Santri Berprestasi, Pesantren Keren

ILustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)
 

 

UMUMNYApondok pesantren berawal beradanya seorangn kiai di suatu tempat. Datang santri, akan belajar ilmu agama kepadanya. Makin hari makin banyak santri datang, timbulah inisiatif mendirikan pondok atau asrama di samping rumah kiai. (Majid, 1977:5)

Pada zaman dahulu, kiai tidak merencanakan, bagaimana membangun pondoknya, namun terpikir, hanyalah bagaimana mengajarkan ilmu agama, supaya bisa dimengerti santri. Para santri lalu memopulerkan keberadaan ponpes, sehingga terkenal. Contohnya pondok dibangun pada zaman Walisanga. (Wahab, 2004:153 )

Pondok Pesantren di Indonesia, memiliki peran luar biasa, baik kemajuan Islam, maupun bangsa Indonesia. Sesuai catatan, aktivitas pendidikan agama di Nusantara dimulai sejak 1596. (Prasojo, 1982:6).

Elemen-elemen ponpes beragam. Pertama, pondok, sebuah asrama pendidikan Islam tradisional, santri tinggal bersama, di bawah bimbingan kiai. Keberadaan ponpes, mengalami perkembangan, sehingga komponen-komponen dibutuhkan, makin lama lebih baik. Dilengkapi sarana dan prasarana semakin lengkap.

Kedua, masjid. Elemen tak bisa dipisahkan pesantren dan tempat mendidik para santri, terutama dalam praktik ibadah lima waktu, khutbah dan salat Jumat dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Zamakhsyari Dhofir berpendapat bahwa: “Fungsi masjid sebagai pusat pendidikan. Dalam tradisi pesantren, merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. ( Dhofier, 1983 : 49 )

Ketiga, pengajaran kitabkitab klasik. Sejak tumbuhnya pesantren, pengajaran kitab-kitab klasik, diberikan mencapai tujuan utama, mendidik calon-calon ulama. Karena itu, kitab-kitab Islam klasik, merupakan bidang integral dan ruh pesantren.

Penyebutan kitab-kitab Islam klasik di dunia pesantren, lebih populer dengan sebutan “kitab kuning”, tetapi asal-usul istilah ini, belum dikenal secara pasti. Mungkin penyebutan istilah tersebut, ruang lingkupnya dibatasi tahun karangan. Pengajaran kitab-kitab Islam klasik, oleh pengasuh pondok (Kiai) atau ustadz, biasanya dengan memakai sistem sorogan, wetonan, dan bandongan.

Keempat, santri. Santri sebutan untuk para siswa, belajar mendalami agama di pesantren. Santri tidak tinggal di asrama, biasa disebut santri kalong. Menjalani kehidupan di pesantren,santri mengurus sendiri keperluan seharihari. Santri menaati peraturan pesantren.

Kelima, kiai. Kiai tokoh sentral mengelola kehidupan pesantren. Nilai kepesantrenannya tergantung pada kepribadian kiai, sebagai suri teladan nilai budaya pesantren. Dalam hal ini, M. Habib Chirzin mengatakan, bahwa, peran kiai sangat besar sekali penanganan iman, bimbingan amaliyah, penyebaran, dan pewarisan ilmu, pembinaan budi pekerti, pendidikan beramal, dan memimpin serta menyelesaikan persoalan dihadapi oleh santri dan umat. Kiai lebih banyak berupa terbentuknya pola berpikir, sikap, jiwa, serta orientasi tertentu memimpin sesuai latar belakang kepribadian kiai”. (Habib, 1983:51)

Keenam, Peranan. Pesantren, mulanya pusat penggemblengan nilai dan penyiaran agama Islam. Namun, makin memperlebar wilayah garapannya, tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertikal (dengan penjejalan materi-materi keagamaan), tetapi mobilitas horisontal (kesadaran sosial).

Pesantren sekarang, tidak lagi berkutat kurikulum berbasis keagamaan dan cenderung melangit. Tetapi kurikulum menyentuh persoalan kehidupan masyarakat (society-based curriculum). (Mastuki, 2006:1)

Tentu, pesantren tidak bisa lagi dipandang sebelah mata sebagai lembaga keagamaan murni. Tetapi (seharusnya) dijadikan lembaga sosial hidup dan terus merespons carut marut persoalan kehidupan umat di sekitarnya.

Macam-Macam Pesantren

Seiring perkembangan zaman, banyak pesantren menyediakan menu pendidikan umum. Kemudian munculah istilah pesantren salaf dan pesantren modern. Pesantren salaf, murni mengajarkan pendidikan agama, sedangkan pesantren modern, memakai sistem pengajaran pendidikan agama digabungkan kurikulum pendidikan nasional.

Pondok Pesantren Darul Istiqomah Woro, salah satu contoh nyata, mempertahankan pendidikan salaf. Namun terbuka menerima hal-hal baru lebih baik. Mendirikan pendidikan formal, yaitu, MTs dan MA, dengan berharap semoga berdiri perguruan tinggi di pesantren.

Harapan ini jika terwujud, maka, akan berimbas pada pesantren hebat, pesantren bermartabat dan pesantren keren. Sehingga mampu menjadi santri bermanfaat keluarganya, bangsa dan negara. (*)

 

Love
1
The Power of Nahdliyyin Kultural https://nahdliyyin.net