilang, “udah ya, jangan ribut.” “Duh, Kalbar daerah saya, wak! Tapi, warganya bahagia karena suka ngopi dari pagi sampai malam hari.” Ups.

    Sekarang, bagian paling pahit tapi harus ditelan, dasar jurang UMP nasional. Jawa Barat Rp2.317.601 paling rendah se-Indonesia. “Punten Kang Dedi.” Provinsi industri, tapi upahnya seperti hadiah lomba tujuh belasan. Jawa Tengah Rp2.317.386, DIY Rp2.417.495, Jawa Timur Rp2.446.880, NTT Rp2.455.898. Ini wilayah padat pabrik, padat tenaga kerja, tapi upahnya padat penderitaan. Aceh dan Papua Pegunungan belum umumkan, mungkin masih mikir cara menaikkan tanpa bikin headline marah.

    Tak heran kalau buruh meledak. KSPI, FSPMI, ASPIRASI, dipimpin Said Iqbal, langsung pasang badan. Mereka bilang UMP ini belum nyentuh 100 persen KHL. Di Jakarta, versi buruh KHL Rp5,89 juta, UMP cuma Rp5,72 juta. Selisihnya? Cukup buat rokok sebatang sambil mikir hidup. Mereka protes formula baru PP Pengupahan, protes keterlibatan buruh yang setengah hati, protes waktu penetapan yang molor sampai akhir Desember, protes daya beli yang ambruk karena harga pangan, BBM, listrik makin brutal. Ujungnya, demo, gugatan PTUN, ancaman mogok nasional. Negara mau tahun baru, buruh mau bertahan hidup.

    Secara aturan, semua ini rapi. PP Nomor 49 Tahun 2025. Dewan Pengupahan tripartit. Data BPS. Formula inflasi plus pertumbuhan ekonomi dikali alfa 0,5 sampai 0,9.

    Kedengarannya ilmiah. Tapi hasilnya sering terasa seperti main monopoli: buruh selalu berhenti di petak “bayar pajak”, pengusaha bangun hotel, pemerintah jadi wasit yang kadang matanya juling.

    Akhirnya, tulisan ini bukan sekadar bikin nuan hafal angka. Tapi bikin sampeyan sadar, ada yang naik, ada yang diam, ada yang tertinggal. Ada yang hidup di menara kaca, ada yang bertahan di dapur sempit. Selamat menyongsong 2026. Semoga tahun depan yang gemuk bukan cuma grafik ekonomi, tapi juga dompet buruh.

    Foto Ai hanya ilustrasi

    Rosadi Jamani
    Ketua Satupena Kalbar
    #camanewak
    #jurnalismeyangmenyapa
    #JYM
    Upah Naik Tipis, Hidup Ditekan Habis Di penghujung 2025, tepat 26 Desember pemerintah sibuk menghitung nasib buruh pakai kalkulator yang baterainya kayak mau habis. Lahirlah UMP 2026. Katanya naik rata-rata nasional 6–7 persen. Kedengarannya manis. Tapi rasanya? Lebih mirip gulali tapi aura rasanya mirip nano-nano. Simak narasinya dengan aura Koptagul merasuk ke dada, wak! Kita mulai dari singgasana tertinggi. DKI Jakarta masih jadi bangsawan upah nasional: UMP Rp5.729.876, naik Rp333.116 dari tahun lalu. Kenaikan yang secara teori terlihat gagah, tapi secara praktik cuma cukup buat langganan kopi susu kekinian sebulan sambil tetap mikir, “besok makan apa?”. Di belakangnya, Papua Selatan Rp4.508.850, Papua Rp4.436.283, dan Papua Tengah yang naiknya paling absurd, Rp10.000 saja. Serius pace, itu bukan kenaikan, itu kembalian parkir. Deretan selanjutnya masih lumayan bikin kepala mengangguk pelan sambil senyum pahit. Bangka Belitung Rp4.035.000, Sulawesi Utara Rp4.002.630, Sumatera Selatan Rp3.942.963, Sulawesi Selatan Rp3.921.088, Kepulauan Riau Rp3.879.520, Papua Barat Rp3.840.947. Riau Rp3.780.495. Kalimantan Timur Rp3.759.313. Kalimantan Utara Rp3.770.000. Papua Barat Daya Rp3.766.000. Semua naik, iya. Tapi naiknya seperti tangga darurat, sempit, curam, dan bikin ngos-ngosan. Kalimantan Selatan paling dramatis. Naik Rp403.326 jadi Rp3.686.138. Mungkin malam itu yang ngitung lagi mellow, pian. Masuk zona “realistis tapi menyayat”. Kalimantan Tengah Rp3.686.138, Maluku Utara Rp3.552.840, Jambi Rp3.471.497, Gorontalo Rp3.405.144, Maluku Rp3.334.499, Sulawesi Barat Rp3.315.935, Sulawesi Tenggara Rp3.306.496. Bali? Cuma Rp3.207.459. Ironis. Pulau surga dunia, tapi buruhnya hidup pakai tiket kelas ekonomi super promo. Sulawesi Tengah jadi juara persentase, naik 9,08 persen ke Rp3.179.565 ini bukti kalau angka bisa tampak heroik walau dompet tetap kurus. Banten Rp3.100.881. Kalimantan Barat Rp3.054.552. Lampung Rp3.047.734. Bengkulu Rp2.827.250. NTB Rp2.673.861. Naiknya segitu-segitu saja, seperti dikasih kembalian belanja sambil dibilang, “udah ya, jangan ribut.” “Duh, Kalbar daerah saya, wak! Tapi, warganya bahagia karena suka ngopi dari pagi sampai malam hari.” Ups. Sekarang, bagian paling pahit tapi harus ditelan, dasar jurang UMP nasional. Jawa Barat Rp2.317.601 paling rendah se-Indonesia. “Punten Kang Dedi.” Provinsi industri, tapi upahnya seperti hadiah lomba tujuh belasan. Jawa Tengah Rp2.317.386, DIY Rp2.417.495, Jawa Timur Rp2.446.880, NTT Rp2.455.898. Ini wilayah padat pabrik, padat tenaga kerja, tapi upahnya padat penderitaan. Aceh dan Papua Pegunungan belum umumkan, mungkin masih mikir cara menaikkan tanpa bikin headline marah. Tak heran kalau buruh meledak. KSPI, FSPMI, ASPIRASI, dipimpin Said Iqbal, langsung pasang badan. Mereka bilang UMP ini belum nyentuh 100 persen KHL. Di Jakarta, versi buruh KHL Rp5,89 juta, UMP cuma Rp5,72 juta. Selisihnya? Cukup buat rokok sebatang sambil mikir hidup. Mereka protes formula baru PP Pengupahan, protes keterlibatan buruh yang setengah hati, protes waktu penetapan yang molor sampai akhir Desember, protes daya beli yang ambruk karena harga pangan, BBM, listrik makin brutal. Ujungnya, demo, gugatan PTUN, ancaman mogok nasional. Negara mau tahun baru, buruh mau bertahan hidup. Secara aturan, semua ini rapi. PP Nomor 49 Tahun 2025. Dewan Pengupahan tripartit. Data BPS. Formula inflasi plus pertumbuhan ekonomi dikali alfa 0,5 sampai 0,9. Kedengarannya ilmiah. Tapi hasilnya sering terasa seperti main monopoli: buruh selalu berhenti di petak “bayar pajak”, pengusaha bangun hotel, pemerintah jadi wasit yang kadang matanya juling. Akhirnya, tulisan ini bukan sekadar bikin nuan hafal angka. Tapi bikin sampeyan sadar, ada yang naik, ada yang diam, ada yang tertinggal. Ada yang hidup di menara kaca, ada yang bertahan di dapur sempit. Selamat menyongsong 2026. Semoga tahun depan yang gemuk bukan cuma grafik ekonomi, tapi juga dompet buruh. Foto Ai hanya ilustrasi Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM
    0 Comments ·0 Shares ·2K Views ·0 Reviews
  • Apa yang Dilakukan KH Zulfa Mustofa 16 Hari Menjadi Pj Ketua PBNU?

    KH Zulfa Mustofa menjabat sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU hanya selama 16 hari, dari 9 hingga 25 Desember 2025. Sangat singkat. Walau hanya 16 hari, tentu ada jejak kegiatannya. Apa saja yang dilakukannya, simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

    Zulfa naik ke panggung bukan karena ambisi, melainkan karena keadaan darurat. Ditunjuk Syuriyah PBNU di Hotel Sultan, Jakarta, ia hadir sebagai solusi sementara di tengah dualisme kepemimpinan yang membuat PBNU seperti rumah besar dengan dua kepala keluarga, satu dapur, dan api kompor yang hampir menyambar tirai. Situasinya genting, waktunya sempit, ekspektasinya rendah. Ia bukan dipanggil untuk membangun, tapi untuk menahan runtuh.

    Selama 16 hari itu, Zulfa tidak membawa janji perubahan, apalagi program strategis. Ia sadar betul posisinya bukan ketua umum penuh, melainkan penjaga gawang darurat. Tugasnya sederhana tapi krusial, memastikan organisasi tetap utuh, legitimasi Syuriyah tetap berdiri, dan PBNU tidak pecah sebelum Muktamar ke-35 digelar. Ia bukan arsitek, ia perancah. Tidak indah, tapi menentukan.

    PBNU saat itu berada di fase paling rapuh. Dualisme antara Gus Yahya dan Syuriyah membuat struktur organisasi bergetar dari pusat sampai cabang. Setiap pernyataan bisa menjadi percikan, setiap langkah bisa jadi bensin. Dalam situasi seperti itu, Zulfa dipaksa berjalan di tali tipis, terlalu aktif bisa dianggap manuver, terlalu pasif bisa dituduh tak berguna. Maka ia memilih jalan tengah, hadir, menjaga, dan tidak banyak bergerak.

    Namun satu hal penting terjadi. Pada 16 Desember 2025, Zulfa berangkat ke Aceh. Di Pesantren Dayah Ummul Ayman, Samalanga, Kabupaten Bireuen, ia menyerahkan bantuan kemanusiaan sebesar Rp1 miliar dan 3.000 paket sembako. Di tengah kisruh elite, ia memilih turun ke akar. Di saat kursinya belum hangat, ia justru membuktikan, jabatan sementara pun bisa melahirkan tindakan nyata. Bukan retorika, tapi beras dan uang tunai.

    Ironinya, bantuan itu dibagikan hanya beberapa hari sebelum jabatannya berakhir. Pada 25 Desember 2025, bertepatan dengan Hari Natal, drama mencapai klimaks. Islah di Lirboyo terjadi. KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya berdamai, difasilitasi KH Ma’ruf Amin. Dualisme selesai hanya dengan satu jabat tangan. Seperti hukum alam dalam politik organisasi, ketika konflik berakhir, figur transisi otomatis gugur.
    Zulfa tak diberhentikan secara dramatis. Tidak ada surat resmi, tidak ada konferensi pers perpisahan. Ia hanya kembali ke posisi semula, seolah 16 hari itu hanyalah mimpi singkat. Kursi panas yang sempat ia duduki dikembalikan kepada pemiliknya. Perannya selesai, fungsinya habis.

    Kalau dianalogikan, Zulfa adalah pemain pengganti yang masuk saat tim hampir kalah karena konflik internal, menenangkan tempo permainan, lalu ditarik keluar ketika wasit meniup peluit akhir. Tidak mencetak gol, tapi tanpa kehadirannya, pertandingan bisa bubar sebelum selesai.
    Enam belas hari itu memang terlalu singkat untuk prestasi struktural, tapi cukup untuk meninggalkan jejak simbolik. Ia menjadi penanda bahwa PBNU pernah berada di titik paling rawan, sampai harus melahirkan penjabat ketua umum dengan masa tugas tercepat dalam sejarahnya.

    Ia menjadi catatan kaki, tapi catatan kaki yang menjelaskan satu bab besar, betapa rapuhnya organisasi ketika elite bertarung.

    Kini, nama Zulfa Mustofa mungkin tak lagi disebut dalam struktur, tapi akan selalu muncul setiap kali orang membicarakan masa transisi PBNU paling singkat, paling sunyi, dan paling absurd. Dalam politik organisasi, bukan durasi yang membuat orang dikenang, melainkan konteks. Konteks 16 hari itu terlalu tajam untuk dilupakan.

    Foto Ai hanya ilustrasi
    Rosadi Jamani
    Ketua Satupena Kalbar
    #camanewak
    #jurnalismeyangmenyapa
    #JYM
    Apa yang Dilakukan KH Zulfa Mustofa 16 Hari Menjadi Pj Ketua PBNU? KH Zulfa Mustofa menjabat sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU hanya selama 16 hari, dari 9 hingga 25 Desember 2025. Sangat singkat. Walau hanya 16 hari, tentu ada jejak kegiatannya. Apa saja yang dilakukannya, simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Zulfa naik ke panggung bukan karena ambisi, melainkan karena keadaan darurat. Ditunjuk Syuriyah PBNU di Hotel Sultan, Jakarta, ia hadir sebagai solusi sementara di tengah dualisme kepemimpinan yang membuat PBNU seperti rumah besar dengan dua kepala keluarga, satu dapur, dan api kompor yang hampir menyambar tirai. Situasinya genting, waktunya sempit, ekspektasinya rendah. Ia bukan dipanggil untuk membangun, tapi untuk menahan runtuh. Selama 16 hari itu, Zulfa tidak membawa janji perubahan, apalagi program strategis. Ia sadar betul posisinya bukan ketua umum penuh, melainkan penjaga gawang darurat. Tugasnya sederhana tapi krusial, memastikan organisasi tetap utuh, legitimasi Syuriyah tetap berdiri, dan PBNU tidak pecah sebelum Muktamar ke-35 digelar. Ia bukan arsitek, ia perancah. Tidak indah, tapi menentukan. PBNU saat itu berada di fase paling rapuh. Dualisme antara Gus Yahya dan Syuriyah membuat struktur organisasi bergetar dari pusat sampai cabang. Setiap pernyataan bisa menjadi percikan, setiap langkah bisa jadi bensin. Dalam situasi seperti itu, Zulfa dipaksa berjalan di tali tipis, terlalu aktif bisa dianggap manuver, terlalu pasif bisa dituduh tak berguna. Maka ia memilih jalan tengah, hadir, menjaga, dan tidak banyak bergerak. Namun satu hal penting terjadi. Pada 16 Desember 2025, Zulfa berangkat ke Aceh. Di Pesantren Dayah Ummul Ayman, Samalanga, Kabupaten Bireuen, ia menyerahkan bantuan kemanusiaan sebesar Rp1 miliar dan 3.000 paket sembako. Di tengah kisruh elite, ia memilih turun ke akar. Di saat kursinya belum hangat, ia justru membuktikan, jabatan sementara pun bisa melahirkan tindakan nyata. Bukan retorika, tapi beras dan uang tunai. Ironinya, bantuan itu dibagikan hanya beberapa hari sebelum jabatannya berakhir. Pada 25 Desember 2025, bertepatan dengan Hari Natal, drama mencapai klimaks. Islah di Lirboyo terjadi. KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya berdamai, difasilitasi KH Ma’ruf Amin. Dualisme selesai hanya dengan satu jabat tangan. Seperti hukum alam dalam politik organisasi, ketika konflik berakhir, figur transisi otomatis gugur. Zulfa tak diberhentikan secara dramatis. Tidak ada surat resmi, tidak ada konferensi pers perpisahan. Ia hanya kembali ke posisi semula, seolah 16 hari itu hanyalah mimpi singkat. Kursi panas yang sempat ia duduki dikembalikan kepada pemiliknya. Perannya selesai, fungsinya habis. Kalau dianalogikan, Zulfa adalah pemain pengganti yang masuk saat tim hampir kalah karena konflik internal, menenangkan tempo permainan, lalu ditarik keluar ketika wasit meniup peluit akhir. Tidak mencetak gol, tapi tanpa kehadirannya, pertandingan bisa bubar sebelum selesai. Enam belas hari itu memang terlalu singkat untuk prestasi struktural, tapi cukup untuk meninggalkan jejak simbolik. Ia menjadi penanda bahwa PBNU pernah berada di titik paling rawan, sampai harus melahirkan penjabat ketua umum dengan masa tugas tercepat dalam sejarahnya. Ia menjadi catatan kaki, tapi catatan kaki yang menjelaskan satu bab besar, betapa rapuhnya organisasi ketika elite bertarung. Kini, nama Zulfa Mustofa mungkin tak lagi disebut dalam struktur, tapi akan selalu muncul setiap kali orang membicarakan masa transisi PBNU paling singkat, paling sunyi, dan paling absurd. Dalam politik organisasi, bukan durasi yang membuat orang dikenang, melainkan konteks. Konteks 16 hari itu terlalu tajam untuk dilupakan. Foto Ai hanya ilustrasi Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM
    0 Comments ·0 Shares ·2K Views ·0 Reviews
  • Kisruh PBNU ini tdk akan panjang kalo Gus Yahya dipanggil pleno untuk dimintai keterangan/disidang, lalu hasilnya dikonsultasikan ke Mustasyar, dan kalo berdasar penilaian bersama para kiai kesalahan Gus Yahya mmg dianggap tak bs dimaafkan sehingga harus dimakzulkan, maka bs digelar MLB. Dan TOK, Gus Yahya pun diberhentikan, dan mgk tdk ada keributan.

    Masalahnya mekanisme itu tidak ditempuh, dan Gus Yahya dipecat begitu saja spt kiai memecat lurah pondok—berdasar informasi dan penilaian sepihak. Entah siapa saja yg berperan dalam keputusan ini, kita tunggu nanti. Maka pantas saja Gus Yahya menolak, yg lalu melahirkan dualisme kepemimpinan dan menimbulkan kegaduhan serta konflik yg kian meluas, yg skr sdh mirip tawuran karena banyak pihak masuk front dan bertengkar dg lawan yg ada di hadapannya yg notabene sesama nahdliyin.

    Skr ato tepatnya semalem Rais Aam mengemukakan penjelasan baru yg substansinya tdk berbeda dg risalah rapat Syuriah. Dg penjelasan baru itu, dg dua alasan (zionisme dan TPPU) yg sdh dikemukakan di risalah Syuriah, aku yakin banyak pengurus yg tdk setuju pemecatan, apalagi diputuskan hanya oleh rapat Syuriah—yg tdk sesuai dg AD/ART.

    Apa perlu dibikinin polling di NU Online dan Digdaya untuk mengetahui pendapat para pengurus PW dan PC? Tidak perlu kan? Karena aku sdh menyiapkan dua pertanyaan:

    1) Berdasar dua alasan yg disebut di risalah Syuriah, apakah sampeyan setuju Gus Yahya diberhentikan? Setuju/Tidak

    2) Menurut sampeyan pemecatan Ketua Umum oleh Syuriah bertentangan dg AD/ART atau tidak? Ya/Tidak.

    Kalo atas pertanyaan pertama mayoritas jawaban SETUJU maka Gus Yahya siap-siap diberhentikan ato mundur.

    Dan kalo atas pertanyaan kedua mayoritas jawaban YA maka Rais Aam yg harus siap-siap mundur—karena melanggar AD/ART.


    source : fb/Savic Ali
    Kisruh PBNU ini tdk akan panjang kalo Gus Yahya dipanggil pleno untuk dimintai keterangan/disidang, lalu hasilnya dikonsultasikan ke Mustasyar, dan kalo berdasar penilaian bersama para kiai kesalahan Gus Yahya mmg dianggap tak bs dimaafkan sehingga harus dimakzulkan, maka bs digelar MLB. Dan TOK, Gus Yahya pun diberhentikan, dan mgk tdk ada keributan. Masalahnya mekanisme itu tidak ditempuh, dan Gus Yahya dipecat begitu saja spt kiai memecat lurah pondok—berdasar informasi dan penilaian sepihak. Entah siapa saja yg berperan dalam keputusan ini, kita tunggu nanti. Maka pantas saja Gus Yahya menolak, yg lalu melahirkan dualisme kepemimpinan dan menimbulkan kegaduhan serta konflik yg kian meluas, yg skr sdh mirip tawuran karena banyak pihak masuk front dan bertengkar dg lawan yg ada di hadapannya yg notabene sesama nahdliyin. Skr ato tepatnya semalem Rais Aam mengemukakan penjelasan baru yg substansinya tdk berbeda dg risalah rapat Syuriah. Dg penjelasan baru itu, dg dua alasan (zionisme dan TPPU) yg sdh dikemukakan di risalah Syuriah, aku yakin banyak pengurus yg tdk setuju pemecatan, apalagi diputuskan hanya oleh rapat Syuriah—yg tdk sesuai dg AD/ART. Apa perlu dibikinin polling di NU Online dan Digdaya untuk mengetahui pendapat para pengurus PW dan PC? Tidak perlu kan? Karena aku sdh menyiapkan dua pertanyaan: 1) Berdasar dua alasan yg disebut di risalah Syuriah, apakah sampeyan setuju Gus Yahya diberhentikan? Setuju/Tidak 2) Menurut sampeyan pemecatan Ketua Umum oleh Syuriah bertentangan dg AD/ART atau tidak? Ya/Tidak. Kalo atas pertanyaan pertama mayoritas jawaban SETUJU maka Gus Yahya siap-siap diberhentikan ato mundur. Dan kalo atas pertanyaan kedua mayoritas jawaban YA maka Rais Aam yg harus siap-siap mundur—karena melanggar AD/ART. source : fb/Savic Ali
    0
    0
    1
    0
    0 Comments ·0 Shares ·2K Views ·0 Reviews
  • Kisruh PBNU ini tdk akan panjang kalo Gus Yahya dipanggil pleno untuk dimintai keterangan/disidang, lalu hasilnya dikonsultasikan ke Mustasyar, dan kalo berdasar penilaian bersama para kiai kesalahan Gus Yahya mmg dianggap tak bs dimaafkan sehingga harus dimakzulkan, maka bs digelar MLB. Dan TOK, Gus Yahya pun diberhentikan, dan mgk tdk ada keributan.

    Masalahnya mekanisme itu tidak ditempuh, dan Gus Yahya dipecat begitu saja spt kiai memecat lurah pondok—berdasar informasi dan penilaian sepihak. Entah siapa saja yg berperan dalam keputusan ini, kita tunggu nanti. Maka pantas saja Gus Yahya menolak, yg lalu melahirkan dualisme kepemimpinan dan menimbulkan kegaduhan serta konflik yg kian meluas, yg skr sdh mirip tawuran karena banyak pihak masuk front dan bertengkar dg lawan yg ada di hadapannya yg notabene sesama nahdliyin.

    Skr ato tepatnya semalem Rais Aam mengemukakan penjelasan baru yg substansinya tdk berbeda dg risalah rapat Syuriah. Dg penjelasan baru itu, dg dua alasan (zionisme dan TPPU) yg sdh dikemukakan di risalah Syuriah, aku yakin banyak pengurus yg tdk setuju pemecatan, apalagi diputuskan hanya oleh rapat Syuriah—yg tdk sesuai dg AD/ART.

    Apa perlu dibikinin polling di NU Online dan Digdaya untuk mengetahui pendapat para pengurus PW dan PC? Tidak perlu kan? Karena aku sdh menyiapkan dua pertanyaan:

    1) Berdasar dua alasan yg disebut di risalah Syuriah, apakah sampeyan setuju Gus Yahya diberhentikan? Setuju/Tidak
    2) Menurut sampeyan pemecatan Ketua Umum oleh Syuriah bertentangan dg AD/ART atau tidak? Ya/Tidak.
    Kalo atas pertanyaan pertama mayoritas jawaban SETUJU maka Gus Yahya siap-siap diberhentikan ato mundur. Dan kalo atas pertanyaan kedua mayoritas jawaban YA maka Rais Aam yg harus siap-siap mundur—karena melanggar AD/ART.
    Kisruh PBNU ini tdk akan panjang kalo Gus Yahya dipanggil pleno untuk dimintai keterangan/disidang, lalu hasilnya dikonsultasikan ke Mustasyar, dan kalo berdasar penilaian bersama para kiai kesalahan Gus Yahya mmg dianggap tak bs dimaafkan sehingga harus dimakzulkan, maka bs digelar MLB. Dan TOK, Gus Yahya pun diberhentikan, dan mgk tdk ada keributan. Masalahnya mekanisme itu tidak ditempuh, dan Gus Yahya dipecat begitu saja spt kiai memecat lurah pondok—berdasar informasi dan penilaian sepihak. Entah siapa saja yg berperan dalam keputusan ini, kita tunggu nanti. Maka pantas saja Gus Yahya menolak, yg lalu melahirkan dualisme kepemimpinan dan menimbulkan kegaduhan serta konflik yg kian meluas, yg skr sdh mirip tawuran karena banyak pihak masuk front dan bertengkar dg lawan yg ada di hadapannya yg notabene sesama nahdliyin. Skr ato tepatnya semalem Rais Aam mengemukakan penjelasan baru yg substansinya tdk berbeda dg risalah rapat Syuriah. Dg penjelasan baru itu, dg dua alasan (zionisme dan TPPU) yg sdh dikemukakan di risalah Syuriah, aku yakin banyak pengurus yg tdk setuju pemecatan, apalagi diputuskan hanya oleh rapat Syuriah—yg tdk sesuai dg AD/ART. Apa perlu dibikinin polling di NU Online dan Digdaya untuk mengetahui pendapat para pengurus PW dan PC? Tidak perlu kan? Karena aku sdh menyiapkan dua pertanyaan: 1) Berdasar dua alasan yg disebut di risalah Syuriah, apakah sampeyan setuju Gus Yahya diberhentikan? Setuju/Tidak 2) Menurut sampeyan pemecatan Ketua Umum oleh Syuriah bertentangan dg AD/ART atau tidak? Ya/Tidak. Kalo atas pertanyaan pertama mayoritas jawaban SETUJU maka Gus Yahya siap-siap diberhentikan ato mundur. Dan kalo atas pertanyaan kedua mayoritas jawaban YA maka Rais Aam yg harus siap-siap mundur—karena melanggar AD/ART.
    0
    1
    0 Comments ·0 Shares ·1K Views ·0 Reviews
  • Mengingat lupa,masa kelam dan rekam jejaknya semasa menjabat presiden Megawati. Inilah faktanya...biar kita semua sebagai anak bangsa tahu, tentang kebijakan2 yang dibuat oleh para pemimpin di masa lalu.
    Untuk Gus Dur, terima kasih telah menjadi tauladan, menjadi jembatan dari kegaduhan "politik" saat itu agar indonesia tidak terpecah belah...
    #gusdur #megawati #politik
    Mengingat lupa,masa kelam dan rekam jejaknya semasa menjabat presiden Megawati. Inilah faktanya...biar kita semua sebagai anak bangsa tahu, tentang kebijakan2 yang dibuat oleh para pemimpin di masa lalu. Untuk Gus Dur, terima kasih telah menjadi tauladan, menjadi jembatan dari kegaduhan "politik" saat itu agar indonesia tidak terpecah belah... #gusdur #megawati #politik
    Love
    1
    · 1 Comments ·0 Shares ·8K Views ·6 Plays ·0 Reviews
  • VIDEO SUPER LANGKA
    MUKTAMAR NU KE-27 SITUBONDO JAWA TIMUR YANG DI HADIRI OLEH :
    1. PRESIDEN RI HM. SOEHARTO
    2. KH. IDHAM CHALID
    3. KH. MASYKUR
    4. KHR. AS'AD SYAMSUL ARIFIN
    5. KH. ALI MAKSUM KRAPYAK
    6. GUS DUR

    DI MUKTAMAR INI, GUS DUR TERPILIH SEBAGAI KETUM PBNU MENGGANTIKAN KH. IDHAM CHALID, DAN KH. ACHMAD SHIDDIQ TERPILIH SEBAGAI RAIS 'AAM MENGGANTIKAN KH. ALI MAKSUM.

    #gusdur #gusdurian #gusdurlovers #muktamarnu #pbnu #gusmus #yayasanalimaksum #almunawirkrapyak #krapyakjogja #kyainu #kyainusantara #presidensoeharto #khasadsyamsularifin #muktamarsitubondo #nahdlatululama
    VIDEO SUPER LANGKA MUKTAMAR NU KE-27 SITUBONDO JAWA TIMUR YANG DI HADIRI OLEH : 1. PRESIDEN RI HM. SOEHARTO 2. KH. IDHAM CHALID 3. KH. MASYKUR 4. KHR. AS'AD SYAMSUL ARIFIN 5. KH. ALI MAKSUM KRAPYAK 6. GUS DUR DI MUKTAMAR INI, GUS DUR TERPILIH SEBAGAI KETUM PBNU MENGGANTIKAN KH. IDHAM CHALID, DAN KH. ACHMAD SHIDDIQ TERPILIH SEBAGAI RAIS 'AAM MENGGANTIKAN KH. ALI MAKSUM. #gusdur #gusdurian #gusdurlovers #muktamarnu #pbnu #gusmus #yayasanalimaksum #almunawirkrapyak #krapyakjogja #kyainu #kyainusantara #presidensoeharto #khasadsyamsularifin #muktamarsitubondo #nahdlatululama
    Love
    1
    · 0 Comments ·0 Shares ·14K Views ·3 Plays ·0 Reviews
  • ULAMA NU "GUS BAHA", MENGATAKAN:
    ORANG LAIN MELIHAT DARI JAUH WARGA NU DIKUBURAN DIKIRA MINTA MAYIT YANG DIKUBURAN.
    TERNYATA LAGI MENDOAKAN MAYIT YANG DIKUBURAN.
    KARENA ORANG LAIN MELIHAT DARI JAUH TIDAK ADA PENELITIAN.
    SUBHAN ALLOH .....
    🕌 ULAMA NU "GUS BAHA", MENGATAKAN: ▪️ORANG LAIN MELIHAT DARI JAUH WARGA NU DIKUBURAN DIKIRA MINTA MAYIT YANG DIKUBURAN. ▪️TERNYATA LAGI MENDOAKAN MAYIT YANG DIKUBURAN. ▪️KARENA ORANG LAIN MELIHAT DARI JAUH TIDAK ADA PENELITIAN. 🤲 SUBHAN ALLOH .....
    Like
    1
    · 0 Comments ·0 Shares ·11K Views ·4 Plays ·0 Reviews
  • Dibuang, Dikucilkan, Namun Hatinya Tetap NU
    Tanggal 31 januari merupakan salah satu hari yang bersejarah bagi sebagian umat Islam Indonesia. Pada tangggal tersebut, Nahdlatul Ulama’ merayakan hari kelahirannya yang. Rasa syukur terucap dari berbagai kalangan, mulai ulama’ hingga masyarakat umum karena NU masih bisa berdiri kokoh ditengah zaman yang sudah mulai kalut ini. Tentu kita sudah paham, jika kita ditanya siapakah para pendiri NU, pasti sebagian besar akan menjawab KH. Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, ataupun KH As’ad Syamsul Arifin. Namun, tidak banyak yang tahu bahkan sering terlupakan, bahwa ada salah satu ulama’ yang juga berperan penting dalam berdirinya NU. Sosok tersebut adalah Kiai Mas Alwi.
    Kiai Mas Alwi adalah salah seorang pendiri NU bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Ridlwan Abdullah, dan beberapa Kiai besar lain. Mereka bergerak secara aktif di masyarakat sejak NU belum didirikan. Kiai Mas Alwi lah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kiai Ridlwan Abdullah. Namun nama Kiai Mas Alwi hampir jarang disebut dalam literatur sejarah NU. Apa sebabnya? Lantaran ia tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga.
    Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, bahwa sebelum 1926, Kiai Hasyim Asy’ari telah berencana membuat organisasi Jami’iyah Ulama (Perkumpulan Ulama). Para Kiai mengusulkan nama berbeda. Namun Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Lantas Kiai Hasyim bertanya, “Kenapa mesti pakai Nahdlatul, kok tidak jam’iyah ulama saja? Sayyid Alwi pun menjawab, “Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada Kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam’iyah”.
    Kiai Mas Alwi memiliki nama lengkap Sayyid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon, dan merupakan putra ulama’ besar, yakni Kiai Abdul Aziz al-Zamadghon, bersepupu dengan KH. Mas Mansur dan termasuk dalam keluarga besar Sunan Ampel. Tidak ada data yang pasti mengenai kelahiran Kiai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kiai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kiai yang bersahabat di masa itu, yakni Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Mas Alwi adalah orang-orang yang tidak terlalu jauh jaraknya dalam hal usia. Disebutkan bahwa di awal-awal berdirinya NU yakni tahun 1926, usia Kiai Ridlwan 40 tahun, Kiai Wahhab 37 tahun dan Kiai Mas Alwi 35 Tahun. Dengan demikian, Kiai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1890-an.
    Kiai Mas Alwi memulai pendidikan diniahnya dibawah asuhan ayahnya. Kemudian melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Kiai Mas Alwi merupakan sosok yang cerdas dan pandai. Hal tersebut dikisahkan oleh Kiai Mujib, yang menerima kisah tersebut dari ayahnya, KH Ridlwan Abdullah. Setelah menempuh pendidikan di pesantren Syaikhona Kholil, Kiai Mas Alwi melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, dan meneruskan ke Mekkah.
    Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mekkah, Kiai Mas Alwi kembali ke Indonesia. Bersama sahabat dan sepupunya, yakni KH. Ridlwan Abdullah dan KH. Mas Mansur, beliau membidani berdirinya sekolah Nahdlatul Wathon dan KH Mas Mansur menjadi kepala sekolah. Namun, setelah tersiar kabar bahwa Kiai Mas Alwi ikut kerja dalam pelayaran, maka beliau dipecat dari sekolah tersebut, akan tetapi sepulang dari Eropa beliau diterima kembali mengajar di Nahdlatul Wathon, dan justru Kiai Mas Mansur yang akhirnya dipecat oleh para Kiai karena telah terpengaruh pemikiran Muhammad Abduh.
    Saat merebaknya isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi mempelajarinya ke Mesir, kepada Muhammad Abduh. Maklum, Mas Mansur adalah keluarga yang mampu secara finansial sehingga beliau dapat mencari ilmu ke Mesir. Sementara Kiai Mas Alwi bukan dari keluarga yang kaya. Oleh karenanya Kiai Mas Alwi berkata: “Apa sih yang sebenarnya dicari oleh Adik Mansur ke Mesir? Renaissance atau pembaharuan itu tempatnya di Eropa”. Maka beliau pun berusaha untuk mengetahui apa sebenarnya renaissance ke Eropa, saat itu beliau pergi ke Belanda dan Prancis dengan mengikuti pelayaran.
    Di masa itu, orang yang bekerja sebagai pelayaran mendapat stigma yang sangat buruk dan memalukan bagi keluarga, sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk dan lain sebagainya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah.
    Setiba di tanah air, Kiai Mas Alwi dikucilkan oleh para sahabat dan tetangganya. Akhirnya Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di daerah Jl. Sasak, dekat wilayah Ampel untuk berjualan memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui beliau datang, Kiai Ridlwan mendatanginya, lalu Kiai Mas Alwi berkata: “Kenapa Kang, sampean datang kesini, nanti sampean akan dicuci pakai debu sama Kiai-Kiai lainnya, sebab warung saya ini sudah dianggap mughalladzah?”
    Kiai Ridlwan bertanya: “Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi pelayaran ke Eropa?”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Begini Kang Ridlwan. Saya ini ingin mencari renaissance, apa sih sebenarnya renaissance itu? Lah, Adik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari renaissance itu salah, sebab tempatnya renaissance itu ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini…” (maksudnya adalah kembali ke Al-Quran-Hadis, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya)
    Beliau melanjutkan: “Renaissance yang ada di Mesir itu sudah tidak murni lagi Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan dalam Islam, apanya yang mau diperbaharui, Islam itu sudah sempurna, sudah tidak ada lagi yang diperbaharui. Al-Quran sudah jelas menyatakan:
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً ﴿المائدة : ٣﴾
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (al-Maidah: 3)
    Inti dari perjalanan beliau ke Eropa adalah menemukan hakikat renaissance yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan oleh dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan bertanya: “Dari mana sampean tahu?” Kiai Mas Alwi: “Karena saya berhasil masuk ke tempat-tempat perpustakaan di Belanda”. Kiai Ridlwan bertanya lebih jauh: “Bagaimana caranya sampean bisa masuk?” Kiai Mas Alwi menjawab: “Dengan menikahi wanita Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya”.
    Setelah Kiai Mas Alwi menyampaikan perjalanan beliau ke Eropa secara panjang, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam”. Kiai Ridlwan berkata: “Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke sekolah Nahdlatul Wathon. Sebab saya sekarang sudah tidak ada yang membantu. Kiai Wahab sekarang lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya”.
    Di pagi harinya, sebelum Kiai Ridlwan sampai di sekolah, ternyata Kiai Alwi sudah ada di sekolah Nahdlatul Wathon. Kiai Ridlwan berkata: “Kok sudah ada disini?” Kiai Alwi menjawab: “Ya Kang Ridlwan, tadi malam saya tawarkan warung saya ternyata laku dibeli orang. Makanya uangnya ini kita gunakan untuk sekolah ini”. Kedua Kiai tersebut kemudian kembali membesarkan sekolah Nahdlatul Wathon.
    Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat–bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum. Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut.
    Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Aamiin ya robbal ‘alamiin. Wallahu a’lam bi showab.
    Foto: Maqom KH. Mas Alwi
    Dibuang, Dikucilkan, Namun Hatinya Tetap NU Tanggal 31 januari merupakan salah satu hari yang bersejarah bagi sebagian umat Islam Indonesia. Pada tangggal tersebut, Nahdlatul Ulama’ merayakan hari kelahirannya yang. Rasa syukur terucap dari berbagai kalangan, mulai ulama’ hingga masyarakat umum karena NU masih bisa berdiri kokoh ditengah zaman yang sudah mulai kalut ini. Tentu kita sudah paham, jika kita ditanya siapakah para pendiri NU, pasti sebagian besar akan menjawab KH. Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, ataupun KH As’ad Syamsul Arifin. Namun, tidak banyak yang tahu bahkan sering terlupakan, bahwa ada salah satu ulama’ yang juga berperan penting dalam berdirinya NU. Sosok tersebut adalah Kiai Mas Alwi. Kiai Mas Alwi adalah salah seorang pendiri NU bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Ridlwan Abdullah, dan beberapa Kiai besar lain. Mereka bergerak secara aktif di masyarakat sejak NU belum didirikan. Kiai Mas Alwi lah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kiai Ridlwan Abdullah. Namun nama Kiai Mas Alwi hampir jarang disebut dalam literatur sejarah NU. Apa sebabnya? Lantaran ia tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga. Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, bahwa sebelum 1926, Kiai Hasyim Asy’ari telah berencana membuat organisasi Jami’iyah Ulama (Perkumpulan Ulama). Para Kiai mengusulkan nama berbeda. Namun Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Lantas Kiai Hasyim bertanya, “Kenapa mesti pakai Nahdlatul, kok tidak jam’iyah ulama saja? Sayyid Alwi pun menjawab, “Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada Kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam’iyah”. Kiai Mas Alwi memiliki nama lengkap Sayyid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon, dan merupakan putra ulama’ besar, yakni Kiai Abdul Aziz al-Zamadghon, bersepupu dengan KH. Mas Mansur dan termasuk dalam keluarga besar Sunan Ampel. Tidak ada data yang pasti mengenai kelahiran Kiai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kiai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kiai yang bersahabat di masa itu, yakni Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Mas Alwi adalah orang-orang yang tidak terlalu jauh jaraknya dalam hal usia. Disebutkan bahwa di awal-awal berdirinya NU yakni tahun 1926, usia Kiai Ridlwan 40 tahun, Kiai Wahhab 37 tahun dan Kiai Mas Alwi 35 Tahun. Dengan demikian, Kiai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1890-an. Kiai Mas Alwi memulai pendidikan diniahnya dibawah asuhan ayahnya. Kemudian melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Kiai Mas Alwi merupakan sosok yang cerdas dan pandai. Hal tersebut dikisahkan oleh Kiai Mujib, yang menerima kisah tersebut dari ayahnya, KH Ridlwan Abdullah. Setelah menempuh pendidikan di pesantren Syaikhona Kholil, Kiai Mas Alwi melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, dan meneruskan ke Mekkah. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mekkah, Kiai Mas Alwi kembali ke Indonesia. Bersama sahabat dan sepupunya, yakni KH. Ridlwan Abdullah dan KH. Mas Mansur, beliau membidani berdirinya sekolah Nahdlatul Wathon dan KH Mas Mansur menjadi kepala sekolah. Namun, setelah tersiar kabar bahwa Kiai Mas Alwi ikut kerja dalam pelayaran, maka beliau dipecat dari sekolah tersebut, akan tetapi sepulang dari Eropa beliau diterima kembali mengajar di Nahdlatul Wathon, dan justru Kiai Mas Mansur yang akhirnya dipecat oleh para Kiai karena telah terpengaruh pemikiran Muhammad Abduh. Saat merebaknya isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi mempelajarinya ke Mesir, kepada Muhammad Abduh. Maklum, Mas Mansur adalah keluarga yang mampu secara finansial sehingga beliau dapat mencari ilmu ke Mesir. Sementara Kiai Mas Alwi bukan dari keluarga yang kaya. Oleh karenanya Kiai Mas Alwi berkata: “Apa sih yang sebenarnya dicari oleh Adik Mansur ke Mesir? Renaissance atau pembaharuan itu tempatnya di Eropa”. Maka beliau pun berusaha untuk mengetahui apa sebenarnya renaissance ke Eropa, saat itu beliau pergi ke Belanda dan Prancis dengan mengikuti pelayaran. Di masa itu, orang yang bekerja sebagai pelayaran mendapat stigma yang sangat buruk dan memalukan bagi keluarga, sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk dan lain sebagainya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah. Setiba di tanah air, Kiai Mas Alwi dikucilkan oleh para sahabat dan tetangganya. Akhirnya Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di daerah Jl. Sasak, dekat wilayah Ampel untuk berjualan memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui beliau datang, Kiai Ridlwan mendatanginya, lalu Kiai Mas Alwi berkata: “Kenapa Kang, sampean datang kesini, nanti sampean akan dicuci pakai debu sama Kiai-Kiai lainnya, sebab warung saya ini sudah dianggap mughalladzah?” Kiai Ridlwan bertanya: “Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi pelayaran ke Eropa?”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Begini Kang Ridlwan. Saya ini ingin mencari renaissance, apa sih sebenarnya renaissance itu? Lah, Adik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari renaissance itu salah, sebab tempatnya renaissance itu ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini…” (maksudnya adalah kembali ke Al-Quran-Hadis, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya) Beliau melanjutkan: “Renaissance yang ada di Mesir itu sudah tidak murni lagi Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan dalam Islam, apanya yang mau diperbaharui, Islam itu sudah sempurna, sudah tidak ada lagi yang diperbaharui. Al-Quran sudah jelas menyatakan: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً ﴿المائدة : ٣﴾ “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (al-Maidah: 3) Inti dari perjalanan beliau ke Eropa adalah menemukan hakikat renaissance yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan oleh dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan bertanya: “Dari mana sampean tahu?” Kiai Mas Alwi: “Karena saya berhasil masuk ke tempat-tempat perpustakaan di Belanda”. Kiai Ridlwan bertanya lebih jauh: “Bagaimana caranya sampean bisa masuk?” Kiai Mas Alwi menjawab: “Dengan menikahi wanita Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya”. Setelah Kiai Mas Alwi menyampaikan perjalanan beliau ke Eropa secara panjang, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam”. Kiai Ridlwan berkata: “Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke sekolah Nahdlatul Wathon. Sebab saya sekarang sudah tidak ada yang membantu. Kiai Wahab sekarang lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya”. Di pagi harinya, sebelum Kiai Ridlwan sampai di sekolah, ternyata Kiai Alwi sudah ada di sekolah Nahdlatul Wathon. Kiai Ridlwan berkata: “Kok sudah ada disini?” Kiai Alwi menjawab: “Ya Kang Ridlwan, tadi malam saya tawarkan warung saya ternyata laku dibeli orang. Makanya uangnya ini kita gunakan untuk sekolah ini”. Kedua Kiai tersebut kemudian kembali membesarkan sekolah Nahdlatul Wathon. Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat–bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum. Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut. Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Aamiin ya robbal ‘alamiin. Wallahu a’lam bi showab. Foto: Maqom KH. Mas Alwi
    0 Comments ·0 Shares ·11K Views ·0 Reviews
  • TERBARU. GUS BAHA' : MASALAH NASAB #gusbaha #gusbahaterbaru #ngajigusbahaterbaruhariini #ngaji #gus
    TERBARU. GUS BAHA' : MASALAH NASAB #gusbaha #gusbahaterbaru #ngajigusbahaterbaruhariini #ngaji #gus
    0 Comments ·0 Shares ·5K Views ·0 Reviews
More Results
Upgrade to Pro
Choose the Plan That's Right for You
The Power of Nahdliyyin Kultural https://nahdliyyin.net