• Prahara PBNU Berakhir, Menang Tanpa Pemenang

    Tarik nafas dulu, lalu seruput Koptagul. Akhirnya, prahara yang mengguncang PBNU berbulan-bulan berakhir islah alias damai. Kedua belah pihak sepakat gelar MLB bersama. Ponpes Lirboyo berperan besar mendamaikan dua kubu tersebut. Simak narasinya, wak!

    Jika konflik PBNU kemarin adalah khilafiyah, maka Lirboyo Kamis itu adalah kitab ushul fikih yang dibuka tepat di halaman maqashid. Di sana, pada 25 Desember 2025, para nahdliyin seperti melihat langsung bagaimana “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih” turun dari kitab kuning dan menjelma kursi panjang, meja kayu, dan dua tokoh besar yang akhirnya duduk tanpa saling menyela. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bertemu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, diprakarsai para Masyayikh dan Mustasyar. Bukan adegan duel, tapi istishlah berjamaah. Para santri mungkin tak bersorak, tapi para nahdliyin di luar sana langsung sujud syukur, karena ini bukan sekadar damai, ini rujuknya nalar jam’iyah.

    Berbulan-bulan sebelumnya, PBNU terasa seperti perdebatan ushul fikih yang lupa kesimpulan. Pemberhentian Ketua Umum oleh Rais Aam melalui forum yang dinilai tidak sah dan tak sesuai AD/ART NU membuat istidlal berlarut-larut. Satu pihak merasa dalilnya qath’i, pihak lain bersumpah itu masih zhanni. Eskalasi konflik naik, silaturahim menipis, dan jam’iyah nyaris terjebak dalam qiyas yang terlalu jauh dari ‘illat maslahat. Maka para sesepuh turun tangan, seperti mujtahid senior yang mengetuk meja dan berkata: cukup, kita kembali ke kaidah.

    Musyawarah Kubro di Lirboyo adalah majelis tarjih versi NU. Di sana hadir para Masyayikh, para kiai sepuh, dan Mustasyar PBNU. KH Ma’ruf Amin, Mustasyar PBNU sekaligus Wakil Presiden RI 2019–2024, ikut menegaskan bobot moral pertemuan itu. Mereka tak membawa palu hakim, melainkan neraca istihsan. Dalam siaran pers-nya, tergambar jelas dua pucuk pimpinan PBNU bertemu dalam satu meja, sengketa berbulan-bulan diakhiri, dan satu kesepakatan besar disepakati, Muktamar ke-35 NU diselenggarakan bersama.
    Gus Yahya menyebut peristiwa itu menyejukkan. Kalimatnya sederhana, tapi bagi nahdliyin terdengar seperti kesimpulan bahtsul masail. Solusi terbaik bagi jam’iyah adalah Muktamar bersama. Ini bukan jalan pintas, ini jalan lurus. Negosiasi berjalan alot, perdebatan keras, tapi tetap dalam ukhuwah nahdliyah. Seperti khilaf fiqhiyah klasik, nada boleh tinggi, adab tak boleh jatuh.

    Kesepakatan itu menegaskan kepemimpinan PBNU tetap berjalan dengan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum hingga Muktamar. Panitia Bersama segera dibentuk untuk menyiapkan forum tertinggi jam’iyah itu. Gus Yahya menegaskan Muktamar akan disukseskan secara damai dan bermartabat, seolah menutup pembahasan dengan kaidah sadd dzari’ah, menutup pintu konflik, membuka pintu maslahat.

    Namun NU terlalu jujur untuk berdandan. Gus Ulil Abshar Abdalla mengingatkan konflik belum sepenuhnya berakhir. Islah ini lahir dari rapat konsultasi Syuriyah PBNU yang dihadiri Rais Aam beserta jajaran Syuriyah, Ketua Umum beserta Tanfidziyah, dan para Mustasyar. Inisiatif musyawarah telah digelar di Ploso, Tebuireng, hingga puncaknya Musyawarah Kubro di Lirboyo pada 1 Rajab 1447 H atau 21 Desember 2025, dihadiri PW dan PC NU se-Indonesia. Prosesnya panjang, karena luka organisasi tak bisa disembuhkan dengan fatwa kilat.

    Lalu beredarlah pesan berantai di grup WA nahdliyin, seperti ijma’ digital. Tabayun telah terjadi, Ketum dan Rais Aam sepakat Muktamar bersama yang legitimate, waktu dan teknis ditentukan bersama melalui kepanitiaan bersama. Di titik ini, para nahdliyin tahu, inilah fiqh islah. Bukan siapa menang siapa kalah, tapi bagaimana jam’iyah tetap hidup. Maka sujud syukur pun terasa sah, karena maslahat telah ditemukan, dan NU kembali pulang ke ushulnya sendiri.

    Foto Ai hanya ilustrasi

    Rosadi Jamani
    Ketua Satupena Kalbar
    #camanewak
    #jurnalismeyangmenyapa
    #JYM
    Prahara PBNU Berakhir, Menang Tanpa Pemenang Tarik nafas dulu, lalu seruput Koptagul. Akhirnya, prahara yang mengguncang PBNU berbulan-bulan berakhir islah alias damai. Kedua belah pihak sepakat gelar MLB bersama. Ponpes Lirboyo berperan besar mendamaikan dua kubu tersebut. Simak narasinya, wak! Jika konflik PBNU kemarin adalah khilafiyah, maka Lirboyo Kamis itu adalah kitab ushul fikih yang dibuka tepat di halaman maqashid. Di sana, pada 25 Desember 2025, para nahdliyin seperti melihat langsung bagaimana “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih” turun dari kitab kuning dan menjelma kursi panjang, meja kayu, dan dua tokoh besar yang akhirnya duduk tanpa saling menyela. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bertemu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, diprakarsai para Masyayikh dan Mustasyar. Bukan adegan duel, tapi istishlah berjamaah. Para santri mungkin tak bersorak, tapi para nahdliyin di luar sana langsung sujud syukur, karena ini bukan sekadar damai, ini rujuknya nalar jam’iyah. Berbulan-bulan sebelumnya, PBNU terasa seperti perdebatan ushul fikih yang lupa kesimpulan. Pemberhentian Ketua Umum oleh Rais Aam melalui forum yang dinilai tidak sah dan tak sesuai AD/ART NU membuat istidlal berlarut-larut. Satu pihak merasa dalilnya qath’i, pihak lain bersumpah itu masih zhanni. Eskalasi konflik naik, silaturahim menipis, dan jam’iyah nyaris terjebak dalam qiyas yang terlalu jauh dari ‘illat maslahat. Maka para sesepuh turun tangan, seperti mujtahid senior yang mengetuk meja dan berkata: cukup, kita kembali ke kaidah. Musyawarah Kubro di Lirboyo adalah majelis tarjih versi NU. Di sana hadir para Masyayikh, para kiai sepuh, dan Mustasyar PBNU. KH Ma’ruf Amin, Mustasyar PBNU sekaligus Wakil Presiden RI 2019–2024, ikut menegaskan bobot moral pertemuan itu. Mereka tak membawa palu hakim, melainkan neraca istihsan. Dalam siaran pers-nya, tergambar jelas dua pucuk pimpinan PBNU bertemu dalam satu meja, sengketa berbulan-bulan diakhiri, dan satu kesepakatan besar disepakati, Muktamar ke-35 NU diselenggarakan bersama. Gus Yahya menyebut peristiwa itu menyejukkan. Kalimatnya sederhana, tapi bagi nahdliyin terdengar seperti kesimpulan bahtsul masail. Solusi terbaik bagi jam’iyah adalah Muktamar bersama. Ini bukan jalan pintas, ini jalan lurus. Negosiasi berjalan alot, perdebatan keras, tapi tetap dalam ukhuwah nahdliyah. Seperti khilaf fiqhiyah klasik, nada boleh tinggi, adab tak boleh jatuh. Kesepakatan itu menegaskan kepemimpinan PBNU tetap berjalan dengan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum hingga Muktamar. Panitia Bersama segera dibentuk untuk menyiapkan forum tertinggi jam’iyah itu. Gus Yahya menegaskan Muktamar akan disukseskan secara damai dan bermartabat, seolah menutup pembahasan dengan kaidah sadd dzari’ah, menutup pintu konflik, membuka pintu maslahat. Namun NU terlalu jujur untuk berdandan. Gus Ulil Abshar Abdalla mengingatkan konflik belum sepenuhnya berakhir. Islah ini lahir dari rapat konsultasi Syuriyah PBNU yang dihadiri Rais Aam beserta jajaran Syuriyah, Ketua Umum beserta Tanfidziyah, dan para Mustasyar. Inisiatif musyawarah telah digelar di Ploso, Tebuireng, hingga puncaknya Musyawarah Kubro di Lirboyo pada 1 Rajab 1447 H atau 21 Desember 2025, dihadiri PW dan PC NU se-Indonesia. Prosesnya panjang, karena luka organisasi tak bisa disembuhkan dengan fatwa kilat. Lalu beredarlah pesan berantai di grup WA nahdliyin, seperti ijma’ digital. Tabayun telah terjadi, Ketum dan Rais Aam sepakat Muktamar bersama yang legitimate, waktu dan teknis ditentukan bersama melalui kepanitiaan bersama. Di titik ini, para nahdliyin tahu, inilah fiqh islah. Bukan siapa menang siapa kalah, tapi bagaimana jam’iyah tetap hidup. Maka sujud syukur pun terasa sah, karena maslahat telah ditemukan, dan NU kembali pulang ke ushulnya sendiri. Foto Ai hanya ilustrasi Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM
    0 Comments ·0 Shares ·1K Views ·0 Reviews
  • Apa yang Dilakukan KH Zulfa Mustofa 16 Hari Menjadi Pj Ketua PBNU?

    KH Zulfa Mustofa menjabat sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU hanya selama 16 hari, dari 9 hingga 25 Desember 2025. Sangat singkat. Walau hanya 16 hari, tentu ada jejak kegiatannya. Apa saja yang dilakukannya, simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

    Zulfa naik ke panggung bukan karena ambisi, melainkan karena keadaan darurat. Ditunjuk Syuriyah PBNU di Hotel Sultan, Jakarta, ia hadir sebagai solusi sementara di tengah dualisme kepemimpinan yang membuat PBNU seperti rumah besar dengan dua kepala keluarga, satu dapur, dan api kompor yang hampir menyambar tirai. Situasinya genting, waktunya sempit, ekspektasinya rendah. Ia bukan dipanggil untuk membangun, tapi untuk menahan runtuh.

    Selama 16 hari itu, Zulfa tidak membawa janji perubahan, apalagi program strategis. Ia sadar betul posisinya bukan ketua umum penuh, melainkan penjaga gawang darurat. Tugasnya sederhana tapi krusial, memastikan organisasi tetap utuh, legitimasi Syuriyah tetap berdiri, dan PBNU tidak pecah sebelum Muktamar ke-35 digelar. Ia bukan arsitek, ia perancah. Tidak indah, tapi menentukan.

    PBNU saat itu berada di fase paling rapuh. Dualisme antara Gus Yahya dan Syuriyah membuat struktur organisasi bergetar dari pusat sampai cabang. Setiap pernyataan bisa menjadi percikan, setiap langkah bisa jadi bensin. Dalam situasi seperti itu, Zulfa dipaksa berjalan di tali tipis, terlalu aktif bisa dianggap manuver, terlalu pasif bisa dituduh tak berguna. Maka ia memilih jalan tengah, hadir, menjaga, dan tidak banyak bergerak.

    Namun satu hal penting terjadi. Pada 16 Desember 2025, Zulfa berangkat ke Aceh. Di Pesantren Dayah Ummul Ayman, Samalanga, Kabupaten Bireuen, ia menyerahkan bantuan kemanusiaan sebesar Rp1 miliar dan 3.000 paket sembako. Di tengah kisruh elite, ia memilih turun ke akar. Di saat kursinya belum hangat, ia justru membuktikan, jabatan sementara pun bisa melahirkan tindakan nyata. Bukan retorika, tapi beras dan uang tunai.

    Ironinya, bantuan itu dibagikan hanya beberapa hari sebelum jabatannya berakhir. Pada 25 Desember 2025, bertepatan dengan Hari Natal, drama mencapai klimaks. Islah di Lirboyo terjadi. KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya berdamai, difasilitasi KH Ma’ruf Amin. Dualisme selesai hanya dengan satu jabat tangan. Seperti hukum alam dalam politik organisasi, ketika konflik berakhir, figur transisi otomatis gugur.
    Zulfa tak diberhentikan secara dramatis. Tidak ada surat resmi, tidak ada konferensi pers perpisahan. Ia hanya kembali ke posisi semula, seolah 16 hari itu hanyalah mimpi singkat. Kursi panas yang sempat ia duduki dikembalikan kepada pemiliknya. Perannya selesai, fungsinya habis.

    Kalau dianalogikan, Zulfa adalah pemain pengganti yang masuk saat tim hampir kalah karena konflik internal, menenangkan tempo permainan, lalu ditarik keluar ketika wasit meniup peluit akhir. Tidak mencetak gol, tapi tanpa kehadirannya, pertandingan bisa bubar sebelum selesai.
    Enam belas hari itu memang terlalu singkat untuk prestasi struktural, tapi cukup untuk meninggalkan jejak simbolik. Ia menjadi penanda bahwa PBNU pernah berada di titik paling rawan, sampai harus melahirkan penjabat ketua umum dengan masa tugas tercepat dalam sejarahnya.

    Ia menjadi catatan kaki, tapi catatan kaki yang menjelaskan satu bab besar, betapa rapuhnya organisasi ketika elite bertarung.

    Kini, nama Zulfa Mustofa mungkin tak lagi disebut dalam struktur, tapi akan selalu muncul setiap kali orang membicarakan masa transisi PBNU paling singkat, paling sunyi, dan paling absurd. Dalam politik organisasi, bukan durasi yang membuat orang dikenang, melainkan konteks. Konteks 16 hari itu terlalu tajam untuk dilupakan.

    Foto Ai hanya ilustrasi
    Rosadi Jamani
    Ketua Satupena Kalbar
    #camanewak
    #jurnalismeyangmenyapa
    #JYM
    Apa yang Dilakukan KH Zulfa Mustofa 16 Hari Menjadi Pj Ketua PBNU? KH Zulfa Mustofa menjabat sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU hanya selama 16 hari, dari 9 hingga 25 Desember 2025. Sangat singkat. Walau hanya 16 hari, tentu ada jejak kegiatannya. Apa saja yang dilakukannya, simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Zulfa naik ke panggung bukan karena ambisi, melainkan karena keadaan darurat. Ditunjuk Syuriyah PBNU di Hotel Sultan, Jakarta, ia hadir sebagai solusi sementara di tengah dualisme kepemimpinan yang membuat PBNU seperti rumah besar dengan dua kepala keluarga, satu dapur, dan api kompor yang hampir menyambar tirai. Situasinya genting, waktunya sempit, ekspektasinya rendah. Ia bukan dipanggil untuk membangun, tapi untuk menahan runtuh. Selama 16 hari itu, Zulfa tidak membawa janji perubahan, apalagi program strategis. Ia sadar betul posisinya bukan ketua umum penuh, melainkan penjaga gawang darurat. Tugasnya sederhana tapi krusial, memastikan organisasi tetap utuh, legitimasi Syuriyah tetap berdiri, dan PBNU tidak pecah sebelum Muktamar ke-35 digelar. Ia bukan arsitek, ia perancah. Tidak indah, tapi menentukan. PBNU saat itu berada di fase paling rapuh. Dualisme antara Gus Yahya dan Syuriyah membuat struktur organisasi bergetar dari pusat sampai cabang. Setiap pernyataan bisa menjadi percikan, setiap langkah bisa jadi bensin. Dalam situasi seperti itu, Zulfa dipaksa berjalan di tali tipis, terlalu aktif bisa dianggap manuver, terlalu pasif bisa dituduh tak berguna. Maka ia memilih jalan tengah, hadir, menjaga, dan tidak banyak bergerak. Namun satu hal penting terjadi. Pada 16 Desember 2025, Zulfa berangkat ke Aceh. Di Pesantren Dayah Ummul Ayman, Samalanga, Kabupaten Bireuen, ia menyerahkan bantuan kemanusiaan sebesar Rp1 miliar dan 3.000 paket sembako. Di tengah kisruh elite, ia memilih turun ke akar. Di saat kursinya belum hangat, ia justru membuktikan, jabatan sementara pun bisa melahirkan tindakan nyata. Bukan retorika, tapi beras dan uang tunai. Ironinya, bantuan itu dibagikan hanya beberapa hari sebelum jabatannya berakhir. Pada 25 Desember 2025, bertepatan dengan Hari Natal, drama mencapai klimaks. Islah di Lirboyo terjadi. KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya berdamai, difasilitasi KH Ma’ruf Amin. Dualisme selesai hanya dengan satu jabat tangan. Seperti hukum alam dalam politik organisasi, ketika konflik berakhir, figur transisi otomatis gugur. Zulfa tak diberhentikan secara dramatis. Tidak ada surat resmi, tidak ada konferensi pers perpisahan. Ia hanya kembali ke posisi semula, seolah 16 hari itu hanyalah mimpi singkat. Kursi panas yang sempat ia duduki dikembalikan kepada pemiliknya. Perannya selesai, fungsinya habis. Kalau dianalogikan, Zulfa adalah pemain pengganti yang masuk saat tim hampir kalah karena konflik internal, menenangkan tempo permainan, lalu ditarik keluar ketika wasit meniup peluit akhir. Tidak mencetak gol, tapi tanpa kehadirannya, pertandingan bisa bubar sebelum selesai. Enam belas hari itu memang terlalu singkat untuk prestasi struktural, tapi cukup untuk meninggalkan jejak simbolik. Ia menjadi penanda bahwa PBNU pernah berada di titik paling rawan, sampai harus melahirkan penjabat ketua umum dengan masa tugas tercepat dalam sejarahnya. Ia menjadi catatan kaki, tapi catatan kaki yang menjelaskan satu bab besar, betapa rapuhnya organisasi ketika elite bertarung. Kini, nama Zulfa Mustofa mungkin tak lagi disebut dalam struktur, tapi akan selalu muncul setiap kali orang membicarakan masa transisi PBNU paling singkat, paling sunyi, dan paling absurd. Dalam politik organisasi, bukan durasi yang membuat orang dikenang, melainkan konteks. Konteks 16 hari itu terlalu tajam untuk dilupakan. Foto Ai hanya ilustrasi Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM
    0 Comments ·0 Shares ·755 Views ·0 Reviews
  • Dibuang, Dikucilkan, Namun Hatinya Tetap NU
    Tanggal 31 januari merupakan salah satu hari yang bersejarah bagi sebagian umat Islam Indonesia. Pada tangggal tersebut, Nahdlatul Ulama’ merayakan hari kelahirannya yang. Rasa syukur terucap dari berbagai kalangan, mulai ulama’ hingga masyarakat umum karena NU masih bisa berdiri kokoh ditengah zaman yang sudah mulai kalut ini. Tentu kita sudah paham, jika kita ditanya siapakah para pendiri NU, pasti sebagian besar akan menjawab KH. Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, ataupun KH As’ad Syamsul Arifin. Namun, tidak banyak yang tahu bahkan sering terlupakan, bahwa ada salah satu ulama’ yang juga berperan penting dalam berdirinya NU. Sosok tersebut adalah Kiai Mas Alwi.
    Kiai Mas Alwi adalah salah seorang pendiri NU bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Ridlwan Abdullah, dan beberapa Kiai besar lain. Mereka bergerak secara aktif di masyarakat sejak NU belum didirikan. Kiai Mas Alwi lah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kiai Ridlwan Abdullah. Namun nama Kiai Mas Alwi hampir jarang disebut dalam literatur sejarah NU. Apa sebabnya? Lantaran ia tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga.
    Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, bahwa sebelum 1926, Kiai Hasyim Asy’ari telah berencana membuat organisasi Jami’iyah Ulama (Perkumpulan Ulama). Para Kiai mengusulkan nama berbeda. Namun Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Lantas Kiai Hasyim bertanya, “Kenapa mesti pakai Nahdlatul, kok tidak jam’iyah ulama saja? Sayyid Alwi pun menjawab, “Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada Kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam’iyah”.
    Kiai Mas Alwi memiliki nama lengkap Sayyid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon, dan merupakan putra ulama’ besar, yakni Kiai Abdul Aziz al-Zamadghon, bersepupu dengan KH. Mas Mansur dan termasuk dalam keluarga besar Sunan Ampel. Tidak ada data yang pasti mengenai kelahiran Kiai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kiai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kiai yang bersahabat di masa itu, yakni Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Mas Alwi adalah orang-orang yang tidak terlalu jauh jaraknya dalam hal usia. Disebutkan bahwa di awal-awal berdirinya NU yakni tahun 1926, usia Kiai Ridlwan 40 tahun, Kiai Wahhab 37 tahun dan Kiai Mas Alwi 35 Tahun. Dengan demikian, Kiai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1890-an.
    Kiai Mas Alwi memulai pendidikan diniahnya dibawah asuhan ayahnya. Kemudian melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Kiai Mas Alwi merupakan sosok yang cerdas dan pandai. Hal tersebut dikisahkan oleh Kiai Mujib, yang menerima kisah tersebut dari ayahnya, KH Ridlwan Abdullah. Setelah menempuh pendidikan di pesantren Syaikhona Kholil, Kiai Mas Alwi melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, dan meneruskan ke Mekkah.
    Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mekkah, Kiai Mas Alwi kembali ke Indonesia. Bersama sahabat dan sepupunya, yakni KH. Ridlwan Abdullah dan KH. Mas Mansur, beliau membidani berdirinya sekolah Nahdlatul Wathon dan KH Mas Mansur menjadi kepala sekolah. Namun, setelah tersiar kabar bahwa Kiai Mas Alwi ikut kerja dalam pelayaran, maka beliau dipecat dari sekolah tersebut, akan tetapi sepulang dari Eropa beliau diterima kembali mengajar di Nahdlatul Wathon, dan justru Kiai Mas Mansur yang akhirnya dipecat oleh para Kiai karena telah terpengaruh pemikiran Muhammad Abduh.
    Saat merebaknya isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi mempelajarinya ke Mesir, kepada Muhammad Abduh. Maklum, Mas Mansur adalah keluarga yang mampu secara finansial sehingga beliau dapat mencari ilmu ke Mesir. Sementara Kiai Mas Alwi bukan dari keluarga yang kaya. Oleh karenanya Kiai Mas Alwi berkata: “Apa sih yang sebenarnya dicari oleh Adik Mansur ke Mesir? Renaissance atau pembaharuan itu tempatnya di Eropa”. Maka beliau pun berusaha untuk mengetahui apa sebenarnya renaissance ke Eropa, saat itu beliau pergi ke Belanda dan Prancis dengan mengikuti pelayaran.
    Di masa itu, orang yang bekerja sebagai pelayaran mendapat stigma yang sangat buruk dan memalukan bagi keluarga, sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk dan lain sebagainya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah.
    Setiba di tanah air, Kiai Mas Alwi dikucilkan oleh para sahabat dan tetangganya. Akhirnya Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di daerah Jl. Sasak, dekat wilayah Ampel untuk berjualan memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui beliau datang, Kiai Ridlwan mendatanginya, lalu Kiai Mas Alwi berkata: “Kenapa Kang, sampean datang kesini, nanti sampean akan dicuci pakai debu sama Kiai-Kiai lainnya, sebab warung saya ini sudah dianggap mughalladzah?”
    Kiai Ridlwan bertanya: “Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi pelayaran ke Eropa?”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Begini Kang Ridlwan. Saya ini ingin mencari renaissance, apa sih sebenarnya renaissance itu? Lah, Adik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari renaissance itu salah, sebab tempatnya renaissance itu ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini…” (maksudnya adalah kembali ke Al-Quran-Hadis, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya)
    Beliau melanjutkan: “Renaissance yang ada di Mesir itu sudah tidak murni lagi Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan dalam Islam, apanya yang mau diperbaharui, Islam itu sudah sempurna, sudah tidak ada lagi yang diperbaharui. Al-Quran sudah jelas menyatakan:
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً ﴿المائدة : ٣﴾
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (al-Maidah: 3)
    Inti dari perjalanan beliau ke Eropa adalah menemukan hakikat renaissance yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan oleh dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan bertanya: “Dari mana sampean tahu?” Kiai Mas Alwi: “Karena saya berhasil masuk ke tempat-tempat perpustakaan di Belanda”. Kiai Ridlwan bertanya lebih jauh: “Bagaimana caranya sampean bisa masuk?” Kiai Mas Alwi menjawab: “Dengan menikahi wanita Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya”.
    Setelah Kiai Mas Alwi menyampaikan perjalanan beliau ke Eropa secara panjang, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam”. Kiai Ridlwan berkata: “Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke sekolah Nahdlatul Wathon. Sebab saya sekarang sudah tidak ada yang membantu. Kiai Wahab sekarang lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya”.
    Di pagi harinya, sebelum Kiai Ridlwan sampai di sekolah, ternyata Kiai Alwi sudah ada di sekolah Nahdlatul Wathon. Kiai Ridlwan berkata: “Kok sudah ada disini?” Kiai Alwi menjawab: “Ya Kang Ridlwan, tadi malam saya tawarkan warung saya ternyata laku dibeli orang. Makanya uangnya ini kita gunakan untuk sekolah ini”. Kedua Kiai tersebut kemudian kembali membesarkan sekolah Nahdlatul Wathon.
    Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat–bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum. Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut.
    Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Aamiin ya robbal ‘alamiin. Wallahu a’lam bi showab.
    Foto: Maqom KH. Mas Alwi
    Dibuang, Dikucilkan, Namun Hatinya Tetap NU Tanggal 31 januari merupakan salah satu hari yang bersejarah bagi sebagian umat Islam Indonesia. Pada tangggal tersebut, Nahdlatul Ulama’ merayakan hari kelahirannya yang. Rasa syukur terucap dari berbagai kalangan, mulai ulama’ hingga masyarakat umum karena NU masih bisa berdiri kokoh ditengah zaman yang sudah mulai kalut ini. Tentu kita sudah paham, jika kita ditanya siapakah para pendiri NU, pasti sebagian besar akan menjawab KH. Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, ataupun KH As’ad Syamsul Arifin. Namun, tidak banyak yang tahu bahkan sering terlupakan, bahwa ada salah satu ulama’ yang juga berperan penting dalam berdirinya NU. Sosok tersebut adalah Kiai Mas Alwi. Kiai Mas Alwi adalah salah seorang pendiri NU bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Ridlwan Abdullah, dan beberapa Kiai besar lain. Mereka bergerak secara aktif di masyarakat sejak NU belum didirikan. Kiai Mas Alwi lah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kiai Ridlwan Abdullah. Namun nama Kiai Mas Alwi hampir jarang disebut dalam literatur sejarah NU. Apa sebabnya? Lantaran ia tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga. Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, bahwa sebelum 1926, Kiai Hasyim Asy’ari telah berencana membuat organisasi Jami’iyah Ulama (Perkumpulan Ulama). Para Kiai mengusulkan nama berbeda. Namun Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Lantas Kiai Hasyim bertanya, “Kenapa mesti pakai Nahdlatul, kok tidak jam’iyah ulama saja? Sayyid Alwi pun menjawab, “Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada Kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam’iyah”. Kiai Mas Alwi memiliki nama lengkap Sayyid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon, dan merupakan putra ulama’ besar, yakni Kiai Abdul Aziz al-Zamadghon, bersepupu dengan KH. Mas Mansur dan termasuk dalam keluarga besar Sunan Ampel. Tidak ada data yang pasti mengenai kelahiran Kiai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kiai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kiai yang bersahabat di masa itu, yakni Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Mas Alwi adalah orang-orang yang tidak terlalu jauh jaraknya dalam hal usia. Disebutkan bahwa di awal-awal berdirinya NU yakni tahun 1926, usia Kiai Ridlwan 40 tahun, Kiai Wahhab 37 tahun dan Kiai Mas Alwi 35 Tahun. Dengan demikian, Kiai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1890-an. Kiai Mas Alwi memulai pendidikan diniahnya dibawah asuhan ayahnya. Kemudian melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Kiai Mas Alwi merupakan sosok yang cerdas dan pandai. Hal tersebut dikisahkan oleh Kiai Mujib, yang menerima kisah tersebut dari ayahnya, KH Ridlwan Abdullah. Setelah menempuh pendidikan di pesantren Syaikhona Kholil, Kiai Mas Alwi melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, dan meneruskan ke Mekkah. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mekkah, Kiai Mas Alwi kembali ke Indonesia. Bersama sahabat dan sepupunya, yakni KH. Ridlwan Abdullah dan KH. Mas Mansur, beliau membidani berdirinya sekolah Nahdlatul Wathon dan KH Mas Mansur menjadi kepala sekolah. Namun, setelah tersiar kabar bahwa Kiai Mas Alwi ikut kerja dalam pelayaran, maka beliau dipecat dari sekolah tersebut, akan tetapi sepulang dari Eropa beliau diterima kembali mengajar di Nahdlatul Wathon, dan justru Kiai Mas Mansur yang akhirnya dipecat oleh para Kiai karena telah terpengaruh pemikiran Muhammad Abduh. Saat merebaknya isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi mempelajarinya ke Mesir, kepada Muhammad Abduh. Maklum, Mas Mansur adalah keluarga yang mampu secara finansial sehingga beliau dapat mencari ilmu ke Mesir. Sementara Kiai Mas Alwi bukan dari keluarga yang kaya. Oleh karenanya Kiai Mas Alwi berkata: “Apa sih yang sebenarnya dicari oleh Adik Mansur ke Mesir? Renaissance atau pembaharuan itu tempatnya di Eropa”. Maka beliau pun berusaha untuk mengetahui apa sebenarnya renaissance ke Eropa, saat itu beliau pergi ke Belanda dan Prancis dengan mengikuti pelayaran. Di masa itu, orang yang bekerja sebagai pelayaran mendapat stigma yang sangat buruk dan memalukan bagi keluarga, sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk dan lain sebagainya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah. Setiba di tanah air, Kiai Mas Alwi dikucilkan oleh para sahabat dan tetangganya. Akhirnya Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di daerah Jl. Sasak, dekat wilayah Ampel untuk berjualan memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui beliau datang, Kiai Ridlwan mendatanginya, lalu Kiai Mas Alwi berkata: “Kenapa Kang, sampean datang kesini, nanti sampean akan dicuci pakai debu sama Kiai-Kiai lainnya, sebab warung saya ini sudah dianggap mughalladzah?” Kiai Ridlwan bertanya: “Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi pelayaran ke Eropa?”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Begini Kang Ridlwan. Saya ini ingin mencari renaissance, apa sih sebenarnya renaissance itu? Lah, Adik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari renaissance itu salah, sebab tempatnya renaissance itu ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini…” (maksudnya adalah kembali ke Al-Quran-Hadis, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya) Beliau melanjutkan: “Renaissance yang ada di Mesir itu sudah tidak murni lagi Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan dalam Islam, apanya yang mau diperbaharui, Islam itu sudah sempurna, sudah tidak ada lagi yang diperbaharui. Al-Quran sudah jelas menyatakan: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً ﴿المائدة : ٣﴾ “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (al-Maidah: 3) Inti dari perjalanan beliau ke Eropa adalah menemukan hakikat renaissance yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan oleh dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan bertanya: “Dari mana sampean tahu?” Kiai Mas Alwi: “Karena saya berhasil masuk ke tempat-tempat perpustakaan di Belanda”. Kiai Ridlwan bertanya lebih jauh: “Bagaimana caranya sampean bisa masuk?” Kiai Mas Alwi menjawab: “Dengan menikahi wanita Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya”. Setelah Kiai Mas Alwi menyampaikan perjalanan beliau ke Eropa secara panjang, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam”. Kiai Ridlwan berkata: “Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke sekolah Nahdlatul Wathon. Sebab saya sekarang sudah tidak ada yang membantu. Kiai Wahab sekarang lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya”. Di pagi harinya, sebelum Kiai Ridlwan sampai di sekolah, ternyata Kiai Alwi sudah ada di sekolah Nahdlatul Wathon. Kiai Ridlwan berkata: “Kok sudah ada disini?” Kiai Alwi menjawab: “Ya Kang Ridlwan, tadi malam saya tawarkan warung saya ternyata laku dibeli orang. Makanya uangnya ini kita gunakan untuk sekolah ini”. Kedua Kiai tersebut kemudian kembali membesarkan sekolah Nahdlatul Wathon. Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat–bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum. Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut. Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Aamiin ya robbal ‘alamiin. Wallahu a’lam bi showab. Foto: Maqom KH. Mas Alwi
    0 Comments ·0 Shares ·10K Views ·0 Reviews
  • Seleksi Beasiswa PBNU - AL-AZHAR 2024 Resmi Dibuka
    Seleksi Beasiswa PBNU - AL-AZHAR 2024 resmi dibuka, tersedia 30 kuota beasiswa untuk para santri dari Indonesia melalui jalur PBNU. Beasiswa ini merupakan beasiswa full funding untuk pendidikan sarjana (S1) di Universitas Al-Azhar Mesir, baik untuk jurusan ilmu keagamaan (Adabi) ataupun jurusan non ilmu keagamaan (‘Ilmi -seperti jurusan kedokteran, psikologi, teknik, dll). Beasiswa ini terselenggara atas kerjasama Al-Azhar dengan PBNU. Penyelenggaraan Seleksi Beasiswa PBNU - AL-Azhar 2024 ini di bawah komando NU Scholarship yang bekerjasama dengan RMI PBNU dan IKANU Mesir. Rangkaian seleksi beasiswa ini dimulai dari tanggal 1 Juli 2024 sebagai masa sosiailsasi, dilanjutkan dengan masa pendaftaran pada tanggal 5 - 8 Juli 2024.

    Seleksi akan terbagi menjadi tiga tahap: seleksi administrasi, tahap seleksi tertulis, dan tahap seleksi wawancara. Semua rangkaian mulai dari pendaftaran hingga seleksi akan dilaksanakan secara daring (online), dan gratis, tanpa dipungut biaya.

    Beberapa kriteria yang menjadi ketentuan pendaftaran seleksi beasiswa ini:

    · Pendaftaran dilakukan oleh pesantren.

    · Ijazah Madrasah Diniyah Ulya/Madrasah Aliyah/Pendidikan Diniyah Formal/Surat keterangan lulus. Umur ijazah maksimal 3 tahun (2022).

    · Berumur 18 - 25 tahun.

    · Mendatangani surat pernyataan bersedia mengabdi kepada NU (Format bisa diunduh di link pendaftaran).

    · Bersedia mengikuti tahapan seleksi dan segala ketentuan yang berlaku.

    Info lebih lanjut terkait syarat-syarat pendaftaran dan tata cara pendaftaran, dapat langsung diakses melalui website NUScholarship: www.nuscholarship.or.id

    Tahapan-tahapan seleksi beasiswa PBNU - AL-AZHAR tahun ini bisa dibaca dalam flyer yang telah disebarkan secara resmi di berbagai media sosial PBNU, NUScholarship, RMI PBNU, dan juga IKANU Mesir. Masa seleksi tahap pertama, seleksi administrasi, akan berlangsung pada 8 - 12 Juli 2024, dan hasilnya akan diumumkan pada tanggal 13 Juli 2024. Peserta yang dinyatakan lolos pada tahap seleksi administrasi, akan diperkenankan mengikuti tahap berikutnya: seleksi tertulis yang akan dilakukan secara online pada tanggal 16 Juli 2024. Adapun tatacara pelaksanaan seleksi tertulis online, akan diumumkan dan diterangkan secara lebih lanjut. Bagi peserta yagn dinyatakan lolos tahap seleksi tertulis, akan mengikuti tahap ketiga yaitu wawancara pada tanggal 21 Juli 2024. Nama-nama 30 santri penerima beasiswa akan diumumkan pada 23 Juli 2024.

    Kerjasama PBNU dengan Al-Azhar telah berlangsung lama, seleksi beasiswa PBNU - AL-AZHAR tahun ini adalah beasiswa PBNU - AL-AZHAR angkatan VI. Penerima beasiswa PBNU - AL-AZHAR selama ini tidak hanya mengambil jurusan ilmu keagamaan, tapi juga belajar di berbagai jurusan ilmu umum, seperti kedokteran, psikologi, dan teknik. Seleksi beasiswa PBNU - AL-AZHAR ini adalah bentuk komitmen dua lembaga besar ini dalam memajukan dan membangun peradaban.

    Seleksi Beasiswa PBNU - AL-AZHAR 2024 Resmi Dibuka Seleksi Beasiswa PBNU - AL-AZHAR 2024 resmi dibuka, tersedia 30 kuota beasiswa untuk para santri dari Indonesia melalui jalur PBNU. Beasiswa ini merupakan beasiswa full funding untuk pendidikan sarjana (S1) di Universitas Al-Azhar Mesir, baik untuk jurusan ilmu keagamaan (Adabi) ataupun jurusan non ilmu keagamaan (‘Ilmi -seperti jurusan kedokteran, psikologi, teknik, dll). Beasiswa ini terselenggara atas kerjasama Al-Azhar dengan PBNU. Penyelenggaraan Seleksi Beasiswa PBNU - AL-Azhar 2024 ini di bawah komando NU Scholarship yang bekerjasama dengan RMI PBNU dan IKANU Mesir. Rangkaian seleksi beasiswa ini dimulai dari tanggal 1 Juli 2024 sebagai masa sosiailsasi, dilanjutkan dengan masa pendaftaran pada tanggal 5 - 8 Juli 2024. Seleksi akan terbagi menjadi tiga tahap: seleksi administrasi, tahap seleksi tertulis, dan tahap seleksi wawancara. Semua rangkaian mulai dari pendaftaran hingga seleksi akan dilaksanakan secara daring (online), dan gratis, tanpa dipungut biaya. Beberapa kriteria yang menjadi ketentuan pendaftaran seleksi beasiswa ini: · Pendaftaran dilakukan oleh pesantren. · Ijazah Madrasah Diniyah Ulya/Madrasah Aliyah/Pendidikan Diniyah Formal/Surat keterangan lulus. Umur ijazah maksimal 3 tahun (2022). · Berumur 18 - 25 tahun. · Mendatangani surat pernyataan bersedia mengabdi kepada NU (Format bisa diunduh di link pendaftaran). · Bersedia mengikuti tahapan seleksi dan segala ketentuan yang berlaku. Info lebih lanjut terkait syarat-syarat pendaftaran dan tata cara pendaftaran, dapat langsung diakses melalui website NUScholarship: www.nuscholarship.or.id Tahapan-tahapan seleksi beasiswa PBNU - AL-AZHAR tahun ini bisa dibaca dalam flyer yang telah disebarkan secara resmi di berbagai media sosial PBNU, NUScholarship, RMI PBNU, dan juga IKANU Mesir. Masa seleksi tahap pertama, seleksi administrasi, akan berlangsung pada 8 - 12 Juli 2024, dan hasilnya akan diumumkan pada tanggal 13 Juli 2024. Peserta yang dinyatakan lolos pada tahap seleksi administrasi, akan diperkenankan mengikuti tahap berikutnya: seleksi tertulis yang akan dilakukan secara online pada tanggal 16 Juli 2024. Adapun tatacara pelaksanaan seleksi tertulis online, akan diumumkan dan diterangkan secara lebih lanjut. Bagi peserta yagn dinyatakan lolos tahap seleksi tertulis, akan mengikuti tahap ketiga yaitu wawancara pada tanggal 21 Juli 2024. Nama-nama 30 santri penerima beasiswa akan diumumkan pada 23 Juli 2024. Kerjasama PBNU dengan Al-Azhar telah berlangsung lama, seleksi beasiswa PBNU - AL-AZHAR tahun ini adalah beasiswa PBNU - AL-AZHAR angkatan VI. Penerima beasiswa PBNU - AL-AZHAR selama ini tidak hanya mengambil jurusan ilmu keagamaan, tapi juga belajar di berbagai jurusan ilmu umum, seperti kedokteran, psikologi, dan teknik. Seleksi beasiswa PBNU - AL-AZHAR ini adalah bentuk komitmen dua lembaga besar ini dalam memajukan dan membangun peradaban.
    0 Comments ·0 Shares ·8K Views ·0 Reviews
  • Kiai Bisri dan Safar Haji
    Dalam foto ini KH. Bisri Syansuri didampingi putra bungsu beliau, yaitu KH. Shohib Bisri, dan Kiai Iskandar (cucu menantu) dan sisi lainnya adalah KH. Abdul Aziz Masyhuri, (cucu menantu).
    Foto ini adalah ketika Kiai Bisri Syansuri di depan Ndalem Kasepuhan berpamitan hendak ibadah haji, pada 1978.
    Foto berasal dari dokumen Ndalem Kasepuhan Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang. Foto ini juga dimuat di buku Biografi KH Bisri Syansuri, karya KH. Abdul Aziz Masyhuri.
    Ust Yusuf Suharto
    Kiai Bisri dan Safar Haji Dalam foto ini KH. Bisri Syansuri didampingi putra bungsu beliau, yaitu KH. Shohib Bisri, dan Kiai Iskandar (cucu menantu) dan sisi lainnya adalah KH. Abdul Aziz Masyhuri, (cucu menantu). Foto ini adalah ketika Kiai Bisri Syansuri di depan Ndalem Kasepuhan berpamitan hendak ibadah haji, pada 1978. Foto berasal dari dokumen Ndalem Kasepuhan Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang. Foto ini juga dimuat di buku Biografi KH Bisri Syansuri, karya KH. Abdul Aziz Masyhuri. Ust Yusuf Suharto
    0 Comments ·0 Shares ·4K Views ·0 Reviews
  • #30HM2024_Hari13_No22
    Jumlah Kata: 636
    TAMBAKBERAS: Menelisik Sejarah Memetik Uswah
    Judul Buku: Tambakberas, Menelisik Sejarah Memetik Uswah
    Penulis: Tim Sejarah Tambakberas (Heru Najib, dkk.)
    Penerbit: Pustaka Bahrul Ulum Jombang
    Tahun Terbit: Juni 2017
    ISBN: 978-602-50064-0-1
    Halaman: xiii + 467
    Dari sekian banyak koleksi buku yang saya miliki, beberapa buku tebal belum selesai saya baca. Salah duanya adalah Pangeran dari Timur dan buku Tambakberas. Jika di luar sana banyak orang memilih novel untuk diulas, kali ini saya ingin menulis ulasan buku tentang Pesantren yang pernah menempa saya saat masih muda. Lah, sekarang sudah tua dong? Iya, Anda puas? Ha-ha-ha …
    Enam tahun waktu yang belum cukup untuk belajar di Pesantren. Hal itu saya rasakan puluhan tahun yang lalu, sejak 1989 sampai 1995. Selama menjadi santri di pondok Bahrul Ulum, tidak banyak kisah para Kyai yang saya ketahui. Akhirnya di tahun 2017 lahirlah buku ini. Buku yang banyak mengisahkan keteladanan, mengungkap sejarah, dan memberikan pengetahuan khususnya untuk para santri.
    Secara garis besar, buku ini berisi 184 judul yang terangkum dalam 3 bagian; yaitu akar sejarah 6 judul, rintisan sejarah 15 judul, dan mozaik 163 judul. Kepiawaian para penulis yang tergabung dalam sebuah tim ini bekerja sekitar satu tahun. Mereka mendapatkan kontribusi tulisan dari banyak tokoh dan ulama, antara lain: KH.Musthofa Bisri, KH. Muchid Muzadi, KH. Nasir Fattah, H. Abdul Munim DZ dan masih banyak lagi.
    Buku ini sangat menarik, banyak kisah penting penuh hikmah terhampar di dalamnya. Tentu saja hal ini sangat membantu berbagai kalangan sebagai referensi saat sebuah pondok pesantren menjadi sebuah subyek penulisan sejarah. Selain model kajian tokoh pesantren, model tematik manajemen pendidikan pondok pesantren, atau pun kajian bermahfum dunia sastra yang hidup di pesantren juga terpapar di buku ini. Terlebih banyak kisah yang tersembunyi turut masuk dalam banyak judul, sehingga membuka pengalaman bagi pembaca yang tertarik untuk mengetahui, memahami, dan mengungkap sisi dalam dari dunia pesantren.
    Pada bagian pertama, buku ini mengawali dengan judul ngGedang Njero, ngGedang Njobo dan ngGedang Kulon. Judul awal yang berlogat Jawa tersebut berbanding lurus dengan akar sejarah awal pesantren ini. Pondok Tambakberas didirikan oleh Mbah Abdus Salam atau Mbah Sehah sekitar tahun 1825. Mbah Abdus Salam merupakan ulama dan pendekar sakti mandraguna sekaligus panglima perang Pangeran Diponegoro. Selepas tertangkapnya Pangeran Diponegoro (1830), beliau mengembangkan keilmuannya di wilayah hutan yang bernama Gedang (orang Jawa menyebutnya Nggedang).
    Tempat Mbah Abdus Salam ini kemudian dikenal dengan sebutan Nggedang Njero (Gedang bagian dalam), setelah itu Mbah Usman (menantu Mbah Abdus Salam) mendirikan padepokan baru di sebelah selatan yang disebut Nggedang Njobo (Gedang bagian luar). Selanjutnya Mbah Said menantu lainnya juga mendirikan padepokan baru di sebelah barat yang dikenal sebagai Nggedang Kulon (Gedang bagian barat).
    Secara garis keturunannya, Pesantren Tambakberas memiliki hubungan dengan Pesantren Tebuireng Jombang. Dari salah satu putri Mbah Abdus Salam, terlahir Kyai Hasyim Asy’ari Pendiri Pesantren Tebuireng Jombang. Dan dari putrinya yang lain melahirkan tokoh nasional Kyai Abdul Wahab Hasbulloh (Mbah Wahab).
    Mbah Wahab adalah salah satu tokoh yang mempunyai keahlian relatif lengkap. Beliau adalah seorang ulama, politisi, dan pendekar pencak yang memiliki banyak ilmu kesaktian. Pada masa penjajahan Jepang, Mbah Wahab mengumpulkan 200 tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Kauman Jombang untuk digembleng dalam bidang rohaninya dengan diberi ijazah Hizbur Rifai, Sholawat Kamilah, Hizbulbahr dan lainnya.
    Setelah membaca buku ini, pembaca akan mendapatkan referensi yang komplit tentang sejarah Pesantren Tambakberas. Bahkan banyak judul yang menunjukkan sisi sejarah Indonesia, seperti Mbah Wahab; Pancasila dan Negara Islam (hal. 68), Perjanjian Renville dan Melafalkan Niat (hal. 77), Sahnya NKRI dan Pemimpinnya (hal. 96), Usilnya Gus Dur (hal. 160), termasuk terkait dengan keberadaan NU dan tokoh pesantren lainnya. Bahkan buku ini juga memuat sejumlah judul yang menunjukkan bagaimana ilmu hikmah dunia pesantren, seperti judul Serban Sakti Mbah Wahab (hal. 138), Takluknya Warok Muso (hal. 271) dan lainnya.
    Dengan hadirnya buku ini, keinginan saya untuk menulis novel sejarah berkaitan dengan pesantren di Jombang semakin membuncah. Akankah bisa terwujud? Semoga ….
    #30HM2024_Hari13_No22 Jumlah Kata: 636 TAMBAKBERAS: Menelisik Sejarah Memetik Uswah Judul Buku: Tambakberas, Menelisik Sejarah Memetik Uswah Penulis: Tim Sejarah Tambakberas (Heru Najib, dkk.) Penerbit: Pustaka Bahrul Ulum Jombang Tahun Terbit: Juni 2017 ISBN: 978-602-50064-0-1 Halaman: xiii + 467 Dari sekian banyak koleksi buku yang saya miliki, beberapa buku tebal belum selesai saya baca. Salah duanya adalah Pangeran dari Timur dan buku Tambakberas. Jika di luar sana banyak orang memilih novel untuk diulas, kali ini saya ingin menulis ulasan buku tentang Pesantren yang pernah menempa saya saat masih muda. Lah, sekarang sudah tua dong? Iya, Anda puas? Ha-ha-ha … Enam tahun waktu yang belum cukup untuk belajar di Pesantren. Hal itu saya rasakan puluhan tahun yang lalu, sejak 1989 sampai 1995. Selama menjadi santri di pondok Bahrul Ulum, tidak banyak kisah para Kyai yang saya ketahui. Akhirnya di tahun 2017 lahirlah buku ini. Buku yang banyak mengisahkan keteladanan, mengungkap sejarah, dan memberikan pengetahuan khususnya untuk para santri. Secara garis besar, buku ini berisi 184 judul yang terangkum dalam 3 bagian; yaitu akar sejarah 6 judul, rintisan sejarah 15 judul, dan mozaik 163 judul. Kepiawaian para penulis yang tergabung dalam sebuah tim ini bekerja sekitar satu tahun. Mereka mendapatkan kontribusi tulisan dari banyak tokoh dan ulama, antara lain: KH.Musthofa Bisri, KH. Muchid Muzadi, KH. Nasir Fattah, H. Abdul Munim DZ dan masih banyak lagi. Buku ini sangat menarik, banyak kisah penting penuh hikmah terhampar di dalamnya. Tentu saja hal ini sangat membantu berbagai kalangan sebagai referensi saat sebuah pondok pesantren menjadi sebuah subyek penulisan sejarah. Selain model kajian tokoh pesantren, model tematik manajemen pendidikan pondok pesantren, atau pun kajian bermahfum dunia sastra yang hidup di pesantren juga terpapar di buku ini. Terlebih banyak kisah yang tersembunyi turut masuk dalam banyak judul, sehingga membuka pengalaman bagi pembaca yang tertarik untuk mengetahui, memahami, dan mengungkap sisi dalam dari dunia pesantren. Pada bagian pertama, buku ini mengawali dengan judul ngGedang Njero, ngGedang Njobo dan ngGedang Kulon. Judul awal yang berlogat Jawa tersebut berbanding lurus dengan akar sejarah awal pesantren ini. Pondok Tambakberas didirikan oleh Mbah Abdus Salam atau Mbah Sehah sekitar tahun 1825. Mbah Abdus Salam merupakan ulama dan pendekar sakti mandraguna sekaligus panglima perang Pangeran Diponegoro. Selepas tertangkapnya Pangeran Diponegoro (1830), beliau mengembangkan keilmuannya di wilayah hutan yang bernama Gedang (orang Jawa menyebutnya Nggedang). Tempat Mbah Abdus Salam ini kemudian dikenal dengan sebutan Nggedang Njero (Gedang bagian dalam), setelah itu Mbah Usman (menantu Mbah Abdus Salam) mendirikan padepokan baru di sebelah selatan yang disebut Nggedang Njobo (Gedang bagian luar). Selanjutnya Mbah Said menantu lainnya juga mendirikan padepokan baru di sebelah barat yang dikenal sebagai Nggedang Kulon (Gedang bagian barat). Secara garis keturunannya, Pesantren Tambakberas memiliki hubungan dengan Pesantren Tebuireng Jombang. Dari salah satu putri Mbah Abdus Salam, terlahir Kyai Hasyim Asy’ari Pendiri Pesantren Tebuireng Jombang. Dan dari putrinya yang lain melahirkan tokoh nasional Kyai Abdul Wahab Hasbulloh (Mbah Wahab). Mbah Wahab adalah salah satu tokoh yang mempunyai keahlian relatif lengkap. Beliau adalah seorang ulama, politisi, dan pendekar pencak yang memiliki banyak ilmu kesaktian. Pada masa penjajahan Jepang, Mbah Wahab mengumpulkan 200 tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Kauman Jombang untuk digembleng dalam bidang rohaninya dengan diberi ijazah Hizbur Rifai, Sholawat Kamilah, Hizbulbahr dan lainnya. Setelah membaca buku ini, pembaca akan mendapatkan referensi yang komplit tentang sejarah Pesantren Tambakberas. Bahkan banyak judul yang menunjukkan sisi sejarah Indonesia, seperti Mbah Wahab; Pancasila dan Negara Islam (hal. 68), Perjanjian Renville dan Melafalkan Niat (hal. 77), Sahnya NKRI dan Pemimpinnya (hal. 96), Usilnya Gus Dur (hal. 160), termasuk terkait dengan keberadaan NU dan tokoh pesantren lainnya. Bahkan buku ini juga memuat sejumlah judul yang menunjukkan bagaimana ilmu hikmah dunia pesantren, seperti judul Serban Sakti Mbah Wahab (hal. 138), Takluknya Warok Muso (hal. 271) dan lainnya. Dengan hadirnya buku ini, keinginan saya untuk menulis novel sejarah berkaitan dengan pesantren di Jombang semakin membuncah. Akankah bisa terwujud? Semoga ….
    0 Comments ·0 Shares ·13K Views ·0 Reviews
  • Photo Syekh Yasin Al-Fadani yang sedang memegang tongkat.
    Syeikh waliyullah dari Sumatera Barat, seorang ulama kaliber internasional
    Ulama Mekkah yang nenek moyangnya berasal dari Padang Sumatra Barat, adalah sosok ulama Indonesia yang namanya Terukir dengan Tinta Emas karena keluasan ilmu yang dimilikinya. Beliau bergelar “Almusnid Dunya”
    (ulama ahli sanad dunia), keahlian dalam hal ilmu periwayatan hadist ini, maka banyak para ulama-ulama dunia berbondong-bondong untuk mendapat Ijazah Sanad hadist dari beliau. Bahkan Al-‘Allamah Habib Segaf bin Muhammad Assegaf salah seorang ulama dan waliyulloh dari Tarim Hadromaut sangat mengagumi keilmuan Syekh Yasin Al-Fadani hingga menyebut Syekh Yasin dengan ”Sayuthiyyu Zamanihi" (imam Al Hafid Assayuthy pada zamannya)
    Nama lengkapnya Abu Al-Faidh’ Alam Ad Diin Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani, lahir di Mekkah tahun 1915. Sejak kecil Syekh Yasin sudah menunjukan kecerdasan yang luar biasa, Bahkan menginjak usia remaja Syekh Yasin mampu mengungguli rekan-rekannya dalam hal penguasaan ilmu hadist, fiqih bahkan para gurunya pun sangat mengaguminya. Syekh Yasin mulai belajar dengan ayahnya Syekh Muhammad Isa, dilanjutkan ke Ash-Shautiyyah guru-gurunya antara lain Syekh Muhktar Usman, Syekh Hasan Al-Masysath, Habib Muhsin bin Ali Al-Musawa.
    Dan yang sangat menarik adalah sosok Syekh Yasin Al-Fadani adalah kesederhanaannya, walaupun beliau seorang ulama besar namun beliau tidak segan-segan untuk keluar masuk pasar memikul, dan menenteng sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Dengan memakai kaos oblong dan sarung,
    dari musim haji rumah Syekh Yasin pun selalu ramai dikunjungi para ulama dan pelajar.
    Ulama kelahiran abad 20 ini menghasilkan karya-karya yang tak kurang dari 100 judul, yang semuanya tersebar dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Mekkah maupun di Asia Tenggara. MasyaAllah
    Photo Syekh Yasin Al-Fadani yang sedang memegang tongkat. Syeikh waliyullah dari Sumatera Barat, seorang ulama kaliber internasional Ulama Mekkah yang nenek moyangnya berasal dari Padang Sumatra Barat, adalah sosok ulama Indonesia yang namanya Terukir dengan Tinta Emas karena keluasan ilmu yang dimilikinya. Beliau bergelar “Almusnid Dunya” (ulama ahli sanad dunia), keahlian dalam hal ilmu periwayatan hadist ini, maka banyak para ulama-ulama dunia berbondong-bondong untuk mendapat Ijazah Sanad hadist dari beliau. Bahkan Al-‘Allamah Habib Segaf bin Muhammad Assegaf salah seorang ulama dan waliyulloh dari Tarim Hadromaut sangat mengagumi keilmuan Syekh Yasin Al-Fadani hingga menyebut Syekh Yasin dengan ”Sayuthiyyu Zamanihi" (imam Al Hafid Assayuthy pada zamannya) Nama lengkapnya Abu Al-Faidh’ Alam Ad Diin Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani, lahir di Mekkah tahun 1915. Sejak kecil Syekh Yasin sudah menunjukan kecerdasan yang luar biasa, Bahkan menginjak usia remaja Syekh Yasin mampu mengungguli rekan-rekannya dalam hal penguasaan ilmu hadist, fiqih bahkan para gurunya pun sangat mengaguminya. Syekh Yasin mulai belajar dengan ayahnya Syekh Muhammad Isa, dilanjutkan ke Ash-Shautiyyah guru-gurunya antara lain Syekh Muhktar Usman, Syekh Hasan Al-Masysath, Habib Muhsin bin Ali Al-Musawa. Dan yang sangat menarik adalah sosok Syekh Yasin Al-Fadani adalah kesederhanaannya, walaupun beliau seorang ulama besar namun beliau tidak segan-segan untuk keluar masuk pasar memikul, dan menenteng sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Dengan memakai kaos oblong dan sarung, dari musim haji rumah Syekh Yasin pun selalu ramai dikunjungi para ulama dan pelajar. Ulama kelahiran abad 20 ini menghasilkan karya-karya yang tak kurang dari 100 judul, yang semuanya tersebar dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Mekkah maupun di Asia Tenggara. MasyaAllah
    0 Comments ·0 Shares ·4K Views ·0 Reviews
  • Dukung kader Santri untuk Membawa Aspirasi Pesantren dalam menyusun kebijakan di parlemen.. Jangan lupa pilih PSI khususnya yang berada di Dapil 9 Jawa Barat ( Subang, Majalengka, Sumedang ) Hatur nuhun...
    Dukung kader Santri untuk Membawa Aspirasi Pesantren dalam menyusun kebijakan di parlemen.. Jangan lupa pilih PSI khususnya yang berada di Dapil 9 Jawa Barat ( Subang, Majalengka, Sumedang ) Hatur nuhun...
    0 Comments ·0 Shares ·3K Views ·0 Reviews
  • BIOGRAFI GUS BAHA (KH. AHMAD BAHAUDDIN NURSALIM)

    KELAHIRAN
    Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar.

    Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling. Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.

    Kiai kelahiran 1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya.

    PENDIDIKAN
    Gus Baha’ kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur’an di bawah asuhan ayahnya sendiri, KH Nursalim Al-Hafidz. Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur’an beserta Qiro’ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf.

    Menginjak usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha’ untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan Di Al Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari’at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir. Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau selama mondok di Al Anwar, seperti Rois Fathul Mu’in dan Ketua Ma’arif di jajaran kepengurusan Pesantren Al Anwar.

    Saat mondok di Al Anwar ini pula beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika arab seperti ‘Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

    Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan beliau tersebut menjadikan beliau sebagai santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di era beliau. Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan beliau ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan beliau.

    Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta’bir dan menerima tamu-tamu ulama’-ulama’ besar yang berkunjung ke Al Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair.

    Pernah pada suatu ketika beliau dipanggil untuk mencarikan ta’bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta’bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan “Iyo ha’… Koe pancen cerdas tenan” (Iya ha’… Kamu memang benar-benar cerdas).

    Selain itu Gus Baha’ juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa’izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. “Santri tenan iku yo koyo baha’ iku….” (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha’ itu….) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina.

    Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga beliau mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, beliau hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan Pesantren Al Anwar Karangmangu, Rembang. Pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.

    PERNIKAHANNYA
    Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang, beliau menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Ada cerita menarik sehubungan dengan pernikahan beliau. Diriwayatkan, setelah acara lamaran selesai, beliau menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangan beliau hingga kini. Beliau mengutarakan bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yang glamor, bahkan sangat sederhana.

    Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebut. Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari. Mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan “klop” alias sami mawon kalih kulo.

    Kesederhanaan beliau ini dibuktikan saat beliau berangkat ke pesantren Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular alias bus biasa kelas ekonomi. Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil.

    KEAKHLAKANNYA
    Beliau hidup sederhana bukan karena keluarga beliau miskin. Dari silsilah keluarga beliau dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga di mana beliau diasuh semenjak kecil, tiada satu keluargapun yang miskin.

    Bahkan kakek beliau dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis perihal kesederhanaan beliau, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur’an yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya.

    Bahkan salah satu wasiat dari ayahnya adalah agar beliau menghindari keinginan untuk menjadi ‘manusia mulia’ dari pandangan keumuman makhluk atau lingkungannya. Hal inilah yang hingga kini mewarnai kepribadian dan kehidupan beliau sehari-hari.

    Setelah menikah beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Beliau menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

    Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya. Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogya dan urunan atau patungan untuk menyewa rumah di dekat rumah beliau. Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepada beliau. Ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin Al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogya saat itu. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau.

    Pada tahun 2005 ayah beliau KH. Nursalim jatuh sakit. Beliau pulang sementara waktu untuk ikut merawat ayah beliau bersama keempat saudaranya. Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha’ tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab beliau diamanahi oleh ayah beliau untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.

    Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan beliau ke Narukan. Akhirnya para santri beliaupun, sowan dan meminta beliau kerso kembali ke Yogya. Hingga pada gilirannya beliau bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, beliau juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir Al-Qur’an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta.

    KEILMUANNYA
    Selain Yogyakarta beliau juga diminta untuk mengasuh PengajianTafsir Al-Qur’an di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Yogya minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya. Hal ini beliau jalani secara rutin sejak 2006 hingga kini. Di UII beliau adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII. Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur’an dari seantero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

    Suatu kali beliau ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur’an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar. Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

    Hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur’an. Setiap kali lajnah ‘menggarap’ tafsir dan Mushaf Al-Qur’an,

    Posisi beliau selalu di dua keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur’an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur’an.

    __________
    Sumber artikel: https://www.laduni.id/post/read/66908/biografi-gus-baha-kh-ahmad-bahauddin-nursalim

    Wahai Pecinta Gus Baha !!!

    Mari miliki Al-Qur'an dan Terjemahan UII Gus Baha Tim Ahli. Gus Baha' menjadi korektor naskah sekaligus tim ahli terjemahan ini.

    BEBERAPA KEISTIMEWAAN DARI AL QUR'AN TERJEMAH UII- GUS BAHA' TIM AHLI

    1. Memperbaiki teks terjemah Al Qur'an secara menyeluruh.

    2. Memperbaharui pengesahan Departemen Agama Republik Indonesia.

    3. Meneliti kembali terjemahan dengan merujuk ke kitab-kitab lama dan baru.

    4. Memberi sisipan dan keterangan singkat yang memudahkan pemahaman.

    5. Membubuhi catatan kaki bagi kata/kalimat yang memerlukan penjelasan.

    6. Mengisi hadits yang berkait dengan suatu ayat pada beberapa tempat kosong.

    7. Menyusuli penjelasan pada Mukaddimah yang dapat membantu pemahaman.

    8. Menambah dengan indeks tematik sebagai petunjuk praktis tentang kandungan Al Qur'an.

    9. Mengambil satu pengertian,jika terjadi ikhtilaf antara Ulama' tafsir.

    Edisi terbitan awal ada box-nya. Dua jilid. Sekarang edisi terbaru hanya satu jilid.

    "Lewat proses yang panjang dan melibatkan Tim, diantaranya saya, terbitlah terjemah (Al-Quran) versi UII. Diantara ciri khas (Al-Quran) terjemahan UII adalah bahwa bahasa arab yang tentu mengandung kesusastraan arab, balaghah, kemudian ditransfer untuk pembaca Indonesia sehingga diantara ciri khas (Al-Quran) terjemahan UII adalah dengan rasa Indonesia dan tentu tidak mengubah makna." (Gus Baha')

    Tebal xIiv 1.128 hlm.
    Ukuran 15,5 x 20,5 x 4,5 cm
    Harga Rp 175.000

    Bisa COD/bayar di tempat

    Pemesanan via WA
    https://wa.me/6287761260500

    Pemesanan via Shopee
    https://shopee.co.id/product/38727360/22105184919?smtt=0.38728746-1668272228.9

    Al-Qur'an terjemahannya, cek klik
    https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=142945871854586&id=100084175217910
    BIOGRAFI GUS BAHA (KH. AHMAD BAHAUDDIN NURSALIM) KELAHIRAN Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling. Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin. Kiai kelahiran 1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya. PENDIDIKAN Gus Baha’ kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur’an di bawah asuhan ayahnya sendiri, KH Nursalim Al-Hafidz. Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur’an beserta Qiro’ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf. Menginjak usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha’ untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan Di Al Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari’at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir. Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau selama mondok di Al Anwar, seperti Rois Fathul Mu’in dan Ketua Ma’arif di jajaran kepengurusan Pesantren Al Anwar. Saat mondok di Al Anwar ini pula beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika arab seperti ‘Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik. Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan beliau tersebut menjadikan beliau sebagai santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di era beliau. Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan beliau ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan beliau. Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta’bir dan menerima tamu-tamu ulama’-ulama’ besar yang berkunjung ke Al Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair. Pernah pada suatu ketika beliau dipanggil untuk mencarikan ta’bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta’bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan “Iyo ha’… Koe pancen cerdas tenan” (Iya ha’… Kamu memang benar-benar cerdas). Selain itu Gus Baha’ juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa’izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. “Santri tenan iku yo koyo baha’ iku….” (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha’ itu….) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina. Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga beliau mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, beliau hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan Pesantren Al Anwar Karangmangu, Rembang. Pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA. PERNIKAHANNYA Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang, beliau menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Ada cerita menarik sehubungan dengan pernikahan beliau. Diriwayatkan, setelah acara lamaran selesai, beliau menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangan beliau hingga kini. Beliau mengutarakan bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yang glamor, bahkan sangat sederhana. Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebut. Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari. Mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan “klop” alias sami mawon kalih kulo. Kesederhanaan beliau ini dibuktikan saat beliau berangkat ke pesantren Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular alias bus biasa kelas ekonomi. Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil. KEAKHLAKANNYA Beliau hidup sederhana bukan karena keluarga beliau miskin. Dari silsilah keluarga beliau dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga di mana beliau diasuh semenjak kecil, tiada satu keluargapun yang miskin. Bahkan kakek beliau dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis perihal kesederhanaan beliau, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur’an yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya. Bahkan salah satu wasiat dari ayahnya adalah agar beliau menghindari keinginan untuk menjadi ‘manusia mulia’ dari pandangan keumuman makhluk atau lingkungannya. Hal inilah yang hingga kini mewarnai kepribadian dan kehidupan beliau sehari-hari. Setelah menikah beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Beliau menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya. Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogya dan urunan atau patungan untuk menyewa rumah di dekat rumah beliau. Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepada beliau. Ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin Al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogya saat itu. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau. Pada tahun 2005 ayah beliau KH. Nursalim jatuh sakit. Beliau pulang sementara waktu untuk ikut merawat ayah beliau bersama keempat saudaranya. Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha’ tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab beliau diamanahi oleh ayah beliau untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan. Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan beliau ke Narukan. Akhirnya para santri beliaupun, sowan dan meminta beliau kerso kembali ke Yogya. Hingga pada gilirannya beliau bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, beliau juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir Al-Qur’an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta. KEILMUANNYA Selain Yogyakarta beliau juga diminta untuk mengasuh PengajianTafsir Al-Qur’an di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Yogya minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya. Hal ini beliau jalani secara rutin sejak 2006 hingga kini. Di UII beliau adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII. Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur’an dari seantero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain. Suatu kali beliau ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur’an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar. Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional. Hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur’an. Setiap kali lajnah ‘menggarap’ tafsir dan Mushaf Al-Qur’an, Posisi beliau selalu di dua keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur’an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur’an. __________ Sumber artikel: https://www.laduni.id/post/read/66908/biografi-gus-baha-kh-ahmad-bahauddin-nursalim Wahai Pecinta Gus Baha !!! Mari miliki Al-Qur'an dan Terjemahan UII Gus Baha Tim Ahli. Gus Baha' menjadi korektor naskah sekaligus tim ahli terjemahan ini. BEBERAPA KEISTIMEWAAN DARI AL QUR'AN TERJEMAH UII- GUS BAHA' TIM AHLI 1. Memperbaiki teks terjemah Al Qur'an secara menyeluruh. 2. Memperbaharui pengesahan Departemen Agama Republik Indonesia. 3. Meneliti kembali terjemahan dengan merujuk ke kitab-kitab lama dan baru. 4. Memberi sisipan dan keterangan singkat yang memudahkan pemahaman. 5. Membubuhi catatan kaki bagi kata/kalimat yang memerlukan penjelasan. 6. Mengisi hadits yang berkait dengan suatu ayat pada beberapa tempat kosong. 7. Menyusuli penjelasan pada Mukaddimah yang dapat membantu pemahaman. 8. Menambah dengan indeks tematik sebagai petunjuk praktis tentang kandungan Al Qur'an. 9. Mengambil satu pengertian,jika terjadi ikhtilaf antara Ulama' tafsir. Edisi terbitan awal ada box-nya. Dua jilid. Sekarang edisi terbaru hanya satu jilid. "Lewat proses yang panjang dan melibatkan Tim, diantaranya saya, terbitlah terjemah (Al-Quran) versi UII. Diantara ciri khas (Al-Quran) terjemahan UII adalah bahwa bahasa arab yang tentu mengandung kesusastraan arab, balaghah, kemudian ditransfer untuk pembaca Indonesia sehingga diantara ciri khas (Al-Quran) terjemahan UII adalah dengan rasa Indonesia dan tentu tidak mengubah makna." (Gus Baha') Tebal xIiv 1.128 hlm. Ukuran 15,5 x 20,5 x 4,5 cm Harga Rp 175.000 Bisa COD/bayar di tempat Pemesanan via WA https://wa.me/6287761260500 Pemesanan via Shopee https://shopee.co.id/product/38727360/22105184919?smtt=0.38728746-1668272228.9 Al-Qur'an terjemahannya, cek klik👇 https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=142945871854586&id=100084175217910
    0 Comments ·0 Shares ·14K Views ·0 Reviews
  • Santri, Pilar Kekuatan dan Kekokohan Bangsa
    Hari Santri Nasional dirayakan semarak di sejumlah pesantren di pelosok Nusantara. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, sebanyak tiga puluh enam ribu santri terdapat di Indonesia. Presiden Joko Widodo menyebut santri ini sebagai pilar kekuatan dan kekokohan bangsa.

    Tampak sejumlah santri mengibarkan bendera merah putih saat memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2023 di Lapangan Butuh, Tegalrejo, Magelang, Jateng, Minggu (22/10/2023). Pada peringatan HSN 2023 yang mengusung tema Jihad Santri Jayakan Negeri tersebut juga ditampilkan berbagai pentas seni dan atraksi oleh santri. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/nz

    Santri, Pilar Kekuatan dan Kekokohan Bangsa Hari Santri Nasional dirayakan semarak di sejumlah pesantren di pelosok Nusantara. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, sebanyak tiga puluh enam ribu santri terdapat di Indonesia. Presiden Joko Widodo menyebut santri ini sebagai pilar kekuatan dan kekokohan bangsa. Tampak sejumlah santri mengibarkan bendera merah putih saat memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2023 di Lapangan Butuh, Tegalrejo, Magelang, Jateng, Minggu (22/10/2023). Pada peringatan HSN 2023 yang mengusung tema Jihad Santri Jayakan Negeri tersebut juga ditampilkan berbagai pentas seni dan atraksi oleh santri. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/nz
    0 Comments ·0 Shares ·3K Views ·0 Reviews
More Results
Upgrade to Pro
Choose the Plan That's Right for You
The Power of Nahdliyyin Kultural https://nahdliyyin.net