Tambang dan Mineral: Mitos dan Paradoks Sejarah Ekonominya
Aku beruntung saat kuliah doktoral di Paris dulu, dibimbing oleh seorang Kyai, ahli sejarah hubungan internasional, Kyai Hugues Tertrais, yang secara disiplin mengajariku untuk tertib metodologi, mesra dengan data dan ora gampang gumunan.
Coba lihat sesuatu tidak hanya dari kacamata hari ini, tapi juga lihat jejak-jejaknya di masa lalu, entah di arsip-arsip atau jejak-jejak digital, dan lalu pakai untuk proyeksikan atau justifikasikan akan sesuatu kebijakan hari ini maupun di masa depan.
Dari guru pembimbingku, aku kemudian dikenalkan lebih jauh guru-guru dari guruku sekaligus sanad atas ilmu yang kupelajari dari Syekh Pierre Renouvin, Syekh Lucien Febvre, Syekh Marc Bloch, Mbah Kyai Robert Frank, Mbah Kyai Jean-Baptiste Duroselle, dan lain-lainnya, serta tentu saja kepada Mbah Kyai Paul Bairoch - yang cukup dikenal dengan kitabnya “Mythes et paradoxes de l’histoire économique” - Mitos dan paradoks-paradoks sejarah ekonomi.
Di kitab ini pula, Mbah Kyai Paul Bairoch menjelaskan dengan sangat baik tentang mitos atau persepsi yang salah atau tidak tepat atas suatu fenomena sejarah ekonomi, dan paradoks atau kontradiksi-kontradiksi atas suatu fenomena sejarah ekonomi.
Di Bab II dalam kitab ini, Mbah Paul Bairoch, menjelentrehkan mitos-mitos besar terkait peran dari negara-negara dunia ketiga (negara berkembang) terhadap negara-negara Barat yang maju. Lebih spesifik di Chapter ke-5, beliau mencoba menjawab apakah sumber daya alam dari negara-negara dunia ketiga benar-benar dibutuhkan untuk industrialisasi negara-negara maju di Barat sana?
Beliau menjelaskan bahwa mitos paling besar disebarluaskan hari ini bahwa kemajuan dunia Barat, khususnya industrialisasinya, sangat tergantung negara-negara berkembang dunia ketiga, atau dengan kata lain, negara maju bukan karena sumber daya alamnya sendiri, tapi sumber daya alam negeri lain, atau dengan pengertian yang sama, “Jarang ada negeri yg maju karena kekayaan tambang alam. Negeri2 yg maju biasanya maju karena tambang yg lain. Yaitu kreativitas manusia.” - seperti yang pernah ditulis salah satu guruku, Mas Kyai Ulil Abshar Abdalla - maaf dengan segala hormat, tidak sepenuhnya tepat dalam sejarah ekonomi.
Lho kok tidak tepat?
Ya, karena berdasarkan data sejarah, diketahui bahwa negara-negara maju hari ini, bahkan tak lama setelah Perang Dunia I, atau setidaknyan hingga tahun 1930-an, negara-negara maju sangat mandiri atas kebutuhan sumber daya alamnya, lebih khusus terkait kebutuhan akan energi yang dikonsumsi. Bahkan, dari catatan sejarah diketahui juga negara-negara maju hari ini, bukan hanya sekadar produsen tapi juga eksportir bahan baku energi, terutamanya batubara.
Ya, batubara.
Inggris, sebagai negara maju dan dikenal sebagai pionir revolusi industri, atau paling terindustrialisasi dari negara-negara industri saat itu, yang kemudian saat ini kita labeli sebagai negara maju, ternyata pernah menjadi negara nomor 1 eksportir batubara dunia. Di tahun 1913, Inggris mengekspor setidaknya 78 juta ton batubara, atau sekitar 27% dari produksi nasionalnya. Bahkan jika datanya ditarik lagi lebih jauh di tahun 1837, dan 1882, maka diketahui bahwa Inggris sebagai negara paling maju dari negara-negara maju saat itu justru jadi eksportir utama batubara dunia, termasuk mengekspor atau mengirim batubara ke negara-negara berkembang atau dunia ketiga.
Begitu juga dengan Jerman, di tahun 1909/1911, merupakan negara produsen sekaligus eksportir batubara utama dunia, atau setidaknya 3,6% konsumsi batubara Eropa diimpor dari Jerman.
Bahkan jika dikaji lebih detil lagi, Belanda, Prancis, Swedia dan Swiss, selain Inggris dan Jerman, negara-negara maju lainnya di Eropa, juga merupakan produsen dan eksportir batubara dunia.
Dari negara-negara maju di Eropa tersebut, diketahui bahwa tahun 1909/1911, batubara yang diproduksi sebesar 546,2 juta ton, dan 110,2 juta ton di antaranya diekspor.
Saking berpengaruhnya batubara terhadap ekonomi dan sekaligus kemajuan negara-negara Eropa, Pasca Perang Dunia II, berdasarkan Traktat Paris 1951, dibentuklah organisasi internasional La Communauté européenne du charbon et de l'acier (CECA) - Masyarakat Batubara dan Baja Eropa - yang berlaku efektif sejak 23 Juli 1952, sekaligus menjadi cikal bakal berdirinya organisasi regional paling maju saat ini, Uni Eropa. Baru pada 23 Juli 2002, CECA resmi dibubarkan.
Di mana sejak 1952 hingga 2002 itu lah, batubara dan juga besi, di negara-negara penandatangan Traktat Paris, Prancis, Jerman, Italia, Belgia, Belanda dan Luxemburg, wajib dikelola bersama, diproduksi dan juga diekspor secara “supranasional”, dengan tujuan dan harapan tidak terjadi lagi perang di Eropa karena perang perebutan produksi maupun pasar batubara dan besi di Eropa maupun dunia. Dengan kata lain, di periode tersebut, batubara dan besi, merupakan sesuatu yang sangat penting bagi negara-negara maju Eropa.
Ah, itu batubara signifikan produksinya hanya di negara-negara maju Eropa!
Sik, sik, sik…
Berdasarkan data pula, diketahui bahwa pada tahun 1909/1911 negara-negara Amerika Utara (Amerika Serikat dan Canada) memproduksi 467,5 juta ton dan mengekspor 17,2 juta ton batubara. Jepang di periode tahun tersebut, juga memproduksi 54,3 juta ton dan mengekspor 3 juta ton batubara, dan Australia memproduksi 12 juta ton dan mengekspor 1,9 juta ton batubara.
Lebih jauh, Mbah Paul Bairoch njelentrehkan lebih tajam lagi, bahwa di tahun 1929, negara-negara maju Eropa Barat telah memproduksi 728,7 juta ton dan 31,5 juta ton batubara dijual ke luar kawasan, Amerika Utara produksi 873,3 juta ton dan 15,3 juta ton dijual ke luar kawasan, dan seterusnya, atau singkatnya pada tahun tersebut keseluruhan negara-negara maju hari ini, telah memproduksi 1.653,3 juta ton batubara, dan 53,4 juta ton dijual kepada negara-negara berkembang. Selanjutnya di tahun 1937, negara-negara maju telah memproduksi 1.713,3 juta ton batubara, dan 43,1 juta ton batubara dijual kepada negara-negara berkembang.
Hanya sejak tahun 1950, penjualan batubara oleh negara-negara maju mulai mengenal defisit. Di tahun 1950 ini, Eropa produksi 507,3 juta ton batubara, dan defisit atau impor lebih banyak batubara dari luar Eropa sebanyak 67 juta ton. Namun, Amerika Utara masih surplus, dengan produksi 1.195,9 juta ton dan penjualan 8,7 juta ton batubara ke negara-negara di luar kawasan.
Kemudian terkait besi dan juga baja, sebagai mineral yang ditambang, Mbah Paul Bairoch juga menjelentrehkan bahwa negara-negara maju Eropa itu lebih banyak memproduksi besi dan baja daripada mengimpornya dari negara-negara berkembang, setidaknya dari data tahun 1913, 1937, 1950, 1960 dan 1970. Baru lah sejak tahun 1980-an Eropa lebih tergantung besi dari luar kawasan atau dari negara-negara berkembang.
Namun fenomena yang terjadi di Eropa untuk kasus besi dan baja ini tidak berlaku di negara-negara Amerika Utara. Dari sejak tahun 1913 hingga 1970, Amerika Utara bisa memproduksi jauh lebih banyak daripada mengimpor besi dan baja, bahkan sejak tahun 1980, dimulai surplus perdagangan besi dari Amerika Serikat dan Canada.
Kemudian, Mbah Paul Bairoch juga menyajikan data produksi dan penjualan komersial mineral pertambangan lainnya sejak 1909 hingga 1990, selain batubara, besi, tapi juga tembaga, timah, bauksit, seng, dan mangan. Di mana untuk tembaga, negara-negara maju lebih banyak memproduksi sendiri daripada membeli dari tahun 1909 hingga 1953. Untuk seng, negara-negara maju lebih banyak produksi daripada membeli seng dari tahun 1909 hingga 1980. Untuk bauksit dan mangan, negara-negara maju justru menunjukkan peningkatan produksi daripada pembeliannya dari negara berkembang sejak tahun 1980. Hanya untuk timah saja, sepertinya negara-negara maju memang lebih tergantung kepada negara-negara berkembang.
Akhirnya, sampai di titik ini, terkait tambang dan mineral, aku jadi kepikiran kitab yang pernah ditulis oleh seorang kawan lamaku, di Universitas Cambridge sana, Ustadz Ha-Joon Chang, “Kicking Away the Ladder: Development Strategy in Historical Perspective”, yang dalam beberapa kesempatan menghantui tidurku “Jangan-jangan negara-negara maju hari ini,(berupaya keras) menendang tangga yang telah mengantarkan mereka naik kelas jadi negara maju, agar tidak bisa kita naiki, dan agar kita tetap jadi negara dunia ketiga”, termasuk tangga naik di urusan tambang dan mineral ini. Siapa tahu?
Wallahu ‘alam bish showab
Jakarta, 6 Juli 2024
Mahmud Syaltout
Al-Fakir Santri Ndhéso