#30HM2024_Hari13_No22
Jumlah Kata: 636
TAMBAKBERAS: Menelisik Sejarah Memetik Uswah
Judul Buku: Tambakberas, Menelisik Sejarah Memetik Uswah
Penulis: Tim Sejarah Tambakberas (Heru Najib, dkk.)
Penerbit: Pustaka Bahrul Ulum Jombang
Tahun Terbit: Juni 2017
ISBN: 978-602-50064-0-1
Halaman: xiii + 467
Dari sekian banyak koleksi buku yang saya miliki, beberapa buku tebal belum selesai saya baca. Salah duanya adalah Pangeran dari Timur dan buku Tambakberas. Jika di luar sana banyak orang memilih novel untuk diulas, kali ini saya ingin menulis ulasan buku tentang Pesantren yang pernah menempa saya saat masih muda. Lah, sekarang sudah tua dong? Iya, Anda puas? Ha-ha-ha …
Enam tahun waktu yang belum cukup untuk belajar di Pesantren. Hal itu saya rasakan puluhan tahun yang lalu, sejak 1989 sampai 1995. Selama menjadi santri di pondok Bahrul Ulum, tidak banyak kisah para Kyai yang saya ketahui. Akhirnya di tahun 2017 lahirlah buku ini. Buku yang banyak mengisahkan keteladanan, mengungkap sejarah, dan memberikan pengetahuan khususnya untuk para santri.
Secara garis besar, buku ini berisi 184 judul yang terangkum dalam 3 bagian; yaitu akar sejarah 6 judul, rintisan sejarah 15 judul, dan mozaik 163 judul. Kepiawaian para penulis yang tergabung dalam sebuah tim ini bekerja sekitar satu tahun. Mereka mendapatkan kontribusi tulisan dari banyak tokoh dan ulama, antara lain: KH.Musthofa Bisri, KH. Muchid Muzadi, KH. Nasir Fattah, H. Abdul Munim DZ dan masih banyak lagi.
Buku ini sangat menarik, banyak kisah penting penuh hikmah terhampar di dalamnya. Tentu saja hal ini sangat membantu berbagai kalangan sebagai referensi saat sebuah pondok pesantren menjadi sebuah subyek penulisan sejarah. Selain model kajian tokoh pesantren, model tematik manajemen pendidikan pondok pesantren, atau pun kajian bermahfum dunia sastra yang hidup di pesantren juga terpapar di buku ini. Terlebih banyak kisah yang tersembunyi turut masuk dalam banyak judul, sehingga membuka pengalaman bagi pembaca yang tertarik untuk mengetahui, memahami, dan mengungkap sisi dalam dari dunia pesantren.
Pada bagian pertama, buku ini mengawali dengan judul ngGedang Njero, ngGedang Njobo dan ngGedang Kulon. Judul awal yang berlogat Jawa tersebut berbanding lurus dengan akar sejarah awal pesantren ini. Pondok Tambakberas didirikan oleh Mbah Abdus Salam atau Mbah Sehah sekitar tahun 1825. Mbah Abdus Salam merupakan ulama dan pendekar sakti mandraguna sekaligus panglima perang Pangeran Diponegoro. Selepas tertangkapnya Pangeran Diponegoro (1830), beliau mengembangkan keilmuannya di wilayah hutan yang bernama Gedang (orang Jawa menyebutnya Nggedang).
Tempat Mbah Abdus Salam ini kemudian dikenal dengan sebutan Nggedang Njero (Gedang bagian dalam), setelah itu Mbah Usman (menantu Mbah Abdus Salam) mendirikan padepokan baru di sebelah selatan yang disebut Nggedang Njobo (Gedang bagian luar). Selanjutnya Mbah Said menantu lainnya juga mendirikan padepokan baru di sebelah barat yang dikenal sebagai Nggedang Kulon (Gedang bagian barat).
Secara garis keturunannya, Pesantren Tambakberas memiliki hubungan dengan Pesantren Tebuireng Jombang. Dari salah satu putri Mbah Abdus Salam, terlahir Kyai Hasyim Asy’ari Pendiri Pesantren Tebuireng Jombang. Dan dari putrinya yang lain melahirkan tokoh nasional Kyai Abdul Wahab Hasbulloh (Mbah Wahab).
Mbah Wahab adalah salah satu tokoh yang mempunyai keahlian relatif lengkap. Beliau adalah seorang ulama, politisi, dan pendekar pencak yang memiliki banyak ilmu kesaktian. Pada masa penjajahan Jepang, Mbah Wahab mengumpulkan 200 tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Kauman Jombang untuk digembleng dalam bidang rohaninya dengan diberi ijazah Hizbur Rifai, Sholawat Kamilah, Hizbulbahr dan lainnya.
Setelah membaca buku ini, pembaca akan mendapatkan referensi yang komplit tentang sejarah Pesantren Tambakberas. Bahkan banyak judul yang menunjukkan sisi sejarah Indonesia, seperti Mbah Wahab; Pancasila dan Negara Islam (hal. 68), Perjanjian Renville dan Melafalkan Niat (hal. 77), Sahnya NKRI dan Pemimpinnya (hal. 96), Usilnya Gus Dur (hal. 160), termasuk terkait dengan keberadaan NU dan tokoh pesantren lainnya. Bahkan buku ini juga memuat sejumlah judul yang menunjukkan bagaimana ilmu hikmah dunia pesantren, seperti judul Serban Sakti Mbah Wahab (hal. 138), Takluknya Warok Muso (hal. 271) dan lainnya.
Dengan hadirnya buku ini, keinginan saya untuk menulis novel sejarah berkaitan dengan pesantren di Jombang semakin membuncah. Akankah bisa terwujud? Semoga ….
#30HM2024_Hari13_No22 Jumlah Kata: 636 TAMBAKBERAS: Menelisik Sejarah Memetik Uswah Judul Buku: Tambakberas, Menelisik Sejarah Memetik Uswah Penulis: Tim Sejarah Tambakberas (Heru Najib, dkk.) Penerbit: Pustaka Bahrul Ulum Jombang Tahun Terbit: Juni 2017 ISBN: 978-602-50064-0-1 Halaman: xiii + 467 Dari sekian banyak koleksi buku yang saya miliki, beberapa buku tebal belum selesai saya baca. Salah duanya adalah Pangeran dari Timur dan buku Tambakberas. Jika di luar sana banyak orang memilih novel untuk diulas, kali ini saya ingin menulis ulasan buku tentang Pesantren yang pernah menempa saya saat masih muda. Lah, sekarang sudah tua dong? Iya, Anda puas? Ha-ha-ha … Enam tahun waktu yang belum cukup untuk belajar di Pesantren. Hal itu saya rasakan puluhan tahun yang lalu, sejak 1989 sampai 1995. Selama menjadi santri di pondok Bahrul Ulum, tidak banyak kisah para Kyai yang saya ketahui. Akhirnya di tahun 2017 lahirlah buku ini. Buku yang banyak mengisahkan keteladanan, mengungkap sejarah, dan memberikan pengetahuan khususnya untuk para santri. Secara garis besar, buku ini berisi 184 judul yang terangkum dalam 3 bagian; yaitu akar sejarah 6 judul, rintisan sejarah 15 judul, dan mozaik 163 judul. Kepiawaian para penulis yang tergabung dalam sebuah tim ini bekerja sekitar satu tahun. Mereka mendapatkan kontribusi tulisan dari banyak tokoh dan ulama, antara lain: KH.Musthofa Bisri, KH. Muchid Muzadi, KH. Nasir Fattah, H. Abdul Munim DZ dan masih banyak lagi. Buku ini sangat menarik, banyak kisah penting penuh hikmah terhampar di dalamnya. Tentu saja hal ini sangat membantu berbagai kalangan sebagai referensi saat sebuah pondok pesantren menjadi sebuah subyek penulisan sejarah. Selain model kajian tokoh pesantren, model tematik manajemen pendidikan pondok pesantren, atau pun kajian bermahfum dunia sastra yang hidup di pesantren juga terpapar di buku ini. Terlebih banyak kisah yang tersembunyi turut masuk dalam banyak judul, sehingga membuka pengalaman bagi pembaca yang tertarik untuk mengetahui, memahami, dan mengungkap sisi dalam dari dunia pesantren. Pada bagian pertama, buku ini mengawali dengan judul ngGedang Njero, ngGedang Njobo dan ngGedang Kulon. Judul awal yang berlogat Jawa tersebut berbanding lurus dengan akar sejarah awal pesantren ini. Pondok Tambakberas didirikan oleh Mbah Abdus Salam atau Mbah Sehah sekitar tahun 1825. Mbah Abdus Salam merupakan ulama dan pendekar sakti mandraguna sekaligus panglima perang Pangeran Diponegoro. Selepas tertangkapnya Pangeran Diponegoro (1830), beliau mengembangkan keilmuannya di wilayah hutan yang bernama Gedang (orang Jawa menyebutnya Nggedang). Tempat Mbah Abdus Salam ini kemudian dikenal dengan sebutan Nggedang Njero (Gedang bagian dalam), setelah itu Mbah Usman (menantu Mbah Abdus Salam) mendirikan padepokan baru di sebelah selatan yang disebut Nggedang Njobo (Gedang bagian luar). Selanjutnya Mbah Said menantu lainnya juga mendirikan padepokan baru di sebelah barat yang dikenal sebagai Nggedang Kulon (Gedang bagian barat). Secara garis keturunannya, Pesantren Tambakberas memiliki hubungan dengan Pesantren Tebuireng Jombang. Dari salah satu putri Mbah Abdus Salam, terlahir Kyai Hasyim Asy’ari Pendiri Pesantren Tebuireng Jombang. Dan dari putrinya yang lain melahirkan tokoh nasional Kyai Abdul Wahab Hasbulloh (Mbah Wahab). Mbah Wahab adalah salah satu tokoh yang mempunyai keahlian relatif lengkap. Beliau adalah seorang ulama, politisi, dan pendekar pencak yang memiliki banyak ilmu kesaktian. Pada masa penjajahan Jepang, Mbah Wahab mengumpulkan 200 tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Kauman Jombang untuk digembleng dalam bidang rohaninya dengan diberi ijazah Hizbur Rifai, Sholawat Kamilah, Hizbulbahr dan lainnya. Setelah membaca buku ini, pembaca akan mendapatkan referensi yang komplit tentang sejarah Pesantren Tambakberas. Bahkan banyak judul yang menunjukkan sisi sejarah Indonesia, seperti Mbah Wahab; Pancasila dan Negara Islam (hal. 68), Perjanjian Renville dan Melafalkan Niat (hal. 77), Sahnya NKRI dan Pemimpinnya (hal. 96), Usilnya Gus Dur (hal. 160), termasuk terkait dengan keberadaan NU dan tokoh pesantren lainnya. Bahkan buku ini juga memuat sejumlah judul yang menunjukkan bagaimana ilmu hikmah dunia pesantren, seperti judul Serban Sakti Mbah Wahab (hal. 138), Takluknya Warok Muso (hal. 271) dan lainnya. Dengan hadirnya buku ini, keinginan saya untuk menulis novel sejarah berkaitan dengan pesantren di Jombang semakin membuncah. Akankah bisa terwujud? Semoga ….
0 Comments ·0 Shares ·13K Views ·0 Reviews
Upgrade to Pro
Choose the Plan That's Right for You
The Power of Nahdliyyin Kultural https://nahdliyyin.net