Lompatan Intelektual Kaum Muda NU? (Bagian 2)

Puncak ambigu para pengikut Gus Dur, yaitu saat Gus Dur masuk ke ranah politik pasca kejatuhan Soeharto. Kader intelektual kaum muda Nahdlatul Ulama terbelah, ada yang ikut masuk politik, ada pula bertahan di jalur kultural. Sementara, aktivis yang masih bergeliat dengan wacana Post-Tradisional, juga gamang melihat partner diskusi mereka pindah ruang ke ranah politik.

Di satu sisi mulai muncul pula kaum muda nahdlatul ulama yang punya genre tersendiri. Mereka adalah junior-junior dari salah satu lembaga kultural NU, yaitu PMII. Pelan-pelan mereka mengkritik Postra. Salah satu alibinya, yaitu ambiguitas pemikiran Postra adalah mengulang ‘cacat’ pengetahuan kala orang modernis membaca orang tradisional. Yaitu kala orang postra membaca tradisi nusantara dengan kacamata ‘kuda’ poskolonial dan postmodern.

Misal, kala orang post-kolonial menggunakan Muhammad Abed al-Jabiri dengan metodologis “kritik nalar Arab”-nya, atau postrukturalis serta postmodern membaca kenusantaraan. Yang terjadi adalah wajah nusantara dikemas, didefinisikan, bahkan ‘ditaklukkan’ dengan kacamata postmodern, post-strukturalis, bahkan oleh poskolonial sendiri (pada tataran tertentu.

Mereka alfa dalam membaca sistem tanda di luar dari ruang rasio, yaitu ruang gaib atau ilmu laduni. Dalam kacamata post-kolonial, ruang gaib itu didefinisikan menurut perangkat nya datang luar nusantara. Sementara, apakah nusantara ini tidak punya histori sendiri sehingga perlu menggunakan kacamata luar nusantara (dari nalar modernis, post-modern, bahkan post tradisional sendiri).

Misal, bagaimana ketidakmampuan kacamata postra membaca karya Agus Sunyoto dalam Suluk Abdul Jalil? Mengapa, karena karya itu melampaui rasio modern bahkan postmodern. Saya sebut karya itu adalah realisme gaib, (di eropa realisme magis).

Belum lagi kebebasan berfikir anak postra kala mengkritik para kiai sepuh aswaja, mereka manantang narasi aswaja para ulama. Sementara referensi yang digunakan abid al jabiri yang dengan nyata menelurkan hasil pikiran dari pembacaan lokalitas arab, Kritik nalar arab bukannya tidak bagus, cuma kurang historis dengan kenyataan pengembangan kultural islam di nusantara.

Belum lagi senior postra yang mengemas gerakan mereka dalam wadah LSM-LSM. Sejak pra kejatuhan Soeharto, hingga masa reformasi. Para kader-kader PMII yang banyak berdiskusi dengan Hasyim Wahid (Gus Im) memandang bahwa LSM itu juga bagian dari perpanjangan tangan kaum imperialis dalam memuluskan kejatuhan Soeharto lalu masuk masa reformasi sesuai desain dan konstruk IMF dan Bank Dunia (Baca: Telikungan Kapitalisme Global, Hasyim Wahid tahun 1999).

Pengikut Gus Im ini menyangsikan postra, termasuk bentuk varian gerakan mereka, bahkan teori sosialnya. Pemikiran-pemikiran liberal dan radikal semacam Hassan Hanafi, Mahmoud Toha, An-Na’im, Arkoun, Abu Zaid, Syahrour, dan Khalil Abd al-Karim, dianggap gagal membaca kenusantaraan secara telanjang. Begitu juga dalam merespon situasi politik pemikiran sosialis-Marxis, post-strukturalis-post modern, gerakan feminisme, gerakan multikultural dan civil society tidak cukup membuka fact dan under cover fact.

Para kelompok intelektual jenis baru ini mengemas pemikiran mereka dalam Paradigma Menggiring Arus (PMA).

Paradigma Menggiring Arus (PMA)

Paradigma Kritis Transformatif yang digagas oleh Muhaimin Iskandar saat memimpin PB PMII tahun 1994-1997 dianggap tidak relevan lagi. Betapa tidak, narasi kritis transformatif yang bercorak ‘kiri’ gamang ketika Gus Dur menjadi Presiden, PMII lantas gagap terhadap situasi, di mana senior mereka yang tetiba menjadi ‘kanan’ sementara narasi mereka masih ‘kiri’.

Hal itu kemudian mendorong intelektual kaum muda nahdlatul ulama selanjutnya menggagas paradigma baru, yakni Paradigma Menggiring Arus (PMA), di gagas oleh Heri Harianto Azumi. Mereka ini kebanyakan adalah pengikut Gus Im (adik Gus Dur).

Gus Dur pernah berkata melawan pasar artinya mati, tidak melawan artinya terjajah. Dari ungkapan inilah yang melatari PMA muncul sebagai narasi alternatif pasca kritis transformatif. Para intelektual muda NU butuh pegangan paradigma yang baru dan relevan dengan situasi negara bangsa indonesia. Apalagi orang-orang NU yang dulunya kritis, malah masuk ke struktur negara, sebut saja misal Muhaimin Iskandar, Andi Muawiyah Ramli, dll.

Bukannya PMA menolak alat analisa barat (eropa), tetapi bagaimana mengembalikan batas eropa dan luar eropa ke batas-batas alamiahnya, seperti kata Hasan Hanafi. Alat analisa yang digunakan kelompok pemuja PMA, yaitu : paradigma berbasis kenyataan (reality-based paradigm) dan teori relasional.

Baca Juga: Lompatan Intelektual Kaum Muda Nahdlatul Ulama (?) Bagian I

Pertama, Hery Azumi menganjurkan agar kita mendefinisikan diri kita (dari PMII, Nahdlatul Ulama, hingga bangsa ini) ke dalam gerak sistem dunia. Seperti realita Upside Down, dimana dunia atas, terdesak untuk mengeksploitasi dunia bawah (negara ke-3) (teori ketergantungan). Begitu juga dalam perspektif world-systemizers, dunia dibagi dalam dua wilayah kerja (international of labour), yaitu core dan periphery.

Dan diantara keduanya terdapat wilayah transisi (katakanlah wilayah penyangga), yang disebut sebagai semi-periphery. Dilihat dari arus umum produksi, distribusi dan wilayah persebarannya, maka negara-negara yang tergolong dalam periphery adalah penyedia raw materials sekaligus sebagai pasar bagi produksi negara-negara yang disebut sebagai core. (Subronto Aji: Paradigma Menggiring Arus).

Berangkat dari pandangan itu, Azumi menawarkan apa yang disebutnya sebagai paradigma berbasis kenyataan (reality-based paradigm). Paradigma berbasis kenyataan adalah paradigma yang memadukan sejarah sebagai bahan penyusun dan kenyataan hari ini. Kebuntuan epistemologi modernitas, bahkan postmodern dan poskolonial sendiri di indonesia, adalah membaca realitas lokal dengan kacamata kuda, dengan menafikkan aspek yang sebenarnya.

Bukan epistemologinya yang gagal, tetapi yang bermasalah adalah individu yang menggunakan. Cenderung terjebak pada fanatisme buta pada epistemologi tertentu, entah sebagai tokoh modernis atau tokoh poskolonial.

Filsafat poskolonial ada sebuah gebrakan yang mengguncang logos di dunia ketiga, tetapi entah kenapa ketika tiba di nusantara, menjadi bias. Homi K Bhaha, Spivak tuntas membaca india dengan poskol, tetapi di sini, orang poskol membaca nusantara menggunakan kacamata realitas India, Maroko, atau Aljazair?

Di satu sisi Immanuel Kant pernah berkata, bahwa manusia hanya bisa mengetahui fenomena, sementara numena tidak bisa diketahui. Tapi menurut saya, nusantara punya corak epistemologi sendiri yang bisa menembus numene secara an sich. Yaitu epistemologi laduni yang punya historical sendiri di nusantara, itu yang khas di nusantara !!.

Nah, paradigma berbasis kenyataan itu mendobrak epistemologi yang sedang mapan-mapannya di anak muda NU waktu itu. Misal teori hegemoni Gramsci, Marx, Hasan Hanafi, Edward Said dll.

Kedua, episteme PMA merefleksi situasi membaca kenyataan indonesia dalam World-System. Cara pandang ini melompati Teori Gramsci tentang hegemoni, jika ditelisik lebih dalam pemikiran Gramsci, maka kita akan terjebak pada situasi menghadap-hadapkan Negara sebagai penguasa yang mengontrol hegemoni dan rakyat yang terhegemoni.

Cara pandang World-System, mengamati posisi Indonesia yang menjadi perpanjangan tangan asing untuk mengeruk isi perut bumi dan ekonomi nusantara. Maka negara dalam PMA adalah perebutan ruang dan medan tarung yang harus dimenangkan, bukan dibubarkan seperti utopia Marx. 

Para pakar, baik NU maupun luar NU, memandang dinamika sosial politik yang terjadi di Indonesia semata-mata sebagai gerak internal yang terputus dari dinamika global. Misal dalam buku Telikungan Kapitalisme Global, karya Gus Im tahun 1999.

Di situ menjelaskan bahwa jatuh tumbangnya Soeharto dan orde baru bukan karena gerakan mahasiswa semata, tetapi disponsori secara sistematik oleh negara adidaya, sejak selesainya perang dingin 1988. Subronto Aji pun dengan lugas berkata bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah yang manipulatif.

Ketiga, teori relasional. Dalam episteme ini, realitas lokal tidak bisa dipisahkan dengan realitas nasional hingga global. Begitu juga situasi hari ini, tidak boleh dipisahkan dengan apa yang terjadi masa lalu hingga titik terjauh. Membaca situasi nusantara, bukan dengan pendekatan-pendekatan ala sarjana barat, tetapi pure membaca kejadian di level lahiriah hingga non lahiriahnya (metafisika).

Bersambung ……………………

Zulfikarnain

Upgrade to Pro
Choose the Plan That's Right for You
The Power of Nahdliyyin Kultural https://nahdliyyin.net