• ARAB SAUDI MELARANG MAULID NABI MUHAMMAD SAW TAPI MELEGALKAN HELLOWEEN, DJ PARTY.

    Arab Saudi dilaporkan menyelenggarakan festival Halloween, pemerintahan kerajaan Islam tersebut selama ini melarang perayaan semacam itu.

    Acara perayaan Halloween itu dijuluki "Scary Weekend" yang berlangsung di Boulevard Riyadh. Orang-orang pun berdatangan ke pesta itu mengenakan kostum menakutkan dan pakaian mewah.

    Arab Saudi juga melegalkan dj party di tempat yang dilarang di kunjungi oleh Nabi Muhammad SAW,

    Sebelumnya kerajaan Arab Saudi sudah melegalkan bir dan bikini mulai tahun depan yang bertujuan untuk menarik wisatawan mancanegara


    Valentine-Halloween, Tradisi Asing Kini Diizinkan Arab Saudi Era MbS.

    Nampak warga Arab saudi sedang merayakan hari Halloween, yaitu hari setan internasional. Bagi mereka, ini bukanlah bagian dari tasyabbuh bil kuffar.. karna mereka udah bikin dalil sebelumnya...
    Sementara para Misionaris Wahabi berkedok MANHAJ SALAF yg bertugas di Indonesia,
    mereka gak bakal berani mengomentari apapun yg dilakukan Ulil Amri Bani Saud
    Karna se galak2 nya anjing, gak mungkin menggonggongi apalagi menyakiti majikannya...

    Saat kesebelasan kita melawan kesebelasan Arab Saudi berapa hari lalu, kemungkinan menang memang sangat tipis karena mereka berasal dari tanah suci sementara kita berasal dari tanah korupsi... :(

    #arab #arabsaudi #arabindonesia #saudiindonesia #indonesiaarab


    ARAB SAUDI MELARANG MAULID NABI MUHAMMAD SAW TAPI MELEGALKAN HELLOWEEN, DJ PARTY. Arab Saudi dilaporkan menyelenggarakan festival Halloween, pemerintahan kerajaan Islam tersebut selama ini melarang perayaan semacam itu. Acara perayaan Halloween itu dijuluki "Scary Weekend" yang berlangsung di Boulevard Riyadh. Orang-orang pun berdatangan ke pesta itu mengenakan kostum menakutkan dan pakaian mewah. Arab Saudi juga melegalkan dj party di tempat yang dilarang di kunjungi oleh Nabi Muhammad SAW, Sebelumnya kerajaan Arab Saudi sudah melegalkan bir dan bikini mulai tahun depan yang bertujuan untuk menarik wisatawan mancanegara Valentine-Halloween, Tradisi Asing Kini Diizinkan Arab Saudi Era MbS. Nampak warga Arab saudi sedang merayakan hari Halloween, yaitu hari setan internasional. Bagi mereka, ini bukanlah bagian dari tasyabbuh bil kuffar.. karna mereka udah bikin dalil sebelumnya... Sementara para Misionaris Wahabi berkedok MANHAJ SALAF yg bertugas di Indonesia, mereka gak bakal berani mengomentari apapun yg dilakukan Ulil Amri Bani Saud Karna se galak2 nya anjing, gak mungkin menggonggongi apalagi menyakiti majikannya... Saat kesebelasan kita melawan kesebelasan Arab Saudi berapa hari lalu, kemungkinan menang memang sangat tipis karena mereka berasal dari tanah suci sementara kita berasal dari tanah korupsi... :( #arab #arabsaudi #arabindonesia #saudiindonesia #indonesiaarab
    0 Comments ·0 Shares ·4K Views ·1 Plays ·0 Reviews
  • Habib Umar pun mengungkapkan ada beberapa musik yang isinya itu penuh hikmah dan mengajak orang untuk berbuat baik seperti berbakti kepada orang tua, mendorong untuk memperkuat silaturahmi, dan mengajak seseorang untuk membantu dan peduli kepada sesama. Maka musik ini menurutnya merupakan bagian dari kebaikan dan bagian dari dakwah yang baik.

    Habib Umar mengisahkan bahwa ketika seorang penyair (seniman) bernama Sayyidina Hasan bin Tsabit yang merupakan sahabat Rasulullah banyak membuat syair yang isinya memuji dan membela Nabi dari cacian kaum kafir, maka Nabi Muhammad pun menyemangati dan mendukung apa yang dilakukan Hasan bin Tsabit.

    “Sesungguhnya Jibril dan Mikail senantiasa bersama Engkau di dalam syairmu manakala syairmu itu isinya membela kepada Nabi Muhammad SAW,” katanya.

    Begitu juga sebuah kisah yang mengungkapkan seorang seniman penyair orang Arab terdahulu sebelum Nabi Muhammad bernama Umayyah. Ia banyak membuat syair-syair yang berisi kebaikan dan penuh hikmah.
    Habib Umar pun mengungkapkan ada beberapa musik yang isinya itu penuh hikmah dan mengajak orang untuk berbuat baik seperti berbakti kepada orang tua, mendorong untuk memperkuat silaturahmi, dan mengajak seseorang untuk membantu dan peduli kepada sesama. Maka musik ini menurutnya merupakan bagian dari kebaikan dan bagian dari dakwah yang baik. Habib Umar mengisahkan bahwa ketika seorang penyair (seniman) bernama Sayyidina Hasan bin Tsabit yang merupakan sahabat Rasulullah banyak membuat syair yang isinya memuji dan membela Nabi dari cacian kaum kafir, maka Nabi Muhammad pun menyemangati dan mendukung apa yang dilakukan Hasan bin Tsabit. “Sesungguhnya Jibril dan Mikail senantiasa bersama Engkau di dalam syairmu manakala syairmu itu isinya membela kepada Nabi Muhammad SAW,” katanya. Begitu juga sebuah kisah yang mengungkapkan seorang seniman penyair orang Arab terdahulu sebelum Nabi Muhammad bernama Umayyah. Ia banyak membuat syair-syair yang berisi kebaikan dan penuh hikmah.
    Love
    1
    · 0 Comments ·0 Shares ·954 Views ·0 Reviews
  • Mari kita Mengenali Pengarang Maulid Al-Barzanji Sayyid Ja‘far bin Hasan bin ‘Abdul Karim bin Muhammad bin Rasul Al-Barzanji, pengarang Maulid Barzanji, adalah seorang ulama besar keturunan Nabi SAW dari keluarga Sadah Al-Barzanji yang termasyhur, berasal dari Barzanj di Irak. Beliau lahir di Madinah Al-Munawwarah pada tahun 1126 H (1714 M).

    Datuk-datuk Sayyid Ja‘far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya. Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas Al-Maliki dalam Hawl al-Ihtifal bi Dzikra al-Mawlid an-Nabawi asy-Syarif pada halaman 99 menulis sebagai berikut: “Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Musnid As- Sayyid Ja`far bin Hasan bin `Abdul Karim Al-Barzanji adalah mufti Syafi`iyyah di Madinah Al-Munawwarah. Terdapat perselisihan tentang tahun wafatnya. Sebagian menyebutkan, beliau meninggal pada tahun 1177 H (1763 M). Imam Az-Zubaid dalam al-Mu`jam al-Mukhtash menulis, beliau wafat tahun 1184 H (1770 M). Imam Az-Zubaid pernah berjumpa beliau dan menghadiri majelis pengajiannya di Masjid Nabawi yang mulia. Beliau adalah pengarang kitab Maulid yang termasyhur dan terkenal dengan nama Mawlid al-Barzanji.

    Sebagian ulama menyatakan nama karangannya tersebut sebagai ‘Iqd al-Jawhar fi Mawlid an-Nabiyyil Azhar. Kitab Maulid karangan beliau ini termasuk salah satu kitab Maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri Arab dan Islam, baik di Timur maupun Barat. Bahkan banyak kalangan Arab dan non-Arab yang menghafalnya dan mereka membacanya dalam acara-acara (pertemuan-pertemuan) keagamaan yang sesuai. Kandungannya merupakan khulashah (ringkasan) sirah nabawiyyah yang meliputi kisah kelahiran beliau, pengutusannya sebagai rasul, hijrah, akhlaq, peperangan, hingga wafatnya.” Kitab Mawlid al-Barzanji ini telah disyarahkan oleh Al-Allamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Maliki Al-Asy‘ari Asy-Syadzili Al-Azhari yang terkenal dengan panggilan Ba‘ilisy dengan pensyarahan yang memadai, bagus, dan bermanfaat, yang dinamakan al-Qawl al-Munji ‘ala Mawlid al-Barzanji dan telah berulang kali dicetak di Mesir. Beliau seorang ulama besar keluaran Al-Azhar Asy-Syarif, bermadzhab Maliki, mengikuti paham Asy‘ari, dan menganut Thariqah Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217 H (1802 M) dan wafat tahun 1299 H (1882 M). Selain itu, ulama terkemuka kita yang juga terkenal sebagai penulis yang produktif,
    Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, pun menulis syarahnya yang dinamakannya Madarijush Shu‘ud ila Iktisa-il Burud. Kemudian,
    Sayyid Ja‘far bin Isma‘il bin Zainal ‘Abidin bin Muhammad Al- Hadi bin Zain, suami anak satu-satunya Sayyid Ja‘far Al-Barzanji, juga menulis syarah kitab Mawlid al-Barzanji tersebut yang dinamakannya al-Kawkabul-Anwar ‘ala ‘Iqd al-Jawhar fi Mawlidin-Nabiyyil-Azhar.

    Sebagaimana mertuanya, Sayyid Ja‘far ini juga seorang ulama besar lulusan Al-Azhar Asy-Syarif dan juga seorang mufti Syafi‘iyyah. Karangankarangan beliau banyak, di antaranya Syawahid al-Ghufran ‘ala Jaliy al-Ahzan fi Fadha-il Ramadhan, Mashabihul Ghurar ‘ala Jaliyyil Qadr, dan Taj al-Ibtihaj ‘ala Dhau’ al-Wahhaj fi al-Isra’ wa al-Mi‘raj. Beliau pun menulis manaqib yang menceritakan perjalanan hidup Sayyid Ja‘far Al-Barzanji dalam kitabnya ar-Raudh al-‘Athar fi Manaqib as-Sayyid Ja‘far. Kembali kepada Sayyidi Ja‘far Al-Barzanji.
    Selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlaq, dan taqwanya, tetapi juga karena karamah dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk mendatangkan hujan pada musim-musim kemarau. Diceritakan, suatu ketika di musim kemarau, saat beliau sedang menyampaikan khutbah Juma’tnya, seseorang meminta beliau beristisqa’ memohon hujan. Maka dalam khutbahnya itu beliau pun berdoa memohon hujan. Doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya hingga seminggu, persis sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW dahulu. Sayyidi Ja‘far Al-Barzanji wafat di Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi‘.
    Sungguh besar jasa beliau. Karangannya membawa umat ingat kepada Nabi SAW, membawa umat mengasihi beliau, membawa umat merindukannya. Sayyid Ja’far Al-Barzanji adalah seorang ulama’ besar keturunan Nabi Muhammad saw dari keluarga Sa’adah Al Barzanji yang termasyur, berasal dari Barzanj di Irak.

    Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya. Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan pemurah. Nama nasabnya adalah

    24)Sayid Ja’far ibn
    23)Hasan ibn
    22)Abdul Karim ibn
    21)Muhammad ibn
    20)Sayid Rasul ibn
    19)Abdul Sayid ibn
    18)Abdul Rasul ibn
    17)Qalandar ibn
    16)Abdul Sayid ibn
    15)Isa ibn
    14)Husain ibn
    13)Bayazid ibn
    12)Abdul Karim ibn
    11)Isa ibn Ali ibn
    10)Yusuf ibn
    9)Mansur ibn
    8)Abdul Aziz ibn
    7)Abdullah ibn
    6)Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn
    5)Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn
    4)Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn
    3)Al-Imam Zainal Abidin ibn
    2)Al-Imam Husain ibn
    1)Sayidina Ali r.a.

    Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Quran dari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan dengan Syaikh Yusuf As-So’idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri.Antara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid Abdul Karim Haidar Al-Barzanji, Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi. Sayid Ja’far Al-Barzanji telah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, A’rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah. Syaikh Ja’far Al-Barzanji juga seorang Qodhi (hakim) dari madzhab Maliki yang bermukim di Madinah, merupakan salah seorang keturunan (buyut) dari cendekiawan besar Muhammad bin Abdul Rasul bin
    Abdul Sayyid Al-Alwi Al-Husain Al-Musawi Al-Saharzuri Al-Barzanji (1040-1103 H / 1630-1691 M), Mufti Agung dari madzhab Syafi’i di Madinah. Sang mufti (pemberi fatwa) berasal dari Shaharzur, kota kaum Kurdi di Irak, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di Kota Sang Nabi. Di sana beliau telah belajar dari ulama’-ulama’ terkenal, diantaranya Syaikh Athaallah ibn Ahmad Al-Azhari, Syaikh Abdul Wahab At-Thanthowi Al-Ahmadi, Syaikh Ahmad Al-Asybuli. Beliau juga telah diijazahkan oleh sebahagian ulama’, antaranya : Syaikh Muhammad At-Thoyib Al-Fasi, Sayid Muhammad At-Thobari, Syaikh Muhammad ibn Hasan Al A’jimi, Sayid Musthofa Al-Bakri, Syaikh Abdullah As-Syubrawi Al-Misri. Syaikh Ja’far Al-Barzanji, selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut.

    Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdo’a untuk hujan pada musim-musim kemarau. Setiap kali karangannya dibaca, shalawat dan salam dilatunkan buat junjungan kita Nabi Muhammad SAW, selain itu juga tidak lupa mendoakan Sayyid Ja‘far, yang telah berjasa menyebarkan keharuman pribadi dan sirah kehidupan makhluk termulia di alam raya. Semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha.
    Mari kita Mengenali Pengarang Maulid Al-Barzanji Sayyid Ja‘far bin Hasan bin ‘Abdul Karim bin Muhammad bin Rasul Al-Barzanji, pengarang Maulid Barzanji, adalah seorang ulama besar keturunan Nabi SAW dari keluarga Sadah Al-Barzanji yang termasyhur, berasal dari Barzanj di Irak. Beliau lahir di Madinah Al-Munawwarah pada tahun 1126 H (1714 M). Datuk-datuk Sayyid Ja‘far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya. Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas Al-Maliki dalam Hawl al-Ihtifal bi Dzikra al-Mawlid an-Nabawi asy-Syarif pada halaman 99 menulis sebagai berikut: “Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Musnid As- Sayyid Ja`far bin Hasan bin `Abdul Karim Al-Barzanji adalah mufti Syafi`iyyah di Madinah Al-Munawwarah. Terdapat perselisihan tentang tahun wafatnya. Sebagian menyebutkan, beliau meninggal pada tahun 1177 H (1763 M). Imam Az-Zubaid dalam al-Mu`jam al-Mukhtash menulis, beliau wafat tahun 1184 H (1770 M). Imam Az-Zubaid pernah berjumpa beliau dan menghadiri majelis pengajiannya di Masjid Nabawi yang mulia. Beliau adalah pengarang kitab Maulid yang termasyhur dan terkenal dengan nama Mawlid al-Barzanji. Sebagian ulama menyatakan nama karangannya tersebut sebagai ‘Iqd al-Jawhar fi Mawlid an-Nabiyyil Azhar. Kitab Maulid karangan beliau ini termasuk salah satu kitab Maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri Arab dan Islam, baik di Timur maupun Barat. Bahkan banyak kalangan Arab dan non-Arab yang menghafalnya dan mereka membacanya dalam acara-acara (pertemuan-pertemuan) keagamaan yang sesuai. Kandungannya merupakan khulashah (ringkasan) sirah nabawiyyah yang meliputi kisah kelahiran beliau, pengutusannya sebagai rasul, hijrah, akhlaq, peperangan, hingga wafatnya.” Kitab Mawlid al-Barzanji ini telah disyarahkan oleh Al-Allamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Maliki Al-Asy‘ari Asy-Syadzili Al-Azhari yang terkenal dengan panggilan Ba‘ilisy dengan pensyarahan yang memadai, bagus, dan bermanfaat, yang dinamakan al-Qawl al-Munji ‘ala Mawlid al-Barzanji dan telah berulang kali dicetak di Mesir. Beliau seorang ulama besar keluaran Al-Azhar Asy-Syarif, bermadzhab Maliki, mengikuti paham Asy‘ari, dan menganut Thariqah Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217 H (1802 M) dan wafat tahun 1299 H (1882 M). Selain itu, ulama terkemuka kita yang juga terkenal sebagai penulis yang produktif, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, pun menulis syarahnya yang dinamakannya Madarijush Shu‘ud ila Iktisa-il Burud. Kemudian, Sayyid Ja‘far bin Isma‘il bin Zainal ‘Abidin bin Muhammad Al- Hadi bin Zain, suami anak satu-satunya Sayyid Ja‘far Al-Barzanji, juga menulis syarah kitab Mawlid al-Barzanji tersebut yang dinamakannya al-Kawkabul-Anwar ‘ala ‘Iqd al-Jawhar fi Mawlidin-Nabiyyil-Azhar. Sebagaimana mertuanya, Sayyid Ja‘far ini juga seorang ulama besar lulusan Al-Azhar Asy-Syarif dan juga seorang mufti Syafi‘iyyah. Karangankarangan beliau banyak, di antaranya Syawahid al-Ghufran ‘ala Jaliy al-Ahzan fi Fadha-il Ramadhan, Mashabihul Ghurar ‘ala Jaliyyil Qadr, dan Taj al-Ibtihaj ‘ala Dhau’ al-Wahhaj fi al-Isra’ wa al-Mi‘raj. Beliau pun menulis manaqib yang menceritakan perjalanan hidup Sayyid Ja‘far Al-Barzanji dalam kitabnya ar-Raudh al-‘Athar fi Manaqib as-Sayyid Ja‘far. Kembali kepada Sayyidi Ja‘far Al-Barzanji. Selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlaq, dan taqwanya, tetapi juga karena karamah dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk mendatangkan hujan pada musim-musim kemarau. Diceritakan, suatu ketika di musim kemarau, saat beliau sedang menyampaikan khutbah Juma’tnya, seseorang meminta beliau beristisqa’ memohon hujan. Maka dalam khutbahnya itu beliau pun berdoa memohon hujan. Doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya hingga seminggu, persis sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW dahulu. Sayyidi Ja‘far Al-Barzanji wafat di Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi‘. Sungguh besar jasa beliau. Karangannya membawa umat ingat kepada Nabi SAW, membawa umat mengasihi beliau, membawa umat merindukannya. Sayyid Ja’far Al-Barzanji adalah seorang ulama’ besar keturunan Nabi Muhammad saw dari keluarga Sa’adah Al Barzanji yang termasyur, berasal dari Barzanj di Irak. Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya. Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan pemurah. Nama nasabnya adalah 24)Sayid Ja’far ibn 23)Hasan ibn 22)Abdul Karim ibn 21)Muhammad ibn 20)Sayid Rasul ibn 19)Abdul Sayid ibn 18)Abdul Rasul ibn 17)Qalandar ibn 16)Abdul Sayid ibn 15)Isa ibn 14)Husain ibn 13)Bayazid ibn 12)Abdul Karim ibn 11)Isa ibn Ali ibn 10)Yusuf ibn 9)Mansur ibn 8)Abdul Aziz ibn 7)Abdullah ibn 6)Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn 5)Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn 4)Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn 3)Al-Imam Zainal Abidin ibn 2)Al-Imam Husain ibn 1)Sayidina Ali r.a. Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Quran dari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan dengan Syaikh Yusuf As-So’idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri.Antara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid Abdul Karim Haidar Al-Barzanji, Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi. Sayid Ja’far Al-Barzanji telah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, A’rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah. Syaikh Ja’far Al-Barzanji juga seorang Qodhi (hakim) dari madzhab Maliki yang bermukim di Madinah, merupakan salah seorang keturunan (buyut) dari cendekiawan besar Muhammad bin Abdul Rasul bin Abdul Sayyid Al-Alwi Al-Husain Al-Musawi Al-Saharzuri Al-Barzanji (1040-1103 H / 1630-1691 M), Mufti Agung dari madzhab Syafi’i di Madinah. Sang mufti (pemberi fatwa) berasal dari Shaharzur, kota kaum Kurdi di Irak, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di Kota Sang Nabi. Di sana beliau telah belajar dari ulama’-ulama’ terkenal, diantaranya Syaikh Athaallah ibn Ahmad Al-Azhari, Syaikh Abdul Wahab At-Thanthowi Al-Ahmadi, Syaikh Ahmad Al-Asybuli. Beliau juga telah diijazahkan oleh sebahagian ulama’, antaranya : Syaikh Muhammad At-Thoyib Al-Fasi, Sayid Muhammad At-Thobari, Syaikh Muhammad ibn Hasan Al A’jimi, Sayid Musthofa Al-Bakri, Syaikh Abdullah As-Syubrawi Al-Misri. Syaikh Ja’far Al-Barzanji, selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdo’a untuk hujan pada musim-musim kemarau. Setiap kali karangannya dibaca, shalawat dan salam dilatunkan buat junjungan kita Nabi Muhammad SAW, selain itu juga tidak lupa mendoakan Sayyid Ja‘far, yang telah berjasa menyebarkan keharuman pribadi dan sirah kehidupan makhluk termulia di alam raya. Semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha.
    0 Comments ·0 Shares ·8K Views ·0 Reviews
  • .*STATEMENT SYEKH HISYAM KABBANI :*
    *UMAT ISLAM BERHUTANG BUDI KEPADA PARA ULAMA' NU*

    Statement Syekh Hisyam Kabbani bahwa: "Umat Islam seluruh dunia berutang budi kepada Para Ulama' NU" mengingatkan kita pada pelajaran di madrasah dulu tentang latar belakang sejarah berdirinya Jam'iyah Nahdlatul Ulama' tersebut.

    Kerajaan Turki Utsmani yang dianggap ”Pusat Kekuasaan” politik Islam (Khalifah / Imamah ’Udhma) pada Perang Dunia I berpihak kepada Jerman dan sekutunya yang ternyata kalah.

    Sebagai pihak yang kalah perang, mengalami berbagai hal yang sangat merugikan, menyakitkan dan merendahkan martabatnya, yaitu harus menuruti kehendak yang menang perang. Pusat pemerintahannya diduduki dan daerah jajahannya dibagi-bagi di antara pihak yang menang perang.
    Irak dan sekitarnya diambil Inggris, Lebanon diambil Perancis, dan sebagainya.

    Ada yang luar biasa dari akibat kalah perangnya Turki ini :
    Pertama : Pusat kekuasaan kerajaan (negara Turki) dapat direbut/dimerdekakan bangsa Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kamal Attaturk, tidak dapat dijajah oleh yang menang perang.

    Sayangnya kemudian negara Turki baru ini berubah 180 derajat dari negara Islam. Bahkan dianggap pusat kekuasaan politik Islam, penerus Khulafaur Rasyidin, Daulah Umawiyah, Daulah Abbasiyah, dan seterusnya menjadi negara sekuler dan anti-Arab.

    Pendidikan agama di sekolah-sekolah dilarang sama sekali. Adzan tidak boleh dikumandangkan dengan bahasa Arab, harus dengan bahasa Turki dan sebagainya.

    Kedua : Wilayah Hijaz (yang wilayahnya mencakup Makkah–Madinah, dua tanah suci dalam Islam) yang tadinya termasuk wilayah kekuasaan/pengaruh Turki (di bawah pimpinan Syarif Husin), direbut oleh seorang pemimpin suku, bernama Saud, yang kemudian menobatkan diri menjadi Raja Hijaz (kemudian disebut Saudi Arabia atau Arab Saudi). Sang raja baru ini berpaham Wahabi yang fanatik sekali.

    Anti-bid’ah, anti-khurafat, dan anti-syirik secara berlebihan, sehingga yang tidak bid’ah pun, yang tidak syirik pun, dianggap bid’ah dan syirik seperti pembacaan maulid barzanji, tahlil, dan ziarah kubur sudah dilarang keras. Bahkan semua tempat bersejarah yang banyak diziarahi pun akan digusur, supaya tidak diziarahi dan dihormati, seperti makam-makam para pahlawan Islam. Ibaratnya, terlalu khawatir ada orang yang jatuh dari pohon, maka semua pohon harus ditebang. Lebih daripada itu, madzhab-madzhab selain Wahabi mengalami tekanan-tekanan dan kesulitan untuk hidup.

    Para Ulama' dan kaum muslimin Indonesia kemudian merespon perkembangan di Hijaz dengan ”Menyampaikan Langsung” apa yg menjadi aspirasi, pendirian dan cita2nya kepada Raja Saud (penguasa baru Hijaz), supaya menghentikan tindakan²nya yang anti-kebebasan bermadzhab, anti-ziarah kubur, anti-maulid barzanji, dan sebagainya.

    Para Ulama' bertekad mengumpulkan kekuatan sendiri, mengirim delegasi sendiri. Delegasi Ulama' Indonesia dengan para pengikutnya yang jutaan jumlahnya.

    Mereka membentuk ”Komite Hijaz” artinya panitia aksi untuk menanggulangi masalah Hijaz (tindakan-tindakan penguasa baru Hijaz). Dicarilah dukungan dari kaum muslimin, terutama para ulama, mengumpulkan dana, daya, pikiran, dan sebagainya. Alhamdulillah, usaha ini berhasil.

    Disusunlah ”Delegasi Ulama' dan umat Islam Indonesia” terdiri atas:
    1. K.H.A.Wahab Hasbullah (delegasi resmi).
    2. Syekh Ghanaim al-Mishri (penasihat). Warga negara Mesir, dimaksudkan agar penguasa Hijaz menghargai delegasi.
    3. K.H.M. Dachlan Kertosono (sekretaris), Nganjuk, seorang pemuda yang sedang belajar di Hijaz.

    Dengan membawa surat yang ditandatangani oleh :
    K.H.M. Hasyim Asy'ari.
    K.H.A. Wahab Hasbullah bersama Syekh Ghonaim berangkat menghadap Raja Saud, menyampaikan aspirasi, pendapat, harapan dan permohonan Para Ulama' dan Umat Islam Indonesia.

    Teryata mendapat tanggapan dan jawaban yang positif, meskipun tidak sepenuhnya diterima dan dilaksanakan. Sedikitnya, rencana penggusuran tempat-tempat dan makam-makam bersejarah dalam Islam --seperti makam Rasulullah dan dua sahabat pengganti kepemimpinannya-- dihentikan oleh Raja Saud.

    Komite Hijaz yang bersifat ADHOC ini kemudian dipermanenkan menjadi Nahdlatul Ulama' pada hari Ahad Pon, tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M.

    *Semoga bermanfaat*
    .*STATEMENT SYEKH HISYAM KABBANI :* *UMAT ISLAM BERHUTANG BUDI KEPADA PARA ULAMA' NU* Statement Syekh Hisyam Kabbani bahwa: "Umat Islam seluruh dunia berutang budi kepada Para Ulama' NU" mengingatkan kita pada pelajaran di madrasah dulu tentang latar belakang sejarah berdirinya Jam'iyah Nahdlatul Ulama' tersebut. Kerajaan Turki Utsmani yang dianggap ”Pusat Kekuasaan” politik Islam (Khalifah / Imamah ’Udhma) pada Perang Dunia I berpihak kepada Jerman dan sekutunya yang ternyata kalah. Sebagai pihak yang kalah perang, mengalami berbagai hal yang sangat merugikan, menyakitkan dan merendahkan martabatnya, yaitu harus menuruti kehendak yang menang perang. Pusat pemerintahannya diduduki dan daerah jajahannya dibagi-bagi di antara pihak yang menang perang. Irak dan sekitarnya diambil Inggris, Lebanon diambil Perancis, dan sebagainya. Ada yang luar biasa dari akibat kalah perangnya Turki ini : Pertama : Pusat kekuasaan kerajaan (negara Turki) dapat direbut/dimerdekakan bangsa Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kamal Attaturk, tidak dapat dijajah oleh yang menang perang. Sayangnya kemudian negara Turki baru ini berubah 180 derajat dari negara Islam. Bahkan dianggap pusat kekuasaan politik Islam, penerus Khulafaur Rasyidin, Daulah Umawiyah, Daulah Abbasiyah, dan seterusnya menjadi negara sekuler dan anti-Arab. Pendidikan agama di sekolah-sekolah dilarang sama sekali. Adzan tidak boleh dikumandangkan dengan bahasa Arab, harus dengan bahasa Turki dan sebagainya. Kedua : Wilayah Hijaz (yang wilayahnya mencakup Makkah–Madinah, dua tanah suci dalam Islam) yang tadinya termasuk wilayah kekuasaan/pengaruh Turki (di bawah pimpinan Syarif Husin), direbut oleh seorang pemimpin suku, bernama Saud, yang kemudian menobatkan diri menjadi Raja Hijaz (kemudian disebut Saudi Arabia atau Arab Saudi). Sang raja baru ini berpaham Wahabi yang fanatik sekali. Anti-bid’ah, anti-khurafat, dan anti-syirik secara berlebihan, sehingga yang tidak bid’ah pun, yang tidak syirik pun, dianggap bid’ah dan syirik seperti pembacaan maulid barzanji, tahlil, dan ziarah kubur sudah dilarang keras. Bahkan semua tempat bersejarah yang banyak diziarahi pun akan digusur, supaya tidak diziarahi dan dihormati, seperti makam-makam para pahlawan Islam. Ibaratnya, terlalu khawatir ada orang yang jatuh dari pohon, maka semua pohon harus ditebang. Lebih daripada itu, madzhab-madzhab selain Wahabi mengalami tekanan-tekanan dan kesulitan untuk hidup. Para Ulama' dan kaum muslimin Indonesia kemudian merespon perkembangan di Hijaz dengan ”Menyampaikan Langsung” apa yg menjadi aspirasi, pendirian dan cita2nya kepada Raja Saud (penguasa baru Hijaz), supaya menghentikan tindakan²nya yang anti-kebebasan bermadzhab, anti-ziarah kubur, anti-maulid barzanji, dan sebagainya. Para Ulama' bertekad mengumpulkan kekuatan sendiri, mengirim delegasi sendiri. Delegasi Ulama' Indonesia dengan para pengikutnya yang jutaan jumlahnya. Mereka membentuk ”Komite Hijaz” artinya panitia aksi untuk menanggulangi masalah Hijaz (tindakan-tindakan penguasa baru Hijaz). Dicarilah dukungan dari kaum muslimin, terutama para ulama, mengumpulkan dana, daya, pikiran, dan sebagainya. Alhamdulillah, usaha ini berhasil. Disusunlah ”Delegasi Ulama' dan umat Islam Indonesia” terdiri atas: 1. K.H.A.Wahab Hasbullah (delegasi resmi). 2. Syekh Ghanaim al-Mishri (penasihat). Warga negara Mesir, dimaksudkan agar penguasa Hijaz menghargai delegasi. 3. K.H.M. Dachlan Kertosono (sekretaris), Nganjuk, seorang pemuda yang sedang belajar di Hijaz. Dengan membawa surat yang ditandatangani oleh : K.H.M. Hasyim Asy'ari. K.H.A. Wahab Hasbullah bersama Syekh Ghonaim berangkat menghadap Raja Saud, menyampaikan aspirasi, pendapat, harapan dan permohonan Para Ulama' dan Umat Islam Indonesia. Teryata mendapat tanggapan dan jawaban yang positif, meskipun tidak sepenuhnya diterima dan dilaksanakan. Sedikitnya, rencana penggusuran tempat-tempat dan makam-makam bersejarah dalam Islam --seperti makam Rasulullah dan dua sahabat pengganti kepemimpinannya-- dihentikan oleh Raja Saud. Komite Hijaz yang bersifat ADHOC ini kemudian dipermanenkan menjadi Nahdlatul Ulama' pada hari Ahad Pon, tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M. *Semoga bermanfaat*
    0 Comments ·0 Shares ·8K Views ·0 Reviews
  • BIOGRAFI GUS BAHA (KH. AHMAD BAHAUDDIN NURSALIM)

    KELAHIRAN
    Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar.

    Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling. Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.

    Kiai kelahiran 1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya.

    PENDIDIKAN
    Gus Baha’ kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur’an di bawah asuhan ayahnya sendiri, KH Nursalim Al-Hafidz. Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur’an beserta Qiro’ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf.

    Menginjak usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha’ untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan Di Al Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari’at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir. Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau selama mondok di Al Anwar, seperti Rois Fathul Mu’in dan Ketua Ma’arif di jajaran kepengurusan Pesantren Al Anwar.

    Saat mondok di Al Anwar ini pula beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika arab seperti ‘Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

    Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan beliau tersebut menjadikan beliau sebagai santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di era beliau. Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan beliau ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan beliau.

    Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta’bir dan menerima tamu-tamu ulama’-ulama’ besar yang berkunjung ke Al Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair.

    Pernah pada suatu ketika beliau dipanggil untuk mencarikan ta’bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta’bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan “Iyo ha’… Koe pancen cerdas tenan” (Iya ha’… Kamu memang benar-benar cerdas).

    Selain itu Gus Baha’ juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa’izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. “Santri tenan iku yo koyo baha’ iku….” (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha’ itu….) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina.

    Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga beliau mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, beliau hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan Pesantren Al Anwar Karangmangu, Rembang. Pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.

    PERNIKAHANNYA
    Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang, beliau menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Ada cerita menarik sehubungan dengan pernikahan beliau. Diriwayatkan, setelah acara lamaran selesai, beliau menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangan beliau hingga kini. Beliau mengutarakan bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yang glamor, bahkan sangat sederhana.

    Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebut. Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari. Mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan “klop” alias sami mawon kalih kulo.

    Kesederhanaan beliau ini dibuktikan saat beliau berangkat ke pesantren Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular alias bus biasa kelas ekonomi. Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil.

    KEAKHLAKANNYA
    Beliau hidup sederhana bukan karena keluarga beliau miskin. Dari silsilah keluarga beliau dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga di mana beliau diasuh semenjak kecil, tiada satu keluargapun yang miskin.

    Bahkan kakek beliau dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis perihal kesederhanaan beliau, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur’an yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya.

    Bahkan salah satu wasiat dari ayahnya adalah agar beliau menghindari keinginan untuk menjadi ‘manusia mulia’ dari pandangan keumuman makhluk atau lingkungannya. Hal inilah yang hingga kini mewarnai kepribadian dan kehidupan beliau sehari-hari.

    Setelah menikah beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Beliau menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

    Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya. Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogya dan urunan atau patungan untuk menyewa rumah di dekat rumah beliau. Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepada beliau. Ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin Al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogya saat itu. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau.

    Pada tahun 2005 ayah beliau KH. Nursalim jatuh sakit. Beliau pulang sementara waktu untuk ikut merawat ayah beliau bersama keempat saudaranya. Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha’ tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab beliau diamanahi oleh ayah beliau untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.

    Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan beliau ke Narukan. Akhirnya para santri beliaupun, sowan dan meminta beliau kerso kembali ke Yogya. Hingga pada gilirannya beliau bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, beliau juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir Al-Qur’an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta.

    KEILMUANNYA
    Selain Yogyakarta beliau juga diminta untuk mengasuh PengajianTafsir Al-Qur’an di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Yogya minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya. Hal ini beliau jalani secara rutin sejak 2006 hingga kini. Di UII beliau adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII. Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur’an dari seantero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

    Suatu kali beliau ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur’an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar. Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

    Hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur’an. Setiap kali lajnah ‘menggarap’ tafsir dan Mushaf Al-Qur’an,

    Posisi beliau selalu di dua keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur’an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur’an.

    __________
    Sumber artikel: https://www.laduni.id/post/read/66908/biografi-gus-baha-kh-ahmad-bahauddin-nursalim

    Wahai Pecinta Gus Baha !!!

    Mari miliki Al-Qur'an dan Terjemahan UII Gus Baha Tim Ahli. Gus Baha' menjadi korektor naskah sekaligus tim ahli terjemahan ini.

    BEBERAPA KEISTIMEWAAN DARI AL QUR'AN TERJEMAH UII- GUS BAHA' TIM AHLI

    1. Memperbaiki teks terjemah Al Qur'an secara menyeluruh.

    2. Memperbaharui pengesahan Departemen Agama Republik Indonesia.

    3. Meneliti kembali terjemahan dengan merujuk ke kitab-kitab lama dan baru.

    4. Memberi sisipan dan keterangan singkat yang memudahkan pemahaman.

    5. Membubuhi catatan kaki bagi kata/kalimat yang memerlukan penjelasan.

    6. Mengisi hadits yang berkait dengan suatu ayat pada beberapa tempat kosong.

    7. Menyusuli penjelasan pada Mukaddimah yang dapat membantu pemahaman.

    8. Menambah dengan indeks tematik sebagai petunjuk praktis tentang kandungan Al Qur'an.

    9. Mengambil satu pengertian,jika terjadi ikhtilaf antara Ulama' tafsir.

    Edisi terbitan awal ada box-nya. Dua jilid. Sekarang edisi terbaru hanya satu jilid.

    "Lewat proses yang panjang dan melibatkan Tim, diantaranya saya, terbitlah terjemah (Al-Quran) versi UII. Diantara ciri khas (Al-Quran) terjemahan UII adalah bahwa bahasa arab yang tentu mengandung kesusastraan arab, balaghah, kemudian ditransfer untuk pembaca Indonesia sehingga diantara ciri khas (Al-Quran) terjemahan UII adalah dengan rasa Indonesia dan tentu tidak mengubah makna." (Gus Baha')

    Tebal xIiv 1.128 hlm.
    Ukuran 15,5 x 20,5 x 4,5 cm
    Harga Rp 175.000

    Bisa COD/bayar di tempat

    Pemesanan via WA
    https://wa.me/6287761260500

    Pemesanan via Shopee
    https://shopee.co.id/product/38727360/22105184919?smtt=0.38728746-1668272228.9

    Al-Qur'an terjemahannya, cek klik
    https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=142945871854586&id=100084175217910
    BIOGRAFI GUS BAHA (KH. AHMAD BAHAUDDIN NURSALIM) KELAHIRAN Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling. Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin. Kiai kelahiran 1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya. PENDIDIKAN Gus Baha’ kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur’an di bawah asuhan ayahnya sendiri, KH Nursalim Al-Hafidz. Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur’an beserta Qiro’ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf. Menginjak usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha’ untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan Di Al Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari’at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir. Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau selama mondok di Al Anwar, seperti Rois Fathul Mu’in dan Ketua Ma’arif di jajaran kepengurusan Pesantren Al Anwar. Saat mondok di Al Anwar ini pula beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika arab seperti ‘Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik. Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan beliau tersebut menjadikan beliau sebagai santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di era beliau. Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan beliau ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan beliau. Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta’bir dan menerima tamu-tamu ulama’-ulama’ besar yang berkunjung ke Al Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair. Pernah pada suatu ketika beliau dipanggil untuk mencarikan ta’bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta’bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan “Iyo ha’… Koe pancen cerdas tenan” (Iya ha’… Kamu memang benar-benar cerdas). Selain itu Gus Baha’ juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa’izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. “Santri tenan iku yo koyo baha’ iku….” (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha’ itu….) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina. Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga beliau mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, beliau hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan Pesantren Al Anwar Karangmangu, Rembang. Pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA. PERNIKAHANNYA Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang, beliau menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Ada cerita menarik sehubungan dengan pernikahan beliau. Diriwayatkan, setelah acara lamaran selesai, beliau menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangan beliau hingga kini. Beliau mengutarakan bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yang glamor, bahkan sangat sederhana. Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebut. Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari. Mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan “klop” alias sami mawon kalih kulo. Kesederhanaan beliau ini dibuktikan saat beliau berangkat ke pesantren Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular alias bus biasa kelas ekonomi. Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil. KEAKHLAKANNYA Beliau hidup sederhana bukan karena keluarga beliau miskin. Dari silsilah keluarga beliau dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga di mana beliau diasuh semenjak kecil, tiada satu keluargapun yang miskin. Bahkan kakek beliau dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis perihal kesederhanaan beliau, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur’an yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya. Bahkan salah satu wasiat dari ayahnya adalah agar beliau menghindari keinginan untuk menjadi ‘manusia mulia’ dari pandangan keumuman makhluk atau lingkungannya. Hal inilah yang hingga kini mewarnai kepribadian dan kehidupan beliau sehari-hari. Setelah menikah beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Beliau menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya. Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogya dan urunan atau patungan untuk menyewa rumah di dekat rumah beliau. Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepada beliau. Ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin Al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogya saat itu. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau. Pada tahun 2005 ayah beliau KH. Nursalim jatuh sakit. Beliau pulang sementara waktu untuk ikut merawat ayah beliau bersama keempat saudaranya. Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha’ tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab beliau diamanahi oleh ayah beliau untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan. Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan beliau ke Narukan. Akhirnya para santri beliaupun, sowan dan meminta beliau kerso kembali ke Yogya. Hingga pada gilirannya beliau bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, beliau juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir Al-Qur’an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta. KEILMUANNYA Selain Yogyakarta beliau juga diminta untuk mengasuh PengajianTafsir Al-Qur’an di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Yogya minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya. Hal ini beliau jalani secara rutin sejak 2006 hingga kini. Di UII beliau adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII. Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur’an dari seantero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain. Suatu kali beliau ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur’an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar. Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional. Hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur’an. Setiap kali lajnah ‘menggarap’ tafsir dan Mushaf Al-Qur’an, Posisi beliau selalu di dua keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur’an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur’an. __________ Sumber artikel: https://www.laduni.id/post/read/66908/biografi-gus-baha-kh-ahmad-bahauddin-nursalim Wahai Pecinta Gus Baha !!! Mari miliki Al-Qur'an dan Terjemahan UII Gus Baha Tim Ahli. Gus Baha' menjadi korektor naskah sekaligus tim ahli terjemahan ini. BEBERAPA KEISTIMEWAAN DARI AL QUR'AN TERJEMAH UII- GUS BAHA' TIM AHLI 1. Memperbaiki teks terjemah Al Qur'an secara menyeluruh. 2. Memperbaharui pengesahan Departemen Agama Republik Indonesia. 3. Meneliti kembali terjemahan dengan merujuk ke kitab-kitab lama dan baru. 4. Memberi sisipan dan keterangan singkat yang memudahkan pemahaman. 5. Membubuhi catatan kaki bagi kata/kalimat yang memerlukan penjelasan. 6. Mengisi hadits yang berkait dengan suatu ayat pada beberapa tempat kosong. 7. Menyusuli penjelasan pada Mukaddimah yang dapat membantu pemahaman. 8. Menambah dengan indeks tematik sebagai petunjuk praktis tentang kandungan Al Qur'an. 9. Mengambil satu pengertian,jika terjadi ikhtilaf antara Ulama' tafsir. Edisi terbitan awal ada box-nya. Dua jilid. Sekarang edisi terbaru hanya satu jilid. "Lewat proses yang panjang dan melibatkan Tim, diantaranya saya, terbitlah terjemah (Al-Quran) versi UII. Diantara ciri khas (Al-Quran) terjemahan UII adalah bahwa bahasa arab yang tentu mengandung kesusastraan arab, balaghah, kemudian ditransfer untuk pembaca Indonesia sehingga diantara ciri khas (Al-Quran) terjemahan UII adalah dengan rasa Indonesia dan tentu tidak mengubah makna." (Gus Baha') Tebal xIiv 1.128 hlm. Ukuran 15,5 x 20,5 x 4,5 cm Harga Rp 175.000 Bisa COD/bayar di tempat Pemesanan via WA https://wa.me/6287761260500 Pemesanan via Shopee https://shopee.co.id/product/38727360/22105184919?smtt=0.38728746-1668272228.9 Al-Qur'an terjemahannya, cek klik👇 https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=142945871854586&id=100084175217910
    0 Comments ·0 Shares ·15K Views ·0 Reviews
  • Tugas Filolog: Teori dan Aplikasinya dalam Naskah-Naskah Melayu

    Tebal 350 hlm, format ukuran besar
    Buku baru, original
    Harga 95 ribu
    Order wa.me/628815220921

    Bangsa Indonesia mempunyai dokumen yang melimpah tentang perjalanan bangsanya. Dokumen tersebut berupa karya sastra yang berbentuk tulisan tangan atau teks tulisan tangan (Ing. Manuscript dengan singkatan ms untuk tunggal dan mss untuk jamak; Bld. Handscrift dengan singkatan hs untuk tunggal dan hss untuk jamak, Arab: Turats) dan sering disebut sebagai karya sastra Indonesia klasik atau lama atau tradisional. Manuscript atau Handscrift atau Turats tersebut mengandung berbagai informasi yang melimpah, antara lain berbagai pemikiran, pengetahuan, adat istiadat, kesastraan, filsafat, kearifan, perilaku masyarakat Indonesia masa lalu, hasil karya nenek moyang masa lalu, pengetahuan agama, dan lain sebagainya yang dapat ditarik relevansinya dengan kehidupan bangsa Indonesia masa kini.

    Sayangnya, sampai saat ini banyak manuskrip yang dimiliki bangsa Indonesia masih neglected dan kondisinya sudah rapuh dan rusak karena dimakan jaman dan kutu buku. Karena itulah, agar kandungan Manuscript atau Handscrift atau Tur?ts tersebut dapat dibaca dan dipahami oleh generasi muda Indonesia sekarang, maka diperlukan para filolog yang dapat mengungkap kandungan isinya sehingga dapat memberikan inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk membangun bangsanya menjadi bangsa yang besar, maju, dan kokoh di masa-masa yang akan datang.

    Tugas filolog dipandang berat karena ia tidak hanya sekedar menghadapi naskah-naskah yang dipandang sakit dan bahkan kondisinya parah, tetapi ia harus merestorasi atau menyehatkan lebih dahulu melalui kerja filologi. Kerja filologi yang dimaksud meliputi inventarisasi naskah, deskripsi naskah, perbandingan naskah dalam satu judul apabila naskah yang telah didapatkan lebih dari satu judul, penentuan naskah yang akan dijadikan dasar suntingan teks, dan penyuntingan teksnya. Kesemuanya itu merupakan tugas pertama filolog dalam penyajian teks (presenting the text).

    Setelah tugas filolog yang pertama di atas dapat dilakukan dengan baik, filolog dapat menjalankan tugas berikutnya, yaitu melakukan penelitian lebih lanjut yang berupa analisis isi (kandungan) naskah. Analisis isi naskah merupakan tugas filolog yang kedua, yaitu interpretasi teks (interpreting the text). Analisis isi naskah dapat berupa analisis linguistik atau analisis sastra. Analisis sastra dapat berupa analisis struktur cerita, tema dan fungsinya, pengaruh asing, latar belakang kebudayaan, ataupun unsur-unsur lain yang berperan dalam teksnya. Semuanya itu dapat dianalisis dengan memanfaatkan salah satu teori dan metode sastra modern sesuai dengan kondisi dan situasi teks yang dihadapi oleh peneliti. Dengan demikian, isi (kandungan) naskah akan dapat dibaca dengan mudah dan diketahui secara luas oleh generasi muda masa kini dan para pembaca lainnya.
    Tugas Filolog: Teori dan Aplikasinya dalam Naskah-Naskah Melayu Tebal 350 hlm, format ukuran besar Buku baru, original Harga 95 ribu Order wa.me/628815220921 Bangsa Indonesia mempunyai dokumen yang melimpah tentang perjalanan bangsanya. Dokumen tersebut berupa karya sastra yang berbentuk tulisan tangan atau teks tulisan tangan (Ing. Manuscript dengan singkatan ms untuk tunggal dan mss untuk jamak; Bld. Handscrift dengan singkatan hs untuk tunggal dan hss untuk jamak, Arab: Turats) dan sering disebut sebagai karya sastra Indonesia klasik atau lama atau tradisional. Manuscript atau Handscrift atau Turats tersebut mengandung berbagai informasi yang melimpah, antara lain berbagai pemikiran, pengetahuan, adat istiadat, kesastraan, filsafat, kearifan, perilaku masyarakat Indonesia masa lalu, hasil karya nenek moyang masa lalu, pengetahuan agama, dan lain sebagainya yang dapat ditarik relevansinya dengan kehidupan bangsa Indonesia masa kini. Sayangnya, sampai saat ini banyak manuskrip yang dimiliki bangsa Indonesia masih neglected dan kondisinya sudah rapuh dan rusak karena dimakan jaman dan kutu buku. Karena itulah, agar kandungan Manuscript atau Handscrift atau Tur?ts tersebut dapat dibaca dan dipahami oleh generasi muda Indonesia sekarang, maka diperlukan para filolog yang dapat mengungkap kandungan isinya sehingga dapat memberikan inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk membangun bangsanya menjadi bangsa yang besar, maju, dan kokoh di masa-masa yang akan datang. Tugas filolog dipandang berat karena ia tidak hanya sekedar menghadapi naskah-naskah yang dipandang sakit dan bahkan kondisinya parah, tetapi ia harus merestorasi atau menyehatkan lebih dahulu melalui kerja filologi. Kerja filologi yang dimaksud meliputi inventarisasi naskah, deskripsi naskah, perbandingan naskah dalam satu judul apabila naskah yang telah didapatkan lebih dari satu judul, penentuan naskah yang akan dijadikan dasar suntingan teks, dan penyuntingan teksnya. Kesemuanya itu merupakan tugas pertama filolog dalam penyajian teks (presenting the text). Setelah tugas filolog yang pertama di atas dapat dilakukan dengan baik, filolog dapat menjalankan tugas berikutnya, yaitu melakukan penelitian lebih lanjut yang berupa analisis isi (kandungan) naskah. Analisis isi naskah merupakan tugas filolog yang kedua, yaitu interpretasi teks (interpreting the text). Analisis isi naskah dapat berupa analisis linguistik atau analisis sastra. Analisis sastra dapat berupa analisis struktur cerita, tema dan fungsinya, pengaruh asing, latar belakang kebudayaan, ataupun unsur-unsur lain yang berperan dalam teksnya. Semuanya itu dapat dianalisis dengan memanfaatkan salah satu teori dan metode sastra modern sesuai dengan kondisi dan situasi teks yang dihadapi oleh peneliti. Dengan demikian, isi (kandungan) naskah akan dapat dibaca dengan mudah dan diketahui secara luas oleh generasi muda masa kini dan para pembaca lainnya.
    0 Comments ·0 Shares ·4K Views ·0 Reviews
  • Rahasia haji-umroh berkali-kali Syaikhina Maimoen Zubair : Ziarah makam Sayyidina Abdullah Bin Umar

    Almarhum Mbah Moen pernah berpesan kepada guru saya Yai Ahmad Dawam Afandi seorang pakar nahwu yang dijuluki Sibawaih-nya Sarang :

    "Cung, kuwe nek kepingin haji lan umroh bolak-balik,ojo lali ziaroh Sayyidina Abdullah bin Umar.
    Mergo Abdullah bin Umar seng duwe sanade... "

    ( kamu kalo ingin haji dan umroh berkali-kali jangan lupa ziarah makam Sayyidina Abdullah Bin Umar, karena beliau yang punya sanadnya )

    Mbah Moen tidak menjelaskan secara detail sanad apa yang beliau maksud, namun bisa jadi yang di maksut beliau adalah sanad Ittiba’ kepada Rasulullah Saw. Sahabat yang juga terkenal sebagai salah satu perowi hadits terbanyak ini terkenal sebagai

    أشد الصحابة إتباعا لرسول الله صلى الله عليه و سلم

    “ Sahabat yang paling getol mengikuti jejak dan gerak-gerik Baginda Nabi Saw “

    Al-Imam Mujahid salah satu pembesar Ulama Tafsir mengenang :

    “ suatu ketika aku pernah bersama Abdullah Bin Umar dalam satu perjalanan. Tiba-tiba beliau berbelok di satu jalan, padahal disitu tidak ada belokan. Ketika aku menanyakan mengapa beliau melakukan itu, ia menjawab :

    “ aku pernah melihat Rasulullah Saw melakukannya, maka aku juga melakukannya “

    Sebagian Tabi’in juga mengatakan :

    “ andaikan engkau melihat sendiri bagaimana getolnya Abdullah Bin Umar dalam mengikuti setiap detail gerak-gerik Rasulullah Saw maka engkau akan berkata ia adalah orang gila “

    menurut salah satu Syarah Syamail Tirmidzi Sayidina Abdulloh bin Umar ketika hidupnya pernah berhaji 60 kali dan umroh 1000 kali

    Kemarin sore saya menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Sayyidina Abdullah Bin Umar di Makkatul Mukarromah tepatnya di Syari’ Syuhada ( klik saja di Google Maps Qobr Sayyidina Abdullah Bin Umar ). sebagian kutub tarojim mengatakan jika beliau wafat karena diracun oleh Hajjaj Bin Yusuf At-Tsaqofi, uniknya Hajjaj pula yang menyolati beliau.

    Ada 2 versi makam beliau, dan kedua pemakaman ini saling bersebrangan. Dipisahkan oleh jalan kecil dan hanya berjarak selemparan batu.
    Uniknya perdebatan tentang mana letak makam Sayyidina Abdullah Bin Umar ini pernah dimuat oleh Okaz surat kabar termasyhur di Arab Saudi. disitu dijelaskan bahwa Dosen Universitas Ummul Qura Mekkah Dr. Fawwaz Al-Dahas mengatakan bahwa letak makam Sayyidina Abdullah Bin Umar bukan di pemakaman para Syuhada’ yang selama ini viral, beliau di makamkan di Haith Khirman, hal ini dikuatkan oleh data-data yang diutarakan oleh pakar sejarah Mekkah seperti Al-Azraqi dan Al-Faqihi. Sayangnya saya juga belum bisa memastikan Haith Khirman itu pemakaman yang sebelah kiri atau kanan, pastinya di salah satunya Sayyidina Abdullah Bin Umar bersemayam. Tidak ada salahnya menziarahi dua-duanya. Khurujan minal khilaf.

    Makam Sayyidina Abdullah Bin Umar yang tidak “dilenyapkan”, juga proyek Bi’r Thuwa ( sumur tempat Rasulullah Saw mandi bersama 4 khulafa’ Rosyidin ), Masjid Ku’ Thoif yang mulai dibangun ( tempat Rasulullah Saw beristirahat setelah dikejar dan dilempari batu oleh penduduk Thaif ) seperti mengindikasikan bahwa Arab Saudi sudah mulai berbenah, Tempat-tempat bersejarah yang dulu disembunyikan bahkan dilenyapkan ( dengan alasan agar tidak di-syirik-i dan di tabarruki) kini mulai diperhatikan kembali. sudah banyak yang menyadari bahwa fikroh anti-tabarruk ala wahhabi adalah pemikiran kolot yang sudah basi dan tidak laku. Tentunya ini adalah prospek cerah bagi kita untuk bisa ngalap berkah sebanyak-banyaknya dari peninggalan-peninggalan Rasulullah Saw dan para sahabat-sahabat beliau yang mulia.

    Foto ( 1 ) : makam Sayyidina Abdullah Bin Umar menurut salah satu versi, disitu juga dikatakan ada bekas musholla beliau dan makam Sahabat Sa’ad Bin Abi Waqqash

    Foto (2) : Makam Sayyidina Abdullah Bin Umar yang selama ini viral dan banyak diziarahi

    Foto (3) : Foto bersama Ustadz Ahmad Guide Ziarah yang diutus oleh Yai Tajul Utsman Al-Ishaqi untuk menemani saya di tangga sebelah makam Sayyidina Abdullah Bin Umar versi (1)

    Sekian, Ismael Al-Kholilie melaporkan dari Makkah Al-Mukarromah

    Makkah, 10 Juli, 00:07 Waktu Arab Saudi.
    Rahasia haji-umroh berkali-kali Syaikhina Maimoen Zubair : Ziarah makam Sayyidina Abdullah Bin Umar Almarhum Mbah Moen pernah berpesan kepada guru saya Yai Ahmad Dawam Afandi seorang pakar nahwu yang dijuluki Sibawaih-nya Sarang : "Cung, kuwe nek kepingin haji lan umroh bolak-balik,ojo lali ziaroh Sayyidina Abdullah bin Umar. Mergo Abdullah bin Umar seng duwe sanade... " ( kamu kalo ingin haji dan umroh berkali-kali jangan lupa ziarah makam Sayyidina Abdullah Bin Umar, karena beliau yang punya sanadnya ) Mbah Moen tidak menjelaskan secara detail sanad apa yang beliau maksud, namun bisa jadi yang di maksut beliau adalah sanad Ittiba’ kepada Rasulullah Saw. Sahabat yang juga terkenal sebagai salah satu perowi hadits terbanyak ini terkenal sebagai أشد الصحابة إتباعا لرسول الله صلى الله عليه و سلم “ Sahabat yang paling getol mengikuti jejak dan gerak-gerik Baginda Nabi Saw “ Al-Imam Mujahid salah satu pembesar Ulama Tafsir mengenang : “ suatu ketika aku pernah bersama Abdullah Bin Umar dalam satu perjalanan. Tiba-tiba beliau berbelok di satu jalan, padahal disitu tidak ada belokan. Ketika aku menanyakan mengapa beliau melakukan itu, ia menjawab : “ aku pernah melihat Rasulullah Saw melakukannya, maka aku juga melakukannya “ Sebagian Tabi’in juga mengatakan : “ andaikan engkau melihat sendiri bagaimana getolnya Abdullah Bin Umar dalam mengikuti setiap detail gerak-gerik Rasulullah Saw maka engkau akan berkata ia adalah orang gila “ menurut salah satu Syarah Syamail Tirmidzi Sayidina Abdulloh bin Umar ketika hidupnya pernah berhaji 60 kali dan umroh 1000 kali Kemarin sore saya menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Sayyidina Abdullah Bin Umar di Makkatul Mukarromah tepatnya di Syari’ Syuhada ( klik saja di Google Maps Qobr Sayyidina Abdullah Bin Umar ). sebagian kutub tarojim mengatakan jika beliau wafat karena diracun oleh Hajjaj Bin Yusuf At-Tsaqofi, uniknya Hajjaj pula yang menyolati beliau. Ada 2 versi makam beliau, dan kedua pemakaman ini saling bersebrangan. Dipisahkan oleh jalan kecil dan hanya berjarak selemparan batu. Uniknya perdebatan tentang mana letak makam Sayyidina Abdullah Bin Umar ini pernah dimuat oleh Okaz surat kabar termasyhur di Arab Saudi. disitu dijelaskan bahwa Dosen Universitas Ummul Qura Mekkah Dr. Fawwaz Al-Dahas mengatakan bahwa letak makam Sayyidina Abdullah Bin Umar bukan di pemakaman para Syuhada’ yang selama ini viral, beliau di makamkan di Haith Khirman, hal ini dikuatkan oleh data-data yang diutarakan oleh pakar sejarah Mekkah seperti Al-Azraqi dan Al-Faqihi. Sayangnya saya juga belum bisa memastikan Haith Khirman itu pemakaman yang sebelah kiri atau kanan, pastinya di salah satunya Sayyidina Abdullah Bin Umar bersemayam. Tidak ada salahnya menziarahi dua-duanya. Khurujan minal khilaf. Makam Sayyidina Abdullah Bin Umar yang tidak “dilenyapkan”, juga proyek Bi’r Thuwa ( sumur tempat Rasulullah Saw mandi bersama 4 khulafa’ Rosyidin ), Masjid Ku’ Thoif yang mulai dibangun ( tempat Rasulullah Saw beristirahat setelah dikejar dan dilempari batu oleh penduduk Thaif ) seperti mengindikasikan bahwa Arab Saudi sudah mulai berbenah, Tempat-tempat bersejarah yang dulu disembunyikan bahkan dilenyapkan ( dengan alasan agar tidak di-syirik-i dan di tabarruki) kini mulai diperhatikan kembali. sudah banyak yang menyadari bahwa fikroh anti-tabarruk ala wahhabi adalah pemikiran kolot yang sudah basi dan tidak laku. Tentunya ini adalah prospek cerah bagi kita untuk bisa ngalap berkah sebanyak-banyaknya dari peninggalan-peninggalan Rasulullah Saw dan para sahabat-sahabat beliau yang mulia. Foto ( 1 ) : makam Sayyidina Abdullah Bin Umar menurut salah satu versi, disitu juga dikatakan ada bekas musholla beliau dan makam Sahabat Sa’ad Bin Abi Waqqash Foto (2) : Makam Sayyidina Abdullah Bin Umar yang selama ini viral dan banyak diziarahi Foto (3) : Foto bersama Ustadz Ahmad Guide Ziarah yang diutus oleh Yai Tajul Utsman Al-Ishaqi untuk menemani saya di tangga sebelah makam Sayyidina Abdullah Bin Umar versi (1) Sekian, Ismael Al-Kholilie melaporkan dari Makkah Al-Mukarromah Makkah, 10 Juli, 00:07 Waktu Arab Saudi.
    Love
    Like
    3
    · 0 Comments ·0 Shares ·6K Views ·0 Reviews
Upgrade to Pro
Choose the Plan That's Right for You
The Power of Nahdliyyin Kultural https://nahdliyyin.net