Perspektif yang Salah dari Identitas Seorang Santri

Penulis : Al Munajib(Mahasiswa IPMAFA)

Santri? Tidak asing lagi dengan sebutan tersebut. Kehadiran Islam di tanah Jawa dengan proses yang panjang juga melibatkan para santri.

Didalam digilib.uinsby.ac.id dijelaskan bahwa “santri adalah salah satu kelompok masyarakat yang memiliki tradisi sosio-kultural yang berbeda dengan masyarakat abangan dan priyayi.” Santri adalah sebutan bagi mereka yang mencari ilmu dengan sungguh-sungguh, biasanya mereka menetap di pondok pesantren sampai mereka lulus dalam pendidikannya.

Tidak hanya mereka yang menetap dipondok pesantren yang mendapatkan julukan santri, tetapi siapa saja yang berperilaku seperti santri mereka juga termasuk santri. Santri mempunyai seorang guru yang disebut Kiai, Kiai berperan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang santri.

Ada beberapa faktor seorang santri memilih untuk mencari ilmu di pondok pesantren, karena untuk memperdalam ilmu agama, untuk mengimbangi antara ilmu agama dan ilmu umum, untuk mempersiapkan bekal di akhirat kelak melalui pembelajaran yang berkaitan dengan agama.

Di pondok pesantren juga akan terasa tenang dan nyaman karena santri-santri memiliki rasa ta’dhim terhadap para kiai mereka.

Bagi santri rasa ta’dhim terhadap Kiai merupakan suatu hal yang sangat penting, andhap ashor dan tata krama seorang santri dinilai mampu menjadi salah satu faktor ilmu yang didapatkan seorang santri tersebut barokah dan manfaat.

Dalam kehidupan di pondok pesantren sikap hormat santri kepada kiai merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan. Kebiasaan santri yang berjalan sambil menunduk dihadapan kiai, berebut mencium tangan kiai, menata sendal kiai bahkan memperebutkan sisa air minum kiai adalah sebagian tradisi pesantren yang masih ada hingga sekarang.

Bagi santri, sosok Kiai merupakan magnet yang menjadikan sebab kedatangan mereka ke pondok pesantren. Suatu ketika ada cerita seorang santri yang sangat sulit menerima pelajaran yang diajarkan Kiainya, sampai-sampai santri tersebut merasa lelah untuk mengikutinya.

Akan tetapi, santri tersebut memutuskan untuk selalu menerapkan rasa ta’dhimnya kepada Kiai. Hasilnya meskipun santri tersebut sangat sulit menerima pelajaran tapi ia mampu memperbaiki akhlaknya. Di pondok pesantren tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya, namun juga bertujuan untuk memperbaiki akhlak para santri. Akhlak merupakan suatu hal yang sangat penting jika para santri terjun dalam dunia masyarakat.

Artinya, rasa ta’dhim seorang murid kepada guru-guru merupakan salah satu pendorong kesuksesan murid-muridnya.

Dibalik keutamaan seorang santri yang mampu mengimbangi antara ilmu agama dan ilmu umum sekaligus memperbaiki akhlaknya, ada beberapa tantangan atau permasalahan yang dihadapi oleh para santri.

Permasalahan para santri yang utama biasanya adalah mudah mengantuk saat mengikuti kegiatan belajar mengajar, tetapi permasalahan yang menjadikan santri dianggap teroris. Itu bukan permasalahan yang ringan.

Melihat kembali kejadian video yang beredar beberapa hari lalu, dimana ada seorang santri yang diduga teroris oleh polisi karena membawa kardus.

Dari kejadian yang menimpa santri itu, santri bisa membuktikan bahwa ia memang bukan teroris. Ketika polisi memaksa ia membuka isi kardus dan tasnya karena tidak percaya dengan apa yang ada didalam kardus dan tas santri tersebut, ia dengan rasa sedikit kesal membuka dengan cara merobek kardusnya yang memang hanya berisi pakaian bukan berisi bom atau lainnya.

Sama halnya dengan apa yang ada di dalam tasnya. Di langsir dari AKURAT.CO, “pulang dari pondok, santri ini dikira teroris oleh polisis karena membawa kardus.

Video tersebut sudah beredar di media sosial yang diunggah oleh akun instagram @santricommunity beberapa jam lalu.

Terlihat dalam video santri dipaksa membuka isi kardus tersebut oleh polisi. Sedihnya sang polisi tak memperlakukan santri tersebut dnegan baik karena menyuruh sambil marah-marah dan memegang senjata layaknya santri tersebut teroris.”

Santri memiliki identitas ataupun ciri khas tersendiri seperti santri putra yang memakai sarung, memakai baju koko, memakai peci, dan memakai sandal jepit.

Biasanya santri ketika pulang ke kampung ia akan membawa kardus dan tas, memang itu sudah menjadi ciri khas santri. Jika ada yang beranggapan santri itu teroris, itu bukan salah pondok pesantrennya.

Pondok pesantren tidak pernah mengajarkan hal-hal yang radikal kepada santri-santrinya, tetapi diajarkan bagaimana agar tetap kokoh dengan iman mereka disaat bertemu dengan paham-paham radikal. Santri yang menjadi teroris itu kembali pada pemikiran santri tersebut sendiri, ia yang mampu menentukan jalan pemikirannya.

Didalam video yang viral tersebut sangat nampak jika polisi mengantisipasi secara penuh adanya teroris, mungkin polisis berjaga-jaga setelah adanya kejadian bom bunuh diri yang terjadi di Kota Pahlawan Surabaya.

Namun, akhir dari kejadian tersebut antara polisi dan santri yang diduga teroris mengabadikan momentum mereka dengan foto berdua. Dan kasus tersebut sudah diklarifikasi.

Suatu identitas adalah kekhasan yang dimiliki oleh seseorang. Jika seorang santri memang memiliki kekhasan seperti membawa kardus ketika pulang kampung. Itu artinya mereka sudah melekat dengan identitas yang mereka miliki. Bukan untuk menarik perhatian dan persepsi orang disekitar bahwa mereka adalah seorang teroris.

Santri juga memiliki hak untuk bersuara dan melepaskan rasa kesal mereka, ketika mereka tidak lagi dipercaya dan merasa hina jika harus disangkut pautkan dengan terorisme.

Jangan hanya melihat dari luar apa yang santri kenakan, bagian luar bisa menipu orang dan menjadikan orang tersebut berpikir negatif dengan apa yang mereka kenakan maupun berpikir sebaliknya.

(*).

The Power of Nahdliyyin Kultural https://nahdliyyin.net